Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair GilaRisalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair GilaRisalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair GilaRisalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair GilaRisalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila

Salam sastra,

Rencana awal adalah membukukan esai/artikel mengenai Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan sebagai buku pendamping antologi tersebut, namun naskah yang tersedia minim sekali maka timbul pemikiran agar rencana pembukuan tetap dilaksanakan, akhirnya esai yang ada ditambah beberapa esai lainnya yang isinya berhubungan dengan saya lalu saya terbitkan menjadi buku kumpulan esai “ Risalah Penyair Gila “ ini. Esai mengenai Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan saya muat di antologi tersebut sebagai epilog untuk cetakan yang kedua. Saya tak dapat membalas kebaikan dan solidaritas teman – teman atas esai – esai tersebut buat saya, selain mengucapkan terima kasih. Semoga Tuhan yang akan membalaskannya. Amin. Buku kumpulan esai ini adalah sebagai kenang – kenang ultah saya yang ke – 59, 31 Desember 2008.

Banjarbaru, 31 Desember 2008

Arsyad Indradi



Kamis, 15 Mei 2008

Matinya Dewan Kesenian Daerah


Oleh : Setia Budhi

Minggu terakhir Januari 2007, secara bertubi-tubi beberapa SMS merajam HP yang datang dari seseorang dengan inisial A.Ind. Beberapa kali pula SMS itu saya balas dan pada akhirnya beliau memperkenalkan diri sebagai Arsyad Indradi yang katanya lagi gundah terhadap berkesenian di kota Banjarbaru.

Tetapi apa yang disampaikan oleh Arsyad Indradi tidaklah semata berkesenian dan khususnya bersastra di Banjarbaru, dunia sastra dan kesenian nampaknya dalam keadaan yang sudah sampai pada titik jenuh, menghawatirkan, payah, parsah, luka, ngilu, pucat tak berdarah, dan menjurus pada sebuah kematian. Dapatkah tudingan kepayahan bersastra ini disampaikan pada Dewan Kesenian Daerah ? Dimanakah ruang pertapaan Dewan Kesenian Daerah ?

Menarik untuk mendiskusikan kegundahan berkesenian dengan fokus kesusastraan. Saya mengontak Ali “julak Asa” Syamsuddin dan Sandi Firly di Radar Banjarmasin, mengenai keluhan dunia sastra ini dan pada awalnya mau mengunci dengan kalimat “kalau tiada berguna bubarkan Dewan Kesenian Daerah”. Tetapi menggunakan “bubarkan” atau “pembubaran” seakan lembaga berkesenian di daerah itu sudah tiada berguna dan tidak dapat diharapkan lagi keberadaannya. Kalau sudah dibubarkan maka itu akan sama maknanya bahwa DKD sudah tidak diperlukan karena sudah mati. Benarkah ?

Dewan Kesenian Daerah, apanya yang mati. Apakah kegiatan ? program ? kelembagaan ? seniman ? kreatifitas ? keuangan ? gedung ? motivasi ? semangat berkesenian ? Penghargaan sastra ? penerbitan buku sastra ? politik sastra ? Ataukah masyarakat sastra ?

Kalau soalnya menyangkut sastra, lalu sastra apanyakah, isi, sejarah, karya, mode, sastra klasik, sastra modern ? Pengajaran sastra, buku sastra ?

Saya kira sudah sejak lama para sastrawan di Kalimantan Selatan memendam kesumat mengenai keterpasungan institusi. Keterpasungan itu bukanlah pada masalah kreativitas bersastra atau berkarya, sebab karya-karya sastra mereka berseleweran baik yang sudah dipublikasikan maupun yang masih tersimpan di bawah tumpukan kertas, meja kerja maupun yang masih berupa coretan di atas daun, di lembar bungkusan rokok. Kegelisahan itu diam-diam mengalir sunyi.

Kalau kegelisahan itu ialah soal kreativitas berkesenian yang bukan dilahirkan karena dukungan sebuah institusi yang bernama Dewan Kesenian Daerah, kalu mau dikemanakan lembaga DKD ini ?

Sastrawan besar tidak pernah akan lahir dari menista dirinya dalam menara Dewan Kesenian, tetapi ia akan menjulang tinggi karena kreativitasnya sendiri. Karya sastra seorang Pramoedya yang mendunia lahir justru dari jeruji penjara dan tekanan rezim penguasa.

Sejarah pun mencatat bahwa sebagian besar sastrawan tiada pernah lahir dari rahim birokrasi dan tiada pernah lahir dari rahim pejabat-pejabat. Sastrawan itu ataupun mereka yang memiliki karya kesenian yang besar akan lahir dari petualangan menggarap dunia, menggarap epos sosial, kemiskinan, ketertindasan, penguasa korup. Seharusnyakah sastra berpihak kepada penguasa ataukah berpihak pada ibu kandungnya sendiri yang mernama masyarakat.

Wahai, berhentilah sejenak mengunyah permen kisah cinta-cinta mistik, sebab kenapa tiada yang pernah memihak kepada racun kekuasaan yang membunuh anak-anak busung lapar, tiada yang berpihak para petani miskin dan tak ada yang peduli terhadap kerentaan hidup peminta-minta di bawah kemewahan konsumerisme. Kemewahan anggota legislatif dengan gaji dan rapelan harian dan bulanan yang menggelembung dari uang rakyat. Pun tiada yang suka dengan kemerosotan moral yang melanda tiada batas usia dan agama.

Fokus masalahnya adalah bagaimana mengharapkan produksi sastra dari sebuah duplikasi proyek kesenian dan kebudayaan di antara Dewan Kesenian kerja Dinas Pariwisata.

Dunia kesenian kemudian terguncang hebat manakala kepedulian terhadap sastra ataupun kesenian lahir hanya ketika ada sebuah “upacara” mau digelar, sekali lagi sastra baru ada ketika sebuah upacara mau diadakan. Kita lalu sibuk mematut diri, sibuk mematut jadwal dan sibuk mengatur konsumsi “dalam rangka” menyambut upacara tahun baru. Upacara Tujuh Belasan, upacara Muharram, upacara hari pendidikan, upacara Mlam Seribu Malam dan yang lain-lainnya.

Kabarnya Aruh Sastra pun telah masukdalam isu-isu politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah-Pilkada ? Tetapi apakah ini akan lebih baik dari pada tiada sama sekali ? Tetapi ya, akan lebih baik kalau berkesenian tidak dalam belenggu kegelisahan ? Kenapa mereka peduli kalau ada maunya ? Demi uang, kekuasaan atau kah proyek.

Gedung Dewan Kesenian Daerah tiba-tiba menjaedi ramai, orang-orang mulai berdatangan dan orang-orang yang tadinya tak dikenal lalu memperkenalkan diri sebagai seniman dan sibuk berjabat tangan sebagai sebuah tanda kepedulian, mengisi absen dan seterusnya. Tetapi alangkah terkejutnya ketika upacara selesai, orang-orang kembali pulang dan tak menampakkan muka bahkan membuang muka seperti tak kenal, seperti tak terjadi apa-apa pada upacara yang baru digelar itu.

Baru sekali menulis puisi, kemudian memproklamirkan diri sebagai sastrawan besar. Baru dua kali menulis cerpen, lalu menyatakan diri cerpenis besar. Sayangnya pada sebuah kabar angin, ada orang yang yang tak pernah menulis puisi tiba-tiba lancar membuat antologi puisi. Ya, tak ada sebab menulis puisi bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Tetapi kalau beberapa sajak yang ditulis orang lain lalu diakui sebagai karya sendiri. Ngiiing … telinga ini tiba-tiba mendenging.

Gedung Kesenian Daerah yang entah menempati ruang olah raga milik pemerintah daerah atau punya gedung sendiri kembali diam membisu. Aktivitas DKD seperti menemui kematiannya, kalau hanya bergantung kepada seseorang. Kasihan betul kalau nasib berkesenian menggantungkan diri pada seseorang yang “ kuncang kirap” mencari tambahan biaya untuk berkesenian ataupun kegiatan sastra.

Selama ini saya seperti termakan oleh bayang-bayang kegiatan DKD yang penuh dalam aktivitas satu tahun bahkan aktivitas bulanan dan harian. DKD dalam bayangan saya sebagai sebuah “rumah produksi kesenian”. DKD dalam benak saya adalah Rumah Budi Bahasa yang akan mengajar bahasa-bahasa manusia yang tiada berbudi budaya. Siapakah yang mengajarkan kata-kata kotor kepada anak-anak atau media masa di lembaran kriminal yang mengumbar kalimat-kalimat “Pangkung”,”Timpas”,”Bantai” ,”Leher dikampak””,”Tangan dicencang”,”Mulut ditombak”. Dan kata-kata “mutiara” itu dengan enteng digunakan pula oleh anak-anak yang sudah makan sekolahan sekalipun. Rupa-rupanya manusia sudah tak mengenal keindahan bahasa. Padahal budi bahasa budaya kita. Dapatkah hal itu dibenarkan ?

Dalam satu tahun orang-orang di Gedung DKD akan menghasilkan lusinan karya sastra seperti puisi, cerpen dan novel. Dalam setahun Gedung DKD akan memproduksi jutaan bait syair, puisi dan pantun. Dalan setahun Gedung DKD akan mencetak minimal dua belas buah Jurnal sastra karena Jurnal sastra itu terbit tiap bulan.Dalam setahun Gedung DKD akan melahirkan tarian-tarian, teater, musik-musik, lakon sandiwara dan pentas seni Dalam satu tahun DKD akan emproduksi film sejara, drama pendek atau sinetron.

Di Gedung DKD kita dapat menyaksikan pemutaran film, bermain drama dan menulis sastra. Di Gedung DKD kita dapat berdialog, diskusi dan membagi mengalaman batin kesenian dan membangun gerakan rakyat untuk menentang pengumbaran kata-kata kotor dan jorok di ruang kriminal karena hawatir meracuni budi bahasa anak-anak kita dikemudian hari.

Di Gedung DKD kita boleh membangun gerakan rakyat untuk jiwa anti korupsi, karena korupsi penyebab kemiskinan.

Karena dalam setahun Gedung DKD itu penuh kegiatan, maka di sanalah akan dilahirkan seniman besar, penulis besar dan sastrawan besar. Tetapi apakah sastrawan besar itu dilahirkan atau dibentuk oleh lingkungan yang membesarkannya ? Sudahlah, yang penting berkarya.

Suatu hari menjelang petang, saya silaturrahmi ke rumah Arsyad Indradi. Di rumah sederhana itu rupanya beliau sedang mempersiapkan antologi puisi dan kumpulan penyair Nusantara. Betapa terkaget-kaget melihat tumpukan kertas, tinta printer dan buku-buku sastra berantakan di ruang tamu beliau. Dalam pikir saya, apakah ini kantor DKD atau rumah tinggal ?

Seorang Arsyad Indradi benar-benar aneh, antologi puisi dan kumpulan puisi Nusantara itu rupanya diproduksi sendiri, antologi itu cetak sendiri dengan kertas beli sendiri dan tinta printer beli sendiri. Dan semua karya itu mau disebarluaskan sendiri. Dimanakah keluarbiasaan seniman ini ? Berkarya dalam kesunyian.

Mungkin beliau mengatakan dalam hati “jauhi sponsor, sebab karya sastra tak pantas disandingkan dengan logo produk semen “. Mungkin beliau percaya karya puisi sangat mustahil disandingkan dengan produk jamu. Sepatutnyakah kita bersedih bahwa antologi puisi kita dibiayai oleh bapak-bapak di bengkel pembuat gypsum. Bapak-bapak di bengkel sepeda motor yang tiap hari bersimbah keringat, berlumur oli dan genderang mesin rusak, lalu pada pemilik bengkel itulah kita meminta sponsor untuk membiayai cetak karya sastra.

Pemilik bengkel tersenyumkecut, sambil mengurut dada mulutnya kumat-kamit “Syukurlah aku masih hidup sebagai tukang bengkel dan sungguh mati aku tak mau jadi sastrawan.”

Maka janganlah kau samakan semangat bersastra pemilik bengkel sepeda motor yang berlumur oli atau sang penjual Gypsum dengan kiprah lembaga semacam DKD. Kau akan pernah sampai pada sejarah pendirian DKD yang dibengkokkan oleh rezim kecuali pada akhirnya hanya sebait kata-kata penuh penyesalan.

Gedung DKD terus menyimpan misteri kematian, tersebab ketika upacara mau digelar darah berkesenian mengalir dari tubuhnya. Sesudah itu, kematian akan menimpanya lagi dan lagi. Tetapi katanya, bahwa ketika upacara pun mau digelar, itu bukanlah sebuah ritual kesenian tetapi bagian dari kerja dinas-dinas kebudayaan. Apakah seniman adalah pekerja proyek ? Biarkan kalian diskusi terus sampai lupa berkarya, mungkin begitulah kata Syamsiar Seman, sebab karya-karyanya terus lahir dari penanya.

Walau aku tertikam belati, karyaku lahir dari diriku sendiri, selamat tinggal kotaku, kata Arsyad Indradi menutup SMS-nya. Dua orang itu sedang Amuk dengan karya sastra, cerita rakyat, puisi dan antologi. O, Amuk Kapak, kata Sutardji. Demikianlah.***

Kuala Lumpr, 25 Januari 2007

*) Penulis Kumpulan Cerpen Gadis Dayak 2006

( Radar Banjarmasin, Cakrawala Sastra & Budaya, Minggu 28 Januari 2007 )

Sabtu, 03 Mei 2008

Buku Arsyad


Dunia kepenyairan punya banyak ‘orang gila’. Salah satunya, Arsyad Indradi Salah satu kegilaan penyair senior Banjarbaru, Kalimantan Selatan, ini adalah rela menjual tanahnya untuk membiayai penerbitan buku antologi puisi. “ Dia sampai harus menjual tanahnya untuk buku itu, “ kata penyair Banjarmasin, Micky Hidayat.
Antologi puisi yang dibiayai Arsyad dengan sebidang tanahnya itu memang bukan buku sembarangan. Buku bertajuk 142 Penyair Menuju Bulan yang diterbitkan melalui Kelompok Studi Sastra Banjarbaru ( KSSB ) yang didirikannya itu berisi 426 puisi karya 142 penyair Nusantara sejak yang baru muncul sampai yang paling senior. Termasuk, sajak – sajak presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri.
Di tengah tebaran ratusan buku antologi sajak di Tanah Air, kehadiran buku 142 Penyair Menuju Bulan itu tentu menjadi sangat penting, karena merangkum hampir semua penyair Indonesia dari semua generasi. Buku tersebut tidak hanya telah mendokumentasikan karya – karya mereka untuk diabadikan, tetapi juga untuk dapat menjadi rujukan penting penulisan sejarah perkembangan perpuisian di Nusantara. Karena itu, pengorbanan dan dedikasi Arsyad (semoga) tidaklah sia – sia.
Selain Arsyad, dunia kepenyairan Indonesia banyak memiliki penyair yang sering menunjukkan pengorbanan dan dedikasi yang luar biasa pada sastra Indonesia. Di Mataram, NTB, misalnya, ada penyair senior Dinullah Rayes, yang sering harus menjual kudanya untuk biaya kegiatan sastra dan mengikuti acara di luar kota. Luar biasanya, meskipun rumahnya belum lama ini ludes terbakar, Dinullah masih saja dengan penuh semangat menghadiri acara – acara sastra di Jawa secara swadaya.

***

Jika inti kepahlawanan adalah kerelaan berkorban untuk bangsanya, maka Arsyad Indradi dan Dinullah Rayes adalah pahlawan sastra. Keduanya rela mengorbankan apa saja untuk ikut memajukan kesastraan bangsanya, tanpa peduli waktu, jarak, dan usia. Apa lagi sekadar berkorban harta, mereka akan rela – rela saja.
Karena itulah, ketika menjadi pembicara pada The Ist International Poetry Gathering di Medan tahun lalu, saya sempat mengusulkan agar pemerintah dapat memberikan penghargaan khusus untuk penyair – penyair seperti Arsyad dan Dinullah. Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film, Mukhlis Pa’Eni, yang saat itu tampil sebagai keynote speaker, menyambut baik ide tersebut. Namun, realisasinya memang masih harus kita tunggu.

***

Sejak tradisi penulisan puisi tumbuh subur di Indonesia, sejak akhir dasawarsa 1980-an, khasanah sastra Indonesia sudah disemaraki buku – buku antologi puisi ( bersama ) dan kumpulan puisi ( tunggal ) yang diterbitkan secara swadaya, sejak edisi stensilan sampai cetak mewah.
Buku – buku semacam itu makin marak saja ketika kantong – kantong dan komunitas – komunitas sastra bertumbuhan di Tanah Air, sejak awal dasawarsa 1990-an. Tiap kantong dan komunitas sastra seakan berlomba –lomba menerbitkan buku antologi puisi secara swadaya, baik secara patungan maupun atas bantuan sejumlah donatur. Tidak kurang pula jumlah penyair yang menerbitkan karya – karya sendiri dengan biaya sendiri.
Jika dihitung secara cermat, jumlah buku semacam itu mungkin sudah mencapai ribuan. Pada periode antara 1992 sampai 1994 ( dua tahun ) saya pernah mencoba mengumpulkan buku – buku puisi swadaya semacam itu untuk bahan kajian. Tapi, karena jumlahnya membludak, saya kewalahan. Akhirnya, banyak yang terpaksa saya relakan untuk pemulung, dibawa siapa saja yang tertarik, dan sisanya hanya teronggok bisu di dalam sejumlah kardus.
Sebenarnya sangat menarik untuk meneliti dan mengkaji sajak – sajak yang terkumpul dalam buku – buku swadaya semacam itu. Saya yakin, di dalamnya tersimpan kanon – kanon yang potensial untuk menjadi tonggak perkembangan perpuisian Indonesia. Tetapi, memang dibutuhkan kerja berat yang pasti sangat melelahkan.
Mungkin karena itu, hingga kini belum ada peneliti maupun akademisi sastra yang mengkaji sajak – sajak dalam buku – buku puisi swadaya itu secara sungguh – sungguhdan komprehensif. Ada yang sempat membicarakan kesemarakan buku – buku puisi itu, memang, semisal Budi Darma. Tetapi, mungkin karena hanya berdasar pembacaan sepintas dan kurang menyeluruh, hasil analisisnya kurang memuaskan.

***

Di dunia penerbitan komersial, buku kumpulan sajak mendapat stigma sebagai buku yang tidak laku. Karena itu, buku kumpulan sajak dari penerbit komersial jumlahnya sangat terbatas. Karena itu pula, justru buku – buku antologi dan kumpulan puisi swadayalah yang sebenarnya lebih mewakili realitas perkembangan perpuisian Indonesia.
Namun, sayangnya, buku – buku puisi swadaya justru cendrung terlewat dari perhatian pengamat, akademisi, dan lembaga pemberi penghargaan sastra. Karena itu, sejarah perpuisian Indonesia yang disusun oleh akademisi sastra bisa jadi hanya ‘ sejarah semu ‘. Sebab, fakta sejarah yang paling mendekati kebenaran justru tersimpan dalam buku – buku puisi swadaya yang terlewat dari perhatian para penyusun sejarah sastra kita. *


( Ahmadun Yosi Herfanda )

Dari : Harian Republika, minggu, 24 Februari 2008 dan http://www.republika.co.id

Sabtu, 19 April 2008

Rasa Trenyuh dan Kegilaannya


Saya “temukan” lelaki seniman ini di Banjarmasin. Setelah mengenalnyahanya lewat koresponden yang sederhana, tiba-tiba saya mendapatkan sosoknya di lobi hotel tempat saya menginap. Kisahnya, melalui Isbedy Stiawan saya mendapatkan nomor kontak Micky Hidayat, penyair aktivitas Taman Budaya Kalimantan Selatan. Setelah bertemu dengan panitia Kongres Cerpen Indonesia ke-4 itu, saya dijanjikan akan bertemu dengan Arsyad Indradi yang menjadi penggagas, penyunting, dan penerbit buku 142 Penyair Menuju Bulan.

Saat bertemu malam itu, saya dipeluknya hangat. Bagai dua orang saudara yang sempat terpisah jauh, dipenuhi kerinduan. Padahal malam itu pertemuan kami yang pertama. Sebelumnya hanya melalui perlawatan karya.

Dialah, Arsyad Indradi ! Penyair yang nyaris mengabdikan hidupnya kepada keindahan puisi, tanpa berniat merengkuh duniawi. “ Saya sangat kaya, bung ! katanya dengan tersenyum yang selalu merekah di antara jenggut lebat putihnya. Saya sedikit mengerutkan kening, sebelum ia melanjutkan :” Batin saya sangat kaya, sahabat saya di mana-mana. “

Demikianlah, cara berpikirnya sangat sederhana. Lelaki yang lahir 31 Desember 1949 ini cukup “gila” dengan menerbitkan antologi puisi 142 penyair Indonesia atas biaya sendiri. Dicetak 200 eksemplar dengan cara yang betul-betul indie : ketik sendiri, setting sendiri,cetak sendiri, desain kaver sendiri, jilid sendiri …. Setelah jadi, 142 eksemplar dia kirimkan kepada masing-masing penyair, juga ayas biaya sendiri. Selebihnya untuk sejumlah perpustakaan dan para sahabat.

Lima belas juta rupiah,” jawabnya santai saat saya tanya modal yang harus dikeluarkan. Saya kira ini sebuah dedikasi luar biasa, tidak main-main, mengingat buku itu tidak dijual dan dia bukan orang yang berlimpah uang. Secara formal ia bekerja di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional, sebagai Pengawas Seni Budaya wilayah Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan.

“ Saya punya komunitas, namanya Kelompok Studi Sastra Banjarbaru. Saya dirikan bertepatan dengan ulang tahun saya, di penghujung 2005.” Katanya penuh semangat.

“ Wah, hebat. Berapa anggotanya ?”

“ Tiga orang !”

Benar-benar “gila”, saya rasa. Mungkin sikap melitansi pada sastra yang membuat ia memilih bertiga saja. Kedua anggota yang dimaksud adalah Harie Insani Putra (anak angkatnya), dan Hamami Adaby (sahabat dan seniornya yang kini terserang stroke). Akan tetapi mereka selalu membuat semacam acara berkala yang menghimpun para kaum muda peminat sastra untuk sama-sama berlatih menulis puisi dan membaca puisi. Kadang-kadang berdiskusi tentang perkara sastra yang sedang hangat hingga larut malam.

Setiap ada kawan penyair atau cerpenis dari luar kota yang datang ke Banjarmasin, ia usahakan sepenuh hati untuk dapat menemuinya. Iwa silaturrahmi melekat padanya. Dan ia buktikan dengan meminta teman-teman dari pelbagai provinsi di Indonesia mengirimkan puisi kepadanya, untuk dikumpulkan dalam satu bunga rampai yang tebal. Ketika Sutardji Calzoum Bachri ke Kotabaru Kalimantan Selatan, disempatkannya untuk minta satu-dua puisi. “Saat itu,” kenangnya.”Dia menulis puisinya dengan tangan. Dia hapal di luar kepala. Saya begitu senang karena Sutardji jarang mau diminta untuk bergabung dalam satu antologi dengan penyair yang tidak semuanya senior.”

Saya percaya itu. Ingat Tonggak ( I sampai IV), antologi puisi yang cukup lengkap mendokumentasikan karya penyair Indonesia ? Di sana tak ada puisi Sutardji. Tapi saya tak heran, karena Arsyad Indradi memang memancarkan aura kehangatan seorang sahabat. Hatinya lembut meskipun penampilannya boleh dicurigai sebagai tokoh ekstrim kanan.

Mari kita buktikan dengan percakapan saya dengannya mengenai situasi “panas” antarkubu komunitas di Jakarta. Ada gerakan yang sedang menyerang “dominasi” Komunitas Utan Kayu. Bagaimana pun ia sempat menjadi saksi saat hadir dalam acara Pekan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri bulan Juli lalu.

“Bagaimana kesanmu terhadap suasana kebudayaan di Jakarta ?”

“Sangat disesalkan sikap-sikap permusuhan itu. Kami datang dari daerah, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, untuk menghormati penyair besar Sutardji. Tetapi kawan-kawan di Jakarta justru tidak memberikan rasa hormat pada Sutardji. Pembacaan puisi mereka ditunggangi oleh ungkapan provokasi. Saya tahu ada pihak yang diserang, tapi seharusnya jangan di forum yang sakral itu. Saya tak tega, trenyuh dan hampir menangis, melihat Sutardji di antara penonton baris depan. Seharusnya ia menikmati pertunjukan yang indah”.

“Jadi apa harapanmu terhadap sastra dan para penyair Indonesia ?”

“Janganlah kita memiliki jiwa yang kerdil. Berkarya saja yang bagus. Majukan seni sastra Indonesia. Sastra kita masih kalah kualitas dibanding negeri-negeri lain, jangan diperburuk dengan sikap yang kontraproduktif.”

“Jadi apa tujuan mengumpulkan puisi para penyair dalam satu buku ?”

“Tentu untuk dokumentasi karya sekaligus persahabatan. Saya mengundang semua penyair yang cocok dengan batin saya.”

Rasanya hampir semua diundang, meskipun tidak seluruh yang mengirim tertampung dalam buku itu. Menurutnya, itu juga karena sejumlah puisi berada di bawah standar, bukan bermaksud menolaknya. Dengan kata lain, sahabat Arsyad Indradi begitu banyak dan tersebar di seluruh Nusantara.

Kegiatan sehari-hari selain sebagai pegawai negeri adalah mengajar sastra dan pengembangan diri untuk anak-anak SMP dan SMA secara ekstra kurikuler. Pergi ke mana-mana dengan sepeda motor dan topi yang setia menutup kepalanya. Usianua mungkin tergolong tidak muda lagi, tapi senantiasa tampak bugar. Mungkin karena selalu berpikir positif dan menyambut akrab setiap sastrawan yang ditemuinya.

“Jangan lupa, ditunggu kalian pada acara Kongres Cerpen Indonesia di Banjarmasin bulan Oktober nanti,” pesannya pada saya. Tapi sesungguhnya itu pesan kepada semua cerpenis Indonesia dan para pegiat sastra yang lain.

Arsyad Indradi, penyair yang tinggal di Jalan Pramuka no.16 RT 03/RW 09 Banjarbaru Utara Kalimantan Selatan itu, memamng selalu ingin terus memperkaya batinnya. Dari hari ke hari.

*KURNIA EFFENDI*

Penyair,redaktor Tabloid Mingguan Parle, Jakarta

(No.100 Th.II 6-13 Agustus 2007, ha.16)

SETANGKAI BUNGA DALAM SERIBU AROMA EKSPRESI CINTA LELAKI BANJAR



Oleh : Diah Hadaning

... Sempurnakan jerit setangkai bunga/Agar mimpi jangan gelisah/Waktu pagi dibasuh tangisan kecil/Tapi aku tak ingin siapa pun/Mengusik ujung kelopaknya/Sebab setiap tetes embun/Adalah suara rintihan riwayat/Kerinduan/ Tak perlu jambangan/Sebab akulah jambangan setiap rintihan/Tuhan kutaruh keyakinan/Jangan kau sembunyi di balik anganangan...” Ekspresi cinta atau kata-kata pujangga yang sarat makna ? Tentu hanya sang penyair dan Tuhan yang mengetahui. Pembaca adalah penikmat yang ‘ bersih tanpa pisau bedah, membiarkan hati terbuka.

Romansa Setangkai Bunga “ yang diangkat dari judul puisi pertama merupakan ‘pernyataan’ penyair pada dunia (seni) yang mengetengahkan etika dan estetika serta tetap percaya pada kata, modal penting bagi penciptaan puisi.

Jagad kecil dan jagad agung yang menyatu, sang diri dan Tuhannya yang saling tahu, nyata sebentuk keindahan yang tak akan pernah pudar dari jagad kepenyairan seseorang. Semua bisa memesona manusia dalam ‘seruas waktu’ : pagi,embun, bunga, mimpi, kerinduan, tempat, dan jiwa, adalah nuansa percik-percik kasih sayang.

Bagi seseorang, banyak cara untuk mewujudkan mimpi yang menyatu dengan kenyataan serta harapan. Puisi merupakan salah satunya selain sebagai saksi jaman dan saksi perjalanan usia. Bagi Arsyad Indradi ( Barabai, 1949 ), puisi mempunyai makna yang cukup pribadi. Manusiawi jika seorang penyair juga ingin mengenang masa muda, bagian awal dari perjalanan panjang anak manusia dalam menjalani kehidupan. Tentu saja termasuk di dalamnya, persahabatan karunia yang memperkaya jiwa – dan juga kebersamaan yang selalu menambah pengalaman, itu memberi nuansa kebahagiaan tersendiri.

Hal-hal itulah yang ingin dituangkan penyair dalam antologi puisinya berisi 85 judul bertajuk ‘ Romansa Setangkai Bunga ‘. Menikmati ‘ bunga rampai album puisi cinta Arsyad Indradi’ yang bertitimangsa periode 1970 – 1979, 1980 – 1988, 1993 – 1998, dan 2000 – 2006, pembaca dibawa memasuki taman bunga dunia kata. Yang terhampar adalah warna-warna yang elok, bersih, dan santun. ‘Pakem’ perpuisian merupakan suatu nilai yang tetap dipertahankan sang penyaair.

Sebagai puisi bernuansa cinta tentu banyak ungkapan tentangnya seperti terwakili dalam kata-kata cinta, asmara, rindu, sunyi, senyum., tangis, dan isak sembilu mendaki mimpi-mimpi (spesifik Arsyad ?). Juga bisa ditemukan idiom-idiom yang unik seperti larva bintang, semak ganggang, serbuk bintang, serbuk ganggang, musik batu kolam (sebuah judul puisi hlm 80, ditulis 1985).

Lebih lama menyimak lebih terasa nafas konfensional yang nampaknya memang menjadi bagian dari gaya penyairnya. Namun ada juga yang terasa kenes seperti diwakili oleh judul puisi Di Kolam Garden City Waktu Pagi, Aku tersesat dalam Gumpalan Pekat, Renjana, puisi-puisi yang ditulisnya tahun 1977, pada saat penyair berusia 28 tahun.

Puisi-puisi dalam ‘RSB’ sesuai dengan maksudnya, kental dengan aroma cinta. Sebagai contoh, Puisi Kau Kirim Gerimis memuat impian-impian yang wajar pada orang muda usia (21 tahun). Tapi ia juga telah bicara tentang ajal, kegamangan serta kecemasan-kecemasan. Semuanya menjadi bagian dari nuansa jiwa seorang penyair, sedang tumbuh maupun telah menemukan ‘dunianya’.

Di tahun 2006 pada saat penyair berusia 57, masih menunjukkan gairah jiwa muda ‘ yang kaya aroma anggur ‘ masih tersimpan hasrat indah ingin memetik dengan lembut bunga-bunga yang bermekaran di hati “sang kekasih’ dan masih memiliki semangat ‘menangkap’ suatu yang bermanfaat bagi dunia kehidupan. Setiap insan yang menjalani kehidupan dan mengusung misi NYA, bukankah harus menjaga yang satu ini ? Menangkap yang bermanfaat !

Ada lagi pada hlm 22, sebuah judul yang akan ada dan terjadi sepanjang jaman, di setiap mana, di setiap siapa, yaitu ‘Kisah Kasih di Suatu Taman’ – sebuah pesona peristiwa kejiwaan, sebuah lukisan indahnya kesetiaan, yang mengingat terbatasnya ruang bisa dikutipkan sebagian dari puisi tersebut. “ Asmara tiada pernah mengenal musim/Bersemi pada siapa pun dalam kehidupan/Mekar dibungakan/Dan wangi pun diharumkan/ ...” Sebuah kisah yang bisa dialami siapa saja ( tanpa beban dosa ? ) – tentunya jika oleh mereka yang masing-masing masih ‘sendiri’. Dalam pengertian, menjalin kisah tanpa merugikan dan menyakiti sesama, bukan ? ( Wahai penyair, jika itu yang dimaksud, itulah keindahan sejati ! ).

Ya, insan seni dalam konteks ini penyair, adalah pencatat jaman, perekam sejarah dalam skala mikro maupun makro. Seniman (sastra) adalah manusia yang diberkahi, maka ia punya pertanggungjawaban moral kepada sang Pemberi, kepada bangsa dan negeri, tempat ia tumbuh, hidup dan berkembang, dan tentunya kepada nurani sebagai insan yang tahu berterimakasih kepada Penciptanya. Arsyad sangat menyadarinya. Menyadari bahwa dunia penyair adalah ‘dunia kata-kata’ maka ia memberi tempat dan kepercayaan yang baik kepada kata-kata.

Arsyad yang baru saya kenal lewat nama dan karya, pada saat saya menulis ini, terasa sekali kami bagaikan sedang berdialog, tukar pikiran, saling memahami dan bisa saling mengerti pada bagian-bagian tertentu. Sepertinya saya bisa meraba hatinya, menggarisbawahi pemikirannya ( ya, tulisan/catatan ini lantas menukik lantaran saya bukan kritikus tapi sesama pelaku seni yang ketemu mitra sewawasan ), jadi perasaan lebih ikut berperan. Bukankah begitu mitraku penunggu bumi Kalimantan yang tetap setia ?

Kita sama-sama tahu bahwa insan seni bukan penonton di pinggir gelanggang melainkan pelaku peristiwa di gelar arena kehidupan. Ia juga bukan pejalan kaki di trotoar yang lewat sesaat lalu hilang bersama perjalanan waktu. Masalahnya adalah bagaimana menjaga semuanya ini relatif berdaya guna baik bagi diri maupun sesama.

Saya yakin setiap penyair yang berangkat dari sebuah kesadaran dan bukan dari ‘ sekedar ‘, sepanjang usia proses kreatif yang tak kenal henti akan selalu berjuang di arenanya untuk tidak pernah ‘ merasa lelah ‘. Senantiasa memadukan intelektualitas, pengalaman hidup ( lahir batin ), keterampilan ‘ mengendalikan ‘ kebahasaan dengan segala perniknya, kemudian membingkai motivasi diri. Semoga puisi tetap mampu bicara dengan caranya sendiri, mampu menjembatani segala hati, meskipun bukan tandingan bagi amunisi. Salam kreatif dari seberangt.

Bogor, awal musim tahun 2007, Pengelola Warung Sastra DIHA, Depok Bogor.

PUISI – PUISI DIMENSI ! SIMPAN RUH BUMI KALIMANTAN


Oleh : Diah Hadaning

Catatan khusus tentang antologi puisi sepuluh penyair Banjarbaru ( Arsyad Indradi, Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, Hudan Nur, Isuur Loeweng, S.Fatimah Adam, Harie Insani Putra, Nina Idhiana, Syamsuri Barak, Ali Syamsudin Arsi ) ini, merupakan jembatan panjang persahabatan sastra antarkawasan. Catatan dari Warung Sastra DIHA. Buku dengan tebal 108 halaman yang dieditori Ogi Fajar Nuzuli diterbitkan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (2005), ini baru merupakan sebagian peta kepenyairan Kalsel khususnya Banjarbaru.

Ada beberapa hal khusus yang bisa kita garis bawahi selama membaca dan menikmati karya – karya terhimpun dalam DIMENSI. Antara lain, bahasanya yang tetap santun, tema – temanya tetap bebas dari aura GSM atau Gerakan Syahwat Merdeka. Di luar DIMENSI adalah di luar koridor antologi ini. Nampaknya, sepuluh nama dalam kebersamaan ini tetap memegang etika dan estetika dalam menoreh karya, meski ada ‘ lesensia poetika ‘, hal yang sangat dibanggakan para ‘penyair’ yang memberhalakan kebebasan.

Kita temukan nafas cinta kota kelahiran, hulu dari rasa cinta tanah air, seperti kita baca pada puisi ‘ Perempuan Itu Bernama Pertiwi’ (hl 9), ‘ Notasi di Atas Kota(hl 16),Cikang’ (hl 19), Khasidah Kemerdekaan’ (hl 36),Tafsir Sebuah Kota’ (hl 37), ‘Banjarbaru Kota Pendidikan’ (hl 49),’Kotaku Indah’ (hl 53), ‘Banjarbaru’ (hl 68),’Kubangunkan Banjarbaru’ (hl 93), sayang tak mungkin WSD kutipkan lengkapnya puisi – puisi tersebut atau dengan kata lain pembaca harus membaca langsung DIMENSI (2005).

Modernisasi, teknologi, kemajuan di satu sisi, menghadirkan ‘kehancuran’ di sisi lain yaitu nilai – nilai tradisi yang menafasi eksistensi bangsa ini, yang menjaga ‘mahkota jiwa’ bangsa ini. Penyair dalam DIMENSI bukan tak menangkap fenomena ini. Muncul pula kritik – kritik kepada atau terhadap perwujudan yang banyak ‘membunuh’ – menghilangkan – bahkan ‘menindas’ ruh yang hidup oleh mantra – mantra ( yang ikut jadi korban ) budaya modern yang kontroversial dan membuat banyak ‘manusia’ jadi marjinal (hl 25,27). Ya, kritik keras terhadap perilaku manusia pengusung peradaban baru. Semua itu menimbulkan kegetiran, parodi karena tak berdaya menepis keangkuhan yang merajalela berpasangan dengan kerakusan duniawi yang kini sering dijadikan ‘panglima’. Tertera pada hal. 22 misalnya, merupakan protes keras pada pelaksanaan pelestarian lingkungan hidup namun dalam bahasa yang tetap santun. Lebih merupakan mawas diri atas ketidakberdayaan menghadapi kondisi dan situasi yang menghampar.

Pilihan tema yang beraneka seperti, kerinduan pada Tuhan, rindu perubahan, lingkungan hidup, juga tak meninggalkan tema – tema indahnya persahabatan, cinta kota kelahiran bahkan dalam memaknai kemerdekaan. Pula kemerdekaan daqlam berkarya yang tetap berada dalam koridor etika dan estetika. Dalam DIMENSI ‘ruh bahasa’ tetap dijaga para penyair sepuluh nama. Bahasa memang menunjukkan bangsa. Dalam bahasa ada ‘mahkota’.

DIMENSI berhasil menepis perbedaan senior – yunior. Penyair dalam DIMENSI benar – benar lintas generasi yang menampilkan kebersamaan. Mereka yang lahir antara tahun 1938 – tertua ( E.Thabri Husano ) dan tahun 1987 – termuda ( Nina Idhiana ) merupakan hutan humus Kalimantan, tetap menyimpan harapan masa depan. Sementara Si Abah ( Arsyad Indradi – 1949, Barabai ) yang menyimpan ‘ruh pamong’ terwakili dalam sajaknya SEBUAH KATA YANG PECAH (hl 15) menurut kacamata WSD, coba kita nikmati : Kueja setiap ziarah ayat batumu/ Rekuiem isak bumi / Bumi yang menapaskan ruh / Yang senantiasa kunapaskan / pada namamu / Kubangun kecemasan / Karena kehilangan alifmu / di setiap pintu rumahmu / disetiap aku menyeru / Aku rebah di bumi / Rebah menciumi tapakdemitapak kakimu / Menciumi rahasia katademikata/ yang kau tebarkan di sajadahmu / Aku rebah di sebuah kata / yang kau ayatkan pada napasku //.

Menulis panjang banyak diminati ( dalam DIMENSI ). Bisa kita temukan pada Perempuan Itu Bernama Pertiwi ( Indradi ), Leluhur, Sebab Aku Bukan Orang Bukit, Rumah – Rumah Padang Ilalang, Guru Para Penyair Berkata, Indonesia Dalam Kaca Mata Luka ( Arsi ), Sebuah Kota Menggesek Biola Ajaib, Orkestrasi Danau Air Mata, Tafsir Sebuah Kota, Improfisasi Abad – Abad Kehidupan, ( Husano ), SDM, Andai ( Fatimah ), Aku Menulus, Intan, Atikah, ( Hamami), Kemusnahan Peradaban Bukit, Demam Peluru Hujan ( Harie ), Auraku Terukir di Prasastiku ( Hudan ), Yang Ada Di Antara Mimpi, Aku Berdiri Di Antara Butiran Cinta ( Isuur).

Sajak – sajak pendek menarik juga kita nikmati dalam DIMENSI. Keangkuhan Malam I, Epigram I & II, ( Hudan ), Penat ( Nina ), Kubangunkan Banjarbaru, Dia Yang Kucari, Aku Ingin Cinta-Mu ( Samsuri ). Kita nikmati satu di antaranya, Epigram Nasib I dari Hudan : riak aliran sungai itu menghempaskan aku ke batu – batu kasat / dari satu sudut ke sudut lain / juga menghalau dayungku dari kanan ke kiri // Ada sesuatu yang patut digarisbawahi adalah : Kebahasaan yang mendukung ide – ide penyair dihadirkan secara sederhana namun bermakna, gambaran dari dunia tradisi yang khas ( Kalimantan Selatan ). Sajak – sajak rimbun dan panjang masih simpan misteri bumi Kalimantan. Dan catatan ini, ruh di seberang yang menyapa ruh kata – katamu.

( Catatan Dari Warung Sastra DIHA, Depok- Bogor )

Nyanyian Seribu Burung: Dari Relasi Manusia Hingga Narasi Indonesia





Oleh: Yusri Fajar

(Penyair dan Staf Pengajar Program Bahasa dan Sastra

Universitas Brawijaya Malang)


O, hati dan jiwaku/

Bernyanyilah dari bungabunga cinta/

Yang mekar dari kelopakkelopak kamasutra/

Wahai hidupku kitalah pengembara/

Setiap kepak sayap dan kicau

Ke puncakpuncak imperium cinta/

Wahai. (Arsyad Indradi, 1971, Imperium Cinta)


Dalam jagad kepenyairan, satu hal yang tak bisa terelakkan adalah pengembaraan batin. Melalui selaksa kata yang kaya makna, imaji dibawa dalam sebuah kontemplasi yang berisi fenomena manusia dan lingkungannya. Perjalanan seorang penyair ibarat air mengalir, melalui sungai dan laut kehidupan yang penuh kisah-kisah bahagia dan luka. Waktu yang terjaga menjadi kisaran bagi mata batin dan mata pena untuk berpaut menelusuri kisah-kisah itu lalu menuliskan bagian-bagian alurnya dalam rajutan kata-kata padat yang memiliki kekuatan estetika.
Memasuki dunia puisi, jangan pernah bermimpi seperti berkelana di dunia ilmiah yang dipenuhi oleh hipotesis dan kesimpulan yang bisa diukur dengan teori dan rumus-rumus matematis dan pasti. Sebaliknya, dunia puisi adalah dunia kata penuh metafor dan simbol yang membutuhkan perasaan untuk mencipta dan membacanya. Penyair bermain–main dengan dunia kata sehingga kadang ia dianggap ‘gila’. Pikiran-pikirannya melampaui batas-batas kesadaran. Untuk menyelami makna puisi seringkali dibutuhkan lebih dari sekali proses pembacaan.
Imajinasi penyair melanglang-buana kemana-mana ibarat burung, menyuarakan kata hati dan jiwa lewat puisi. Dan untuk mendiagnosa imaji dalam puisi tak perlu bersusah payah menghadirkan pakar ilmu kedokteran karena puisi bukanlah gejala yang penuh kepastian tanda. Puisi adalah entitas yang memungkinkan kelahiran berbagai arti dan makna. Penyair Arsyad Indradi menyinggung perihal ‘kegilaan’ seorang penyair dalam salah satu puisinya yang berjudul ‘Ruh Puisi’. Gilamu tak mungkin disembuhkan/kecuali melalui perenungan/maka lahirlah sebuah pemikiran/seperti apa kata hatimu. Tetapi penyakit gilaku kambuh kembali/ketika merasuki jiwa sang penyair/yang sedang menatap kehidupan semesta ini. ‘Kegilaan’ disini tentu bukan berkaitan dengan penyakit lupa ingatan tapi lebih pada kebebasan bersuara dan bergumul dengan tema dan kata. Dan penjelajahan atas puisi-puisi pun harus segera dimulai dengan membawa turut serta perasaan, pengalaman dan pengetahuan.
Membaca satu persatu puisi dalam antologi Nyanyian Seribu Burung karya Arsyad Indradi, penyair Banjarbaru, pembaca akan dihadapkan pada tamsil-tamsil kehidupan sekaligus guratan penjelajahan atas eksistensi dan relasi diri manusia, lelana atas kota-kota dan juga Indonesia, tanah air di mana penyair hidup di dalamnya. Arsyad Indradi melukiskan perjalanan kehidupan ibarat kapal yang sarat dengan riwayat. Dan dengan kata-kata pula maka makna-makna dalam sebuah riwayat akan terasa hidup dan menggeliat. Bila manusia telah berangkat mengarungi proses kreatif dan tugas lainnya sebagai hamba Tuhan maka ia, dengan keteguhan, tak perlu mudah berhenti bahkan kembali.. Di mana kita menambatkan keyakinan/maka layar telah kita kembangkan/sebab laut adalah sebuah perjalan panjang/yang mesti kita tempuh/dan kita tak perlu lagi berpaling (Puisi: Antara Kapal Berlabuh). Seorang penyair atau siapa pun juga mengemban tugas menjalankan potensi yang ada pada dirinya untuk menggapai harapan-harapan dengan kesungguhan.
Manusia selain mempunyai kebutuhan memberdayakan diri melalui kerja juga mempunyai kebutuhan untuk membangun relasi dengan sesama (horisontal) maupun dengan Tuhan (vertikal) dalam hidupnya. Dalam Antologi Nyanyian Seribu Burung hubungan antar sesama manusia dan manusia dengan Tuhan tertuang dalam beberapa puisi yang ditulis penyairnya melalui bahasa yang kuat metafor-metafornya. Kesadaran akan hubungan sosial dan hubungan dengan Tuhan menempatkan penyair dalam dua dimensi hidup yang diyakininya: dunia dan akhirat. Tuhan, pencipta manusia, adalah dzat yang harus selalu diingat. Lilin merah berkalikali dipadamkan angin/entah apa setiap kunyalakan/aku ingin dekat denganMu. Dedaunan pinus berdesir/kusembunyikan degup jantungku/dalam hamparan sajadahMu. Setiap untai zikir/sukma sejatiku/tak letih menunggumu. (Puisi: Malam Hening). Hubungan dengan Tuhan atau ibadah yang dilakukan secara tulus, ikhlash dan khusyu’ bisa menjadi sebuah energi tiada terkira. Pengakuan atas eksistensi dan kuasa Tuhan akan membawa manusia pada pemahaman akan eksistensi dirinya. Rasa dan emosi yang dalam kadang tak terbendung bila rindu akan Tuhan menyerbu dan ingin mengadu. Sajadahku basah oleh airmataku/Denyut jantungku luluh dalam zikirku. Wahai malam hening, lebih ke dasar lagi/karena aku nikmat dalam tawa dan ratapku. (Puisi:Nikmat Dalam Tawa dan Ratap)
Sementara kesadaran sosial Arsyad Indradi terlihat dalam puisi-puisinya yang lain, misalnya Penarik Becak, Kuli Pelabuhan, Kepada A.R.L. Sebagai makhluk sosial, penyair tak bisa lepas dari kehidupan bersama dengan orang lain. Manusia di luar dirinya adalah ibarat senyawa yang bisa menimbulkan persenyawaan. Pertemuan antar insan bisa berlangsung baik secara fisik maupun mental (perasaan, emosi dan hati). Arsyad Indradi misalnya menambatkan rasa kehilangan kepada seorang penari yang telah ‘pergi’ke alam abadi. Besar benar hasratku agar kau/menarikan sebuah tarian untukku/jam sebelas, tiba-tiba kudengar/kau telah berangkat/di mana kini kau diam abadi. Penari, sebagai orang lain di luar diri penyair, dalam puisi ini telah menjadi magnet sosial yang tak bisa dipungkiri. Meski relasi antar manusia memang tak kekal, tapi keinginan-keinginan saat masih bersama atau ketika sudah ditinggalkan seringkali datang. Sekali aku tiba/panggung itu telah kosong/hanya tercium wangiwangian/kembangkembang bogam. Di sana aku masih berdiri/besar benar hasartku agar kau/menarikan sebuah tarian untukku. (Puisi Kepada A.R.L).
Kemudian lihat potret sosial yang juga dengan jeli dinarasikan oleh Arsyad Indradi. Seorang kuli pelabuhan/kurus kering, usianya rambut dua/memanggul karung ke gudang luas/menggigil dan miring-miring/peluhnya mengucur deras/menghindarkan lamunannya/dalam hingar bingar manusia/ditengah rekah panggangan matahari/. (Puisi Kuli Pelabuhan). Orang-orang kelas bawah yang harus berjuang menyambung hidupnya terkadang tak dihiraukan penguasa. Lewat puisi, Arsyad menghadirkan realitas untuk mengembangkan sensitivitas sosial. Orang tua duduk dalam becaknya/ia menyembunyikan demam dibalik mantelnya/sudah setengah hari ini tak ada tumpangan/hujan masih juga mengguyur kota ini. (Puisi: Penarik Becak). Kisah orang-orang lemah dan susah sesungguhnya adalah realitas yang menyedihkan. Di tengah negeri, bernama Indonesia, yang kaya sumber daya alam, masih banyak orang susah makan. Ironisnya sekelompok orang justru bergaya hidup berlebihan dan tak punya kepedulian sosial. Relasi yang mereka bangun adalah eksploitasi dan diskriminasi.
Tanah air Indonesia, adalah juga sumber perenungan seorang Arsyad Indradi. Negeri yang telah memproklamasikan diri ini hadir dalam narasi dipenuhi tuntutan dan harapan. Arti merdeka perlu dipertanyakan kembali seiring dengan kesejahteraan, keadilan dan kedamaian yang masih mahal sekali. Rakyat berharap dan bertekad. Hari ini adalah tahun kemerdekaan kita/kutitipkan Indonesia padamu/sifatsifat penjajah masih ada/tumbuh di negeri kita/tumpas kikis/dan jangan kau kira penjajah tak ada lagi/dibumbi ini/waspadalah penjajah yang paling keji/adalah penjajah bangsa sendiri/.(Puisi: Kutitipkan Indonesia Padamu). Penjajahan telah menyengsarakan manusia. Dan Arsyad mengisaratkan bahwa penjajahan masih terus mengancam rakyat Indonesia meski kemerdekaan telah diproklamasikan. Penindasan masih sering terjadi di berbagai belahan bumi Indonesia. Karena itu Penyair Arsyad Indradi menegaskan, Hari ini/kami telah risalahkan/semua padamu negeri tercinta/ia akan bangkit kembali/dan terpahat di dada/hari ini/ditanah pusaka ini/kami telah tiada sangsi/hanya ada satu pilihan/perang melawan tirani!.
Demikianlah memaknai pengembaraan dan perjuangan hidup di negeri Indonesia. Sebuah pilihan yang mulia: melawan kesewenangwenangan baik dengan doa maupun dengan tindakan nyata. Atau mungkin kita justru punya pilihan berbeda. Arsyad Indradi bertanya, Apakah kita selalu Cuma bayang/ketika negeri tercinta ini/kehilangan makna/ (Puisi:Kita Cuma Bayang). Mari direnungkan.
Pedalaman Sengkaling, Malang, Awal Maret 200
Dimuat di Radar Banjarmasin, Minggu29 April 2007


Lahir 17 Mei 1977. Tinggal di Malang. Menggeluti penulisan puisi sejak SMP. Selama kuliah menjadi Pengurus Bidang Puisi Dewan Kesenian Kampus Fak Sastra Universitas Negeri Jember.1998 puisinya menjadi runner up lomba puisi oleh Koran Suara Indonesia, juara lomba puisi reformasi oleh Prosalina FM Jember, dan 2001 juara lomba cipta puisi oleh Forkom Kader Bangsa Jatim dan Dewan Kesenian Malang. Tulisannya berupa puisi, cerpen dan artikel banyak termuat di media masa baik lokal mau pun nasional.

“ NYANYIAN SERIBU BURUNG ‘ ARSYAD INDRADI



Oleh : Dr. Sudaryono, M.Pd

Penyair adalah pejalan ulang-alik budaya. Ia hidup dan menghirup berbagai

Misteri dalam dunia kreatifnya. Dorongan kreatif dan impuls-impuls sensitive manjadikan penyair selalu larut mengolah misteri yang dihadapinya, baik dalam dunia realitas maupun dunia imajinatif. Rupanya, hadirnya misteri itu menjadi penanda sublimnya sajak yang diciptakannya. Misteri itu hadir dalam interelasi segitiga sama sisi, yang pada sudut paling atas adalah langit yang merupakan representasi Sang Maha Pencipta; pada sudut kiri-bawah adalah bumi yang dihuni oleh manusia; dan pada sudut kanan-bawah adalah laut, sibolisasi kehidupan. Di tengah-tengah interelasi manusia—kehidupan—Sang Maha Pencipta terbentang adanya misteri yang tidak akan pernah habis digali dan dieksplorasi.

Penyair Arsyad Indradi lahir 1949 di Barabai. Ia intensif menulis sajak-sajak 1970-an dan masih produktif tahun 2000-an. Kurun waktu yang panjang serta disertai intensitas pergulatan terus-menerus menunjukkan bahwa ia memiliki stamina dan konsistensi yang luar biasa di bidangpenciptaan kreatif puisi.Hasilnya ? Kelompok Studi Sastra Banjarbaru yang ia komandoi menerbitkan antologi puisi Nanyanyian Seribu Burung (April 2006); Romansa Setangkai Bunga (Mei 2006), Narasi Musafir Gila (Juni 2006), dan Kalalatu (September 2006). Upaya pendokumentasian sajak yang “gila-gilaan” ini (semua buku terbit tahun 2006) pantas diberikan apresiasi. Apresiasi kali ini merujuk pada kumpulan sajak Nyanyian Seribu Burung (memuat 122 sajak yang ditulis kurun waktu 1970 sampai 1999).

Penyair selalu melakukan intropeksi, membaca diri, dan merenungi dirinya sendiri. Penyair selalu berkaca. Dalam sajak “ Aku Berkaca “ (1970) Arsyad Indradi menulis : aku berkaca / pada tubuhmu/ melahirkan sebuah laut/ membawaku terus berlayar/ entah sampai ke mana/. Penyair berinteraksi dengan “mu” untuk mengaktualkan dirinya sendiri. Dalam pergumulannya dengan dirinya sendiri rupanya penyair menghadapi misteri : langit menyembunyikan pantai/ pada ribuan ombak dan buihbuih/ dan angin menbunuh burungburung/ aku jadi teramat letih. Simbolisasi “langit” yang merupakan Sang Maha Pencipta, selalu memiliki misteri. Penyair sampai pada kontemplasi : mungkin inilah riwayat / pelayaran terdampar di sini/ pada sebuah ajal/. Sajak liris-naratif ini terasa intens menyuguhkan kontemplasi tentang dunia misteri yang digali dan diekslporasi oleh seorang Arsyad Indradi.

Pada sajak lain Arsyad Indradisampai pada sikap yang relatif mantab : jangan ada sangsi ketika puput penghabisan / pertanda senja akan membawa kita/ ke ombak yang paling jauh/ muara tak lagi perbatasan bertolaknya/ sebuah kapal yang sarat dengan riwayat/ yang kita aksarakan pada sebuah perjalanan sebab laut adalah sebuah jalan panjang / yang mesti kita tempuh/ dan kita tak perlu berpaling (“Antara Kapal Berlabuh”,1972). Hanya berselang dua tahun , Arsyad Indradi telah menemukan jawab bahwa hidup haruslah dijalani, terus berjalan dan pantang surut ke belakang. Dengan penuh kesadaran dinyatakan : bahwa sungaisungai telah merisalahkan / rumahrumah lanting/ dalam sempurnanya senja/ sebab gerimis mengekalkan / luruhnya cakrawala / pada sebuah pandang mata (“Kendati Hujan Gerimis”,1972).

Sikap hidup dan keyakinan yang telah dipilih itu, pada tahun 1971 telah dinyatakan secara tandas : Oi hati dan jiwaku/ Bernyanyilah dari bungabunga cinta/ Yang mekar dari kelopakkelopak kamasutra/ Wahai hidupku kitalah pengembara/ setiap kepak sayap dan kicau/ ke puncakpuncak impereium cinta (“Imperium Cinta”, 1971). Cintalah yang mengerakkan penyair untuk terus hidup menghidupi, memberi makna dan sekaligus magma sebagai tenaga kekuatan menjalanai hidup. Perasaan cinta itu pulalah yang secara sosial mendorong penyair peduli pada dimensi kehidupan sosial yang kontekstual saat itu. Saat itu, Selasa sore 8 Februari 1972, penyair lewat judul puisi “ Arakan Keranda Batu” mengkritisi kehidupan demokrasi yang tidak sehat. Bayangkan, di tengah kekuatan rezim Orde Baru, Arsyad Indradi dengan berani menulis seperti ini : hari ini delapan Februari / keranda itu telah kami usung/ di puncak tugu bundar/ menuju pemakaman/ yang kami bangun sendiri/ dari bongkahan api hatinurani... kami usung keranda ini/ dengan linangan airmata api/ dengan langkah pasti : kembalikan Arief Budiman ! Sajak ini secara lugas dan keras menyuarakan “Pemakaman Demokrasi” sebagai aksi solidaritas penyair. Masuk dalam sajak lugas dan keras sebagai bentuk solidaritas adalah sajak bertitimangsa 1973, di antaranya “ Matinya Seorang Pencuri Ayam” dan “ Seorang Anak Kecil Minta Susu Kepada Ibunya yang Mati”.

Hidup mengalamai pasang surut. Ada gelombang pasang, riak, ombak, bahkan buih-buih. Potensi kreatif dan intensitas penulisan sajak juga mengalamai pasang surut. Memasuki kurun waktu 1974, sajak-sajak Arsyad Indradi mulai menyuguhkan sajak-sajak seperti ini : dari keyakinan meski kukayuhkan / meski alir dan ombak / dalam pasangsurut / tak memberi kayuh apa/ atau pohonan rambai/ di tepitepi pantai / masih menyimpan berahi dendam/ pada matahari yang makin tenggelam (“Kujukungkan Impian ke Sungai Martapura”). Atau sajak “Ketika Kapal Lepas Pelabuhan” : sementara aku membangun / pelabuhan dalam diriku sendiri/ ketika kakilangit tak lagi memberi warna. Penyair membangun keyakinan, mencari kepastian, dan di saat bersamaan terkadang ia serupa layang-layang : dan layanglayangku putus/ melayang jauh sekali/ dan jatuh ke lembah kesadaranku / dalam termangu/ memandang layanglayangku yang hancur/ di pangkuan isakmu (Layang Layang, 1975).; aku pun jatuh / persis di hadapan / mahadukamu (“Maha Duka”, 1977); betapa risauku/ manakala harapan yang kupintal / kusut di tengah jalan/ inilah risalahku/ yang kusajakkan (“Saat Sunyi Aku Pun Luruh “,1977).

Penyair hakikatnya seorang pencari. Dalam mencari sesuatu itu, rona kegelisahan biasanya tampil. Upaya pencarian terus-menerus yang dironai kegelisahan batiniah, misalnya tampil dalam sajak “Risalah Perjalanan” (1977): aku musafir dalam lubukhatimu/ karena dalam diammu... aku dapat melihat hakikat dahagaku/wahai berilah aku anggur duka/ agar lunas s’luruh letihku ..., “Kabarkan Padaku” (1978) : kabarkan padaku/ sebab rahasiamu/ agar terbebas aku/ dari dukalara dunia ini.

Dalam pencarian itu, penyair merasa bahwa kota Banjarbaru adalah pilihan yang tepat seperti twertuang dalan titel sajak “Aku Suka Kota Ini” (1978) dan “Banjarbaru Kotaku Sayang” (1978). Dalam sajak “Hujan Begitu Tajam” (1978) dengan tandas dinyatakan : kupunguti liriklirikku yang menggigil ditebar angin/ yang melayang di sekujur tubuhmu/ aku mencoba merangkainya kembali/ sebab aku telah tiada sangsi.

Sudut paling atas dari segitiga sama sisi adalah langit sebagai representasi Sang Maha Pencipta. Dalam sajak-sajak Arsyad Indradi, upaya memahami dan menghayati Sang Maha Pencipta tampil di dalam sajak “Malam Hening” (1979) seperti ini : daundauanan pinus berdesir/ kusembunyikan degup jantungku/ dalam hamparan sajadahMu/ setiap untai zikir/ sukma sejatiku/ tak letih menungguMu. Dalam sajak “ Di Atas Sajadah” (1980) Arsyad Indradi menulis begini : ... ya tuhan beri aku kesempatan/ meraut namamu dan menerbangkannya/ jauh ke dalam diriku/ dan ajalkanlah bila sampai di arasymu. Dalam sajak “Gurindam buat Sang Kekasih” (1981) secara metaforis diungkapkan : jika bahtera merapat ke dermaga/ pintaku jangan kau ajalkan rinduku. Sajak-sajak lain yang bergumul dengan misteri Ilahi adalah “Tabir Rahasia Kehidupan” (1983) , “Orang Gila” (1984), “Lailatulkadar” (1984), “Nikmat Dalam Tawa dan Ratap” (1985), “Tamu Mubalig” (1986), “Percakapan Kecil” (1986), “Naik Haji” (1986), “Mereka Akan Tiada Berguna” (1986), “Sajak Kembang Mawar” (1986), “Mata Hati “ (1987), dan “Aku Laron Yang Mencarimu Dalam Cahaya Itu Jangan KauPadamkan Lampu “(1999). Sajak-sajak relegius Arsyad Indradi sama kuatnya dengan sajak-sajak karya Ajamuddin Tifani almarhum.

Penyair adalah pejalan ulang-alikbudaya. Penyair masuk kawasan budaya sebab ia sesungguhnya pekerja, pemikir, dan pemburu kata-kata arif. Budaya adalah kata kerja. Kerja menyair merupakan minoritas kreatif yang menghasilkan wujud kebudayaan. Wujud kebudayaan beserta unsur-unsurnya, seperti dikemukakan oleh Koentjaraningrat (periksa Prasetyo, 1991:32) ada tiga macam , yaitu : (1) Wujud kebudayaan sebagai kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peratuiran dan sebagainya; (2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dan masyarakat, dan (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Wujud yang pertama merupakan wujud ideal dari kebudayaan. Di dalam budaya ini terdapat alam pikiran, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan

Adat dan sebagainya. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba dan foto. Letaknya dalam memori komputer. Wujud kedua kebudayaan sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri atas aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi satu sama lainnya dari waktu ke waktu. Sistem sosial ini bersifat kongkret. Wujud ketiga disebut kebudayaan fisik, yaitu seluruh hasil karya manusia. Sajak adalah hasil karya penyair.

Penyair dalam menghasilkan karyanya senantiasa berperan sebagai pejalan ulang-alik kebudayaan. Artinya, ia pada tahap tertentu memainkan peranan personal, individual, dan berbicara tentang dirinya sendiri. Lalu, sebagai warga masyarakat ia kemudian mengungkapkan persoalan-persoalan sosial. Dan selain itu, penyair sebagai kafilah Allah senantiasa berupaya mengungkapkan bgerbagai perasaannya kepada Sang Maha Pencipta. Penyair selalu kreator, tidak lain adalah wakil Allah dalam menyuarakan kebenaran, keadilan, tanggung jawab, dan sebagainya. Itulah sebabnya secara tematis dan kategoris, sajak-sajak yang ditulis oleh Arsyad Indradi dapat diklasifikasikan sebagai sajak yang mengungkapkan nilai-nilai personal, sajak-sajak yang mengungkapkan nilai-nilai kemasyarakatan, dan sajak-sajak yang mengungkapkan nilai-nilai filosofis-relegius.

Demikian, salam budaya.

Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Universitas Jambi, Pemerhati Seni-Budaya.

“NARASI PENYAIR GILA” ARSYAD INDRADI


Oleh : Dr. Sudaryono M.Pd

Staf Pengajar FKIP Universitas Jambi


Kalau ada kegilaan adalah kegilaan kreatif. Dengan kreativitas, kegilaan penciptaan dimungkinkan. Dengan kegilaan pula dapat dikecap capaian-capaian artistic sebuah sajak. Penyair terkadang seperti orang “gila” (gila dalam tanda kutip). Artinya ,di tengah-tengah masyarakatnya penyair acap tampil anomaly, menyendiri, mengasingkan diri dari interaksi massif, dan secara personal menampilkan sosok yang sering “nyleneh”, aneh, dan sulit dipahami. Hal seperti itu tidak ditemukan pada puisi-puisi penyair dari Banjarbaru : Arsyad Indradi yang menyedot perhatian untuk digumuli.
Kegilaan Arsyad Indradi dalam mengeksploitasi dan mengeksplorasi segenap inderanya dalam menciptakan puisi masih dapat dinikmati. Niscaya merupakan sebuah kegilaan manakala dalam satu tahun diterbitkan buku kumpulan puisi : Nyanytian Seribu Burung (April 2006), Narasi Musafir Gila (Mei 2006), Romansa Setangkai Bunga (Juni 2006), dan Kalalatu (September 2006) yang semuanya diterbitkan secara swadana oleh Kelompok Studi Sastra Banjarbaru yang dipimpinnya. Gila ! Mungkin begitu komentar orang. Kali ini perhatian secara khusus mengarah pada Narasi Musafir Gila yang memuat 90 puisi yang ditulis tahun 2000-an.
Dari mana pembicaraan ini dimulai ? Pembicaraan puisi bisa dimulai dari mana saja. Antologi ini dibuka dengan “ Narasi Ayat Batu”. Sebagai pembaca kita lantas ingat adanya prasasti, tugu, daun lontar dan sebagainya yang menyimpan kearifan. Kubelah ayatayat batumu di kulminasi bukit/ Yang terhampar di sajadahku / Kujatuhkan di tebingtebing lautmu / Cuma gemuruh ombak dalam takbirku// ...Kuseru namamu tak hentihenti / Di ruasruas jari tanganku/ Yang gemetar dan berdarah/ Tumpahlah semesta langit / Di mata anak Adam yang sujud di kakimu (Banjarbaru,2000). Puisi ini secara intens mengungkapkan pergulatan penyair dalam menghayati “misteri” illahi.
Arsyad Indradi yang memasuki usia 54 tahun pada Desember 2008 ini seterusnya menulis “Narasi Pohon Senja” seperti ini : Kukalungkan lampulampu di ranjangmu/ Lalu kujadikan pengantin/ Lalu kunikahi daunmu kepompong birahi dendam/ Lahirlah kupukupu/ Betapa nikmat dalam dahaga / Menjelajahi tubuhmu/ Mencari rangkaian bunga/ jauh dalam lubuk jantungmu (Hal.2). Sajak ini lebih mengedepankan kontemplasi dengan ilahi ditampilkan melalui penginsanan-hubungan manusiawi dengan idiom symbol hubungan pengantin di ranjang. Dalam “Narasi Gairah Embun” secara manis penyair menulis seperti ini “Mulutmu wangi sarigading/ Menyentuh gordengorden jendela/ Tapi jangan kau buka/ Sebentar lagi pagi beranjak tiba (hal.3). Secara analogis, metaforis, dan liris dalam “Narasi Tanah Kelahiran” dinyatakan “Kau beri aku sampan/ Riakriak menyusuri uraturat nadi/ Wajahmu sudah lain tapi begitu angkuh/ Tumbuh rumahrumahbatu” (hal.4). Pergulatan dan pergumulan penyair sampai pada kenyataan bahwa “Aku/Anak Adam/ Yang tersesat di sajadahMu (“Zikir Senja”, hal.8).
Memasuki usia senja, penyair semakin intens mengolah rahasia pertemuan dengan sang Khalik. Intensitas itu membuahkan puisi-puisi relegius yang lembut dan kongkret. Lebih kongkret lagi ketika penyair lantas mengkaji bumi yang dipaijak. Bumi yang memberikan kesadaran bahwa persoalan manusia tidaklah semata berkomunikasi dengan Sang Khalik, melainkan juga perlu membaca denyut kehidupan di bumi. Puisi-puisi yang mewakili tema kehidupan di bumi yang ia pijak antara lain “Ekstase Seorang Pejalan Jauh”,”Etam Sayang Gunung” , “Romansa Bulan Saga””, Romansa Seekor Hong”, “Romansa Setangkai Bunga”, “Romansa Di Bawah Hujan Cinta Pun Abadi “, “Pertemuan”, “Jalan Begitu Lengang”.
Hal yang unik dan menarik, penyair Arsyad Indradi mencoba menawarkan cara ungkap multikultur dengan memanfaatkan campur code bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam beberapa puisinya seperti : “As One of the Song, Mamimeca”, “ Elly : Sonata is Silent”, dan “In My Last Mirrage”. Kita cermati bagaimana penyair memakai campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam puisinya. Dalam “As One of the Song, Mamimeca” ditulis begini “ ... Aku tahu betapa letih wajahmu/ Dalam gugusan maha kelam / May soul stay in the wind, Mami” (hal 27). “Aku musafir/ Liriklirik yang jatuh dari matamu/ Jatuh gemersik : Give to me one the world/ Di kulminasi bukit/ Kupetik kembang ilalang :/ may sure not at all raincloud / Elly di tebingtebing :/I have lost my wind (Elly : Sonata is Silent, hal 29). Pemanfaatan campur kode dalam puisi ibarat membuat gado-gado, bahan-bahan yang berlainan dipadu jadi satu, dan ternyata enak juga.
Mengahiri pembicaraan ini , kita tampilkan puisi yang dijadikan judul buku kumpulan puisi. Judul puisi yang dijadikan judul buku , biasanya dijagokan sebagai gambaran pencapaian estetis dan gambaran sikap penyairnya. Bagaimanakah capaian estetis dan gambaran sikap penyair Arsyad Indradi ? Kita simak sajak “ Narasi Musafir Gila “ selengkapnya.

Mendadak cahaya itu terjebak dalam belitan kabut
Porakporandalah cakrawala dan aku kembali harus
bergumul dengan persimpangan jalan
Tapi aku tak sudi mengatakan : Ajalkan aku di sini

Kudakudaalas berloncatan pada goncangan bumi
Pada angin yang menepuk dada
Kugilakan musafirku ke padang luas
Padang abadabad persembunyianmu

Sebab aku telah mengatakan :
Kuabukan s’luruh mimpimimpi purbaku
Dan kutapakan dalam tubuh tembokmu
Agar tak kan kau usik lagi s’luruh jejakmu

Puisi yang ditulis di Bandung pada 2006 seakan menandai pengembaraan spiritual penyair. Arsyad Indradi tampaknya sampai “Pada Suatu Halte”, tempat istirah sejenak, tujuan perjalanan, dan tempat bertolak melakukan petualangan yang lebih gila. Estetika yang ditawarkan penyair, pola ucap puisi-puisinya, dan tematis puisi-puisinya tampak akan serupa air yang mengalir menuju muara makna. Demikianlah pembicaraan sederhana, semoga silaturrahmi batiniah terjembatanni. Salam budaya.

Jambi, 21 Januari 2007

Dimuat di : Radar Banjarmasin, Minggu 28 januari
Republika, Minggu

Kegilaannya Arsyad Indradi



Oleh : Sainul Hermawan

ARSYAD INDRADI sudah setua provinsi ini. Di ulang tahunnya yang ke-57, dia mempersembahkan antologi puisi penyair nusantara 142 Penyair Menuju Bulan untuk dirinya sendiri dan juga mempersembahkannya untuk kota Banjarbaru, saat itu berulang tahun yang ke-7. Penyair yang konon tak pernah dikenal di jagat sastra nasional (setidaknya demikianlah pengakuannya sendiri pada suatu ketika), tiba-tiba membuat publik penyair di tanah air bertanya tentang siapa dirinya, saat dia mengundang mereka untuk mengirimkan puisi yang akan dihimpunnya dalam antologi itu. Antologi setebal 728 halaman yang dicetaknya sendiri, dengan biaya sendiri, diedarkan sendiri, secara gratis. Dalam kesederhanaan hidupnya, tindakan itu jelas nekad.

Karenanya sejumlah kawannya di daerah lain menjulukinya, sebagai penyair gila Bagaimana tidak gila, uang sedemikian banyak digunakan memproduksi artifak seni yang bukan kebutuhan pokok banyak orang. Gila karena dia, sebagai individu biasa,memainkan peran besar melebihi keinginan kota bahkan provinsi bahkan korporasi untuk mengapresiasi puisi.

Tetapi, kegilaan itu mungkin berada di atas kesadaran persoalan filosofisnya : Bukankah setiap hari banyak orang mengonsumsi dan memproduksi segala yang ada pada akhirnya jadi sampah juga ? Bukankah mereka ternyata memiliki kegilaan mereka sendiri-sendiri : gila hormat, gila jabatan, gila harta, gila-gilaan, gila tahta, gila wanita.

Kegilaannya sebenarnya adalah justru kewarasannya di tengah kegilaan yang lain. Betapa gilanya jika korporasi tak peduli pada puisi, pemerintah mencueki puisi, dan karenya masyarakat jadi menjauhi puisi. Seakan berpuisi tak punya peran bagi pencerdasan kehidupan bangsa. Sehatkah pemerintah yang tak mendukung kegiatan pencerdasan kehidupan bangsa ? Maka menggilai puisi ala Arsyad Indradi menjadi semacam terapi kejut bagi lembaga-lembaga resmi yang seharusnya lebih berani berbuat besar dari pada seorang Indradi yang sederhana dan kian senja. Karenanya, Setia Budhi dalam salah satu tulisannya menyebut apa yang dilakukan tetuha puisi di Banjarbaru ini sebagai perlawanan pada sesuatu yang konon berkuasa tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Arsyad Indradi telah mencatatkan dirinya dalam sejarah sastra Kalsel sebagai penyair paling nekad dan berani berkorban untuk puisi. Yang iri boleh dibilang dia cuma cari sensasi, tetapi sastra tak bisa dibangun dengan memupuk kedengkian di antara sesama pesastra. Dia telah membuat nusantara pada suatu masa berpikir tentang dan menoleh ke Banjarbaru karena ulahnya.

Dengan cara demikian, dia telah menunjukkan eksistensinya. Keberadaan baginya bukan semata kehadiran mengenang nama-nama besar atau mengenang masa kejayaan dirinya sebagai penyair. Keberadaan adalah menghadirkan gagasan dan pembuktian, menghancurkan keberadaan lama untuk mengadakan keberadaan baru, selalu dan selalu begitu.

Jika dalam antologi puisi itu sedikit sekali kita temukan puisi karya penyair Kalsel, konon mungkin idenya dianggap konyol dan mustahil. Dia membiarkan pesimisme itu. Sangat wajar, kalau kemudian kemampuan antologi ini menggaulkan penyair Kalsel dan lokal luar Kalsel bisa membuat sebagian penyair sebagai sesama di Kalsel merasa ditinggalkan oleh buku ini. Semacam perasaan sentimentil yang bisa dianggap kurang waras karena konon dia tak punya prerensi untuk menadah atau mengusir puisi orang-orang yang baru belajar jadi penyair.

Dengan cara demikian, Arsyad Indradi bukan saja menciptakan sejarah bagi dirinya, tetapi dia pun ingin meninggalkan jejak-jejak gagasan dan pelajaran bahwa mencintai puisi perlu bukti, mencintai puisi berarti membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapapun yang ingin mencicipi pengalaman penciptaannya, dan mencintainya berarti menciptanya tanpa henti dan penuh inovasi, mencintainya berarti menyisakan ruang apresiasi dalam sanubari bagi puisi-puisi karya penyair lain. Saling menguatkan puisi yang dapat dilakukan oleh sesama penyair adalah cara lain untuk membesarkan puisi.

Menjaga kelestarian puisi perlu perhatian banyak pihak. Maka penyair juga punya kewajiban menghormati hak-hak penikmat puisi yang lain. Maka Arsyad Indradi menempuh jalan gila itu yang mungkin telah melenyapkan beberapa petak tanah, atau beberapa ekor sapi, atau dia menempuh jalan Ibrahim yang hendakmenyembelih Ismail.

Arsyad Indradi telah menyembelihnya, dan yang hilang berganti sesuatu yang lain. Demikianlah daur hidup. Nama Arsyad bukan Indradi yang dulu. Dia telah melakukan tindakan besar, melampaui kemampuan dirinya sebagai warga kota Banjarbaru yang sederhana.

Mungkin keluguannya telah membawanya kembali ke masa kanak-kanak, masa-masa manusia tak memperhitungkan risiko setiap permainan yang dilakukannya. Yang ada hanyalah fantasi, ulah kreatif, dan terus memainkan peran. Arsyad tampaknya menempuh jalan masa-masa belianya dulu. Mungkin inilah salah satu hal yang membuat murid-muridnya mencintai dan menghormatinya. Mungkin ini pula yang membuatnya terus bergairah menularkan keterampilan tari dan puisinya kepada tunas-tunas muda sastra di kotanya.

Pesan pendeknya beberapa bulan silam tampaknya menyiratkan kegeraman terhadap stagnasi sastra di kotanya. Lembaga-lembaga formal kesenian baginya semakin tampak jadi umbul-umbul di pinggir jalan. “ Aku mau jalan sendiri sekarang !” salah satu katanya dalam pesan itu.

Tapi dia tak bisa jalan sendiri. Sastra di mana-mana bukan karya individual. Sastra perlu media, pembaca, dan pihak-pihak lain yang terlibat tanpa sengaja. Lebih tepatnya, mungkin, dia mau mencari teman baru yang bisa terus mengajaknya bermain dengan gembira di lingkaran sastra yang dibayangkannya. Dia mungkin tak perlu penghargaan bintang mahakarya dalam sastra karena dia telah membayangkan dirinya sebagai Si Gila.Bukankah penghargaan semacam itu hanya layak untuk mereka yang waras ? Namun, bukankah waras juga persoalan rumit yang belum tuntas ?

Ah, Arsyad Indradi telah melakukan sesuatu yang mengajarkan tentang pentingnya kerjasama kesastraan. Dengan demikian dia tak sendiri. Dia meninggalkan sebagian kawan lamanya yang nakal untuk merangkul kawan baru dari penjuru nusantara.

Sepanjang masa penerbitan antologi itu dibaca, yang akan terus disebut adalah namanya dan kotanya.

Baginya, harga diri itu jangan ditunggu untuk dianugrahkan orang lain kepada dirinya. Ia harus direbut. Setelah perebutan itu, dia merasa biasa-biasa saja, tak ada yang lebih dan kurang. Penuh kejutan. Dia meletakkan sesuatu yang paling dalam kesadaran yang tak penting. Demikianlah logika orang gila pada umumnya, dan bukan hanya dia ternyata.

Dia kemudian menjelma laksana orang tua yang menyayangi anak-anaknya. Anak-anak sastra dan puisi. Dia tanam pohon untuk mereka, pohon yang buahnya tak akan sempat dia nikmati, sebab pohon itu perlu perawatan penuh kesabaran dan kesungguhan. ***

Sainul Hermawan, dosen FKIP Unlam Banjarmasin, penikmat sastra.

( Radar Banjarmasin, Cakrawala Sastra & Budaya

Minggu , 9 September 2007 )