<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077</id><updated>2011-07-07T18:23:36.042-07:00</updated><title type='text'>Risalah Penyair Gila</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-2907946999349807950</id><published>2010-05-01T08:09:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T08:11:46.597-07:00</updated><title type='text'>Tragika Karya Sastra Urang Banjar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xEokP_YEI/AAAAAAAACwk/-XAQ_cYD_5U/s1600/Setia+Budhi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 191px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xEokP_YEI/AAAAAAAACwk/-XAQ_cYD_5U/s200/Setia+Budhi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466319511437140034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Setia Budhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     Siapa yang mampu melawan ketangguhan penulis cerita rakyat banjar yang produktif seperti Syamsiar Seman ? Dan siapa pula yang berani menantang kegilaan seorang Arsyad Indradi ? Dan seorang lagi sastrawan yang paling nekad, Jamaluddin “ Galuh “ ? Dan saya ingin mendiskusikan perihal tiga orang sakti itu dalam esai, yang biarkan kita beri saja permulaan katanya dengan Allahu Rabbi Sastra Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Benarkah bahwa karya sastra yang tidak pernah dipublikasikan dapat disebut karya sastra ? Benarkah seribu kumpulan puisi yang masih tersimpan rapi di bawah lacipenulisnya belum dapat disebut karya sastra  sebelum karya itu dipublikasikan ? Benarkah sebait syair  yang tersimpan di bawah bantal penulisnya belum menjaci karya sastra sebelum syair itu dibacakan ke tengah orang ramai ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dalam ruang ini tak usah diperdebatkan apa itu sastra Banjar. Sebab masih banyak lagi sastra-sastra lain yang antre dibaca dan dipahami. Tak perlu risau ada apakah dengan sastra Dayak, sastra Pahuluan, sastra Urang Alabio atau sastra Urang Martapura, atau sastra Urang Unlam, syair Bubuhan IAIN, sastra Bubuhan Banjarbaru, sastra Oloh Bakumpai, puisi Dayak Iban, puisi mantra Dayak Meratus, atau sastra Orang Eropa Timur atau sastra Tiongkok. Sebab yang penting bagiku adalah keagungan sebuah karya. Yang terpenting adalah kemuliaan mereka-mereka yang berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tetapi ada masalah besar yang menghantui para penggeiat sastra di daerah ini. Dan kalaulah saya tidak salah menduga, bahwa hantu-hantu yang memerangkap kekaryaan para sastrawan itu adalah soal publikasi dan niat baik lembaga-lembaga publikasi untuk karya sastra Kqalimantan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar pada tiga orang sakti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Masuklah ke toko - toko buku yang ada di Banjarmasin dan Banjarbaru. Anda paling tidak, atau kalau tidak kehabisan stok barang, akan sangat mudah mendapatkan buku – buku cerita yang dikarang oleh Syamsiar Seman. Karya – karya yang biasanya kisah dari orang – orang Banjar itu, walaupun dicetak dengan “tri warna” hitam, putih, kuning pada sampulmuka, menunju8kkan sebuah publikasi yang sederhana sepertinya cocok dengan kesederhanaan penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dari manakah Syamsiar Seman mendapatkan amunisi untuk menerbitkan buku-buku yang sebagian telah dipergunakan sebagai “muatan lokal” itu ? Kalaupun buku-buku seperti Gerilya Hasan Basri nampak dicetak secara murah, tetapi isi buku itu nampak bertengger dengan ruang yang kecil di antara buku-buku besar ruang perpustakaan atau toko buku. Seperti juga Syamsiar Seman, untuk kasus Asal Mula Urang Banjar yang dikarang oleh Tajuddin Noor, nampak pula kebersahajaan karya ini apabila apabila dipersandingkan dengan karya-karya sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Orang sakti kedua adalah Jamal “Batu Ampar” Suryanata, dalam karya yang cukup monumental kumpulan cerita pendek bahasa Banjar “Galuh”. Kumpulan cerita pendek yang pernah dimuat di harian Radar Banjarmasin ini, sungguh beruntung nasibnya sebab pihak management koran Radar Banjarmasin”terpanggil” dan merasa peduli dengan karya sastra ini. Buku kumpulan cerpen bahasa Banjar ini pula kemudian mengisi kekosongan buku-buku dari hasil karya urang Banua bahkan bisa “mejeng” di toko buku ternama di kota Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Orang sakti semacam Jamal mungkin mempunyai keberuntungan sendiri sebab karya sastranya itu telah mendapat tempat di hati publik dan meminat sastra di daerah ini. Tetapi masalahnya adalah kalau tidak karena Radar Banjarmasin, maka seperti yang nampak belakangan, kita belum menemukan publikasi serupa “Galuh”. Oleh sebab itu, sebenarnyapeminat sastra masih merindui terbitnya Galuh-Galuh yang lain. Dimanakah kesusahan itu bersemayam, manakala “tangan kuasa” tak lagi berpihak pada penerbitan karya-karya sastra itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan menghabiskan dua buah printer canon, empat lusin tinta printer dan puluhan rim kertas A4, telah mematangkan orang sakti ketiga, yaitu Arsyad Indradi. Bersyukurlah saya sempat beberapa kali menyaksikan bagaimana ingar bingar ruang tamu yang berantakan oleh buku dan bunyi mesin printer di rumah Arsyad Indradi ketika ingin memasukkan janin ke rahim puisi, menunggunya dan melahirkannya sendiri tanpa bantuan oleh “bidan” siapapun juga. Maka lahirlah Antologi Puisi Penyair Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kalauipun kita susah sungguh untuk mendapatkan buku kumpulan puisi Arsyad Indradi di toko-tokobuku ataupun perpustakaan sebagai bahan bacaan sastra atau kajian sastra, buku kumpulan puisi yang dengan edisi terbatas itu telah pula “menggema” sampai negeri-negeri Lampung dan Riau di Sumatera atau paling tidak ke negeri sastrawan yang masuk dalam kumpulan puisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragika Ajamuddin Tifani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kalaulah tidak ada ketulusan dari tiga orang “pendekar” sastra di kota Banjarmasin seperti YS Agus Suseno, Micky Hidayat dan Maman S Tawie, karya-karya puisi Ajamuddin Tifani  Insya Allah masih berserakan dimana-mana dan tak ketahuan rimbanya pula. Kalau kemudian karya sastra itu masuk perangkap dan diterbitkan oleh orang lain, begitulah nasib kita. Kalaupun penerbitan itu pada akhirnya dikatakan sebagai “tak berperikemanuisaan” karena lebih menonjolkan pihak penerbit, maka begitulah nasib karya sastra Urang Banua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tetapi ketika ada keinginan agar karya sastra tidak terbit dengan menghancurleburkan rasa estetika, maka marilah kita meradang pada nasib sendiri mengapa kumpulan karya sastra atau puisi itu jatuh ke tangan para pedagang ? Saya memalingkan muka dan tersenyum gembira dengan Arsyad Indradi, tersebab buku kumpulan puisinya itu tidak hendak “dicoreng moreng” dengan berbagai iklan sabun colek, maka biarlah diterbitkan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sambil membetulkan letaki topinya, Arsyad Indradi berkata , “Tuntas sudah gawian mangayuh jukung saurang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sambil menoleh kiri kanan aku berkata, “Iya am maraga Gadis Dayak, tajual pahumaan”. Maksudku menoleh kiri kanan, supaya memastikan tiada orang  lain yang mendengar perbincangan soal berapa biaya untuk menghabiskan sebuah buku karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kalaulah kumpulan puisi Ajamuddin Tifani sebagai sebuah tragika, maka saya mengusulkan marilah kita terbitkan untuk edisi cetak ulang yang tentu saja dengan penerbit lain yang memahami empat lima ribu makna estetika penerbitan sebuah karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tetapi adalah akan lebih penting lagi, bagaimana kumpulan puisi Ajamuddin Tifani yang masih berserakandengan tulisan tangan, tulisan spidol atau pinsil pada kertas buram atau kertas-kertas lain itu dapat diselamatkan oleh pihak keluarganya. Tiada jarang hasil karya sastra besar tak menghasilkan apa-apa untuk sebuah jerih payahnya. Sudah waktunya berpikir dengan rasio berapa banyak buku itu dipakai oleh publik melalui toko buku dan bagaimana pula royalti yang dihasilkan dari pencetaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu Rembulan    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Lima tahun yang lalu, ketika Micky6 Hidayat melontarkan keinginan mendirikan semacam “Pustaka Hijaz Yamani”, ini adalah gagasan yang perlu mendapat sokongan banyak pihak. Paling tidak tatkala sang maestro telah pergi menemui Sang Maha Karya, kita masih dapat menikmati karya sastra melalui pembacaan karyanya. Dan pada waktunya kelak rembulan akan terbit di kaki langit sastra karya-karya sastrawan lainnya di Kalimantan Selatan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, Ramadan 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Radar Banjarmasin, Minggu 7 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-2907946999349807950?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/2907946999349807950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=2907946999349807950' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/2907946999349807950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/2907946999349807950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/tragika-karya-sastra-urang-banjar.html' title='Tragika Karya Sastra Urang Banjar'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xEokP_YEI/AAAAAAAACwk/-XAQ_cYD_5U/s72-c/Setia+Budhi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-7769838584899528040</id><published>2010-05-01T08:06:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T08:09:30.538-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Nukilan dari : Sembilan Cakrawala Satu Kilang.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xECWed-OI/AAAAAAAACwc/j7gRKAlQ73s/s1600/Ajamuddin+Tifani.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 199px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xECWed-OI/AAAAAAAACwc/j7gRKAlQ73s/s200/Ajamuddin+Tifani.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466318854904740066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ajamuddin Tifani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan dari Antologi Cakrawala , Kumpulan puisi penyair Banjarbaru. Salah satunya : Arsyad Indradi.&lt;br /&gt;………………………………………………………………………….&lt;br /&gt;          Ketika beragam penciptaan dalam puisi sudah melibur pasang dalam bangunan sastra kita, dan ketika puisi-puisi, dan seluruh perangkai dalam dunia penciptaan ini demikian banyak ragamnya, dan eksplorasi kata demikian mengagumkan pekembangannya, maka masihkah puisi ditulis orang ?&lt;br /&gt;Jangan kuatir, puisi masih ditulis. Puisi masih didendangkan. Puisi masih dapat menyusupi batin kita, sebab kita masih membaca kitab-kitab suci. Kita tahu kitab-kitab suci itu mengemban pesan-pesan puitikal, dengan puisi itu sendiri sebagai sarana penyampaian.&lt;br /&gt;         Dan Arsyad Indradi menyadari akan hal itu. Ia menulis tanpa ampun. Hampir seluruh pernik perasaannya tentang puisi. Ia sesungguhnya penyair, sebelum ia menjadi penari tahun 70-an awal. Ia bukan saja mengekspore hampir seluruh gerak perasaannya, akan tetapi mengabadikannya dalam berbagai kumpulan puisi bersama.&lt;br /&gt;Sungguh, sajak-sajak Arsyad Indradi ini banyak. Barangkali ia menyimpan, bukan Cuma sajak-sajaknya, tapi juga karya-karya sastra lainnya cerpen,esai, dan ini yang aku tahu dulu, tapi calon atau embryo novel. Dulu dipajangnya, di bawah tilamnya itulah imbuhan karya-karya sastranya. Semoga ia tidak melakukan hal-hal yang mulia itu lagi.&lt;br /&gt;          Dalam dunia penciptaan puisi Arsyad Indradi salah seorang senior ( kalau ukuran  senioritas tidk mengganggu dunia penciptaan itu sendiri ), sesungguhnya ia mulai itu jauh sebelum ia terjun dalam tari, musik, dan lukis. Banyak orang kurang mengenal penyair yang juga kreografer tari, musikus, dan pelukis ini. Sayangnya, kita tidak membicarakan pluraitas penciptaan. Ini saja sudah cukup menempatkan posisi kita yang tak kurang rumitnya membicarakan liku-liku dunia penciptaan.&lt;br /&gt;          Menyimak sajak-sajak Arsyad Indradi, berarti kita menyimak kabar kemanusiaan yang hanya merupakan sketsa hitam putih, tapi, kita merasakannya hingga ketulang-tulang sum-sum. Dan tragedi ini tidak dimulai dengan fenomena kemanusiaan itu sendiri dalam sajak-sajaknya. Lalu, muncullah ramuan yang khas Arsyad.&lt;br /&gt;           Bahwa peranan Harfiah yang menyatu dengan pemahaman tragedi kemanusiaan itu sendiri menjadi bagian yang berada dalam sajak-sajak Arsyad. Disini, perlu kiranya kita memahami posisi manusia dengan kebebasannya, bukanlah berarti sudah selesai dengan takdirnya, bukanlah manusia bebas memilih nasibnya. Ini bisa juga terjadi sebaliknya. Manusia senantiasa menjadi tegang dalamm hubungan dengan takdir. Takdir yang berada di hadapan manusia adlah sebuah situasi.&lt;br /&gt;            Manusia yang berada disebelah sini, adalah bagian yang eksternal dari tujuan perjalanan nasibnya sekaligus juga yang  menentukan. Bentuk serta isi takdir dibhadapannya, keduanya adalah suatu eksistensi. Dan eksistensi ini menentukan keberadaannya sebagai manusia.&lt;br /&gt;             Dan narasi puisi Arsyad menglegimasikan situasi yang tegang sepertin itu, bahwa manusia tak sebebasnya dapat memilih takdirnya masih ada nasib dan nasib pun tak bisa diberi warna sekenanya oleh manusia. Dan manusia menentukan “ketidakmudahannya”. Karena, di atas semuanya itu, masih ada yang Amat Terhormat Tuhan ! Allah SWT.&lt;br /&gt;           Lalu,&lt;br /&gt;                  Impian yang digantungkan pada diri bergetar dalam bayangbayang/disudutsudut ruang yang gelisah dan memaya ujudnya /tapi terasa menyentaknyentak tak henti/membiarkan rinduku menggelepar pada  sayapsayap luka/dalam perjalanan&lt;br /&gt;                   ( cakrawala 99 B.Baru )&lt;br /&gt;Kalau harfiah dari “Tarigh” semakna dengan “jalan” maka, bukan ketersesatan namanya jika ia belum menemukan hakikat “jalan”. Pencarian barangkali bisa demikian panjang. Panjang pendek sebuah perjalanan adalah soal waktu. Tapi, waktu bukanlah yang terperih dari upaya mencari makna. Namun “rindu” itulah.&lt;br /&gt;             Seluka apa pun “rindu” tetaplah bagian dari perjalanan ini. Dan perjalanan ini sendiri adalah perjalanan batin yang termaktub dalam syariat,tharikat,hakikat,ma’rifat. Pejalan ini penuh luka pada sayapsayap luka dalam perjalanan. Perjalanan ini menggeleparkan rindu. Membiarkan rinduku menggelepar.. Dan siapa gerangan yang dirindu ? Yang memaya ujudnya  tapi terasa ? yang menyentaknyentak tak henti ?&lt;br /&gt;             Dan yang ada pada perigi berair bening, tempat musafir yang berada dalam perjalan melepas dahaga. Lenyap sang perigi, karena musafir berlupa. Rindu musafir dalam dahaga : perigi … perigi …dikau dimana ? Ah, bukan Cuma musafir. Tapi perigi pun berseru “Musafir ,Musafir … aku di sini, aku disini … dan …&lt;br /&gt;             Bila sudah tidak jingga lagi dedaunan&lt;br /&gt;             Dan bayangpun fana&lt;br /&gt;             Aku merasa di sini, sebab&lt;br /&gt;             Antara kita tak pernah ada sangsi&lt;br /&gt;             (Pada Sebuah Taman-Cakrawala 99 B.Baru)&lt;br /&gt;          Bila pun kita ingin berandai-andai, maka tetua-tetua kita sering menggambarkan hidup, hidup ini laksana pohon. Dan tiap-tiap pohon, mengingatkan kita pada daun dan daun-daun mempunyai kisahnya sendiri.&lt;br /&gt;          Seorang sufi akan mengucapkan “Wa’alaikum salam”, manakala ia menyaksikan ada sehelai daun gugur, setelah ia menemukann pula  ranting tempat si daun gugur, setelah ia menemukan pula ranting tempat si daun bergantung demikian ikhlas melepas “perjalanan” daun yang sudah total menguning kecoklatan, dan tidak lagi berwarna jingga kan pergi kemanakah sang pohon ? Ya akan tetap tegak di situ. Penyaksi bagi tangan-tangan yang Maha lembut menenun jaringan benang-benang waktu&lt;br /&gt;             Dan sang penyair pun berkata lirih :&lt;br /&gt;             Jika aku lahir kembali&lt;br /&gt;             Isyaratkan dimana riak&lt;br /&gt;             Menyimpan mimpi&lt;br /&gt;            ( Suatu Telaga Akhir Tahun, Cakrawala 199/2000B.Baru )&lt;br /&gt;Bak Khairil yang merintih :&lt;br /&gt;Ada tanganku sekali akan jemu terkulai&lt;br /&gt;Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut&lt;br /&gt;Ada suara yang kucintai kan berhenti membelai&lt;br /&gt;Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut&lt;br /&gt;(dari Catatan 1946 )&lt;br /&gt;………………………………………………………..&lt;br /&gt;Salam sastra&lt;br /&gt;Banjarmasin, 8 Juni 2001                &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-7769838584899528040?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/7769838584899528040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=7769838584899528040' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/7769838584899528040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/7769838584899528040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/sebuah-nukilan-dari-sembilan-cakrawala.html' title='Sebuah Nukilan dari : Sembilan Cakrawala Satu Kilang.'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xECWed-OI/AAAAAAAACwc/j7gRKAlQ73s/s72-c/Ajamuddin+Tifani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-4167941367717269328</id><published>2010-05-01T08:03:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T08:06:37.726-07:00</updated><title type='text'>Laman Penyair Gila: Perpaduan Teknologi dan Keindahan Kata</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xDcX2lXlI/AAAAAAAACwU/5mf6uya32k0/s1600/Mahmud+Jauhari+Ali.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 185px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xDcX2lXlI/AAAAAAAACwU/5mf6uya32k0/s200/Mahmud+Jauhari+Ali.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466318202439294546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud Jauhari Ali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah Anda mengunjungi sebuah laman berisi sejumlah pengetahuan tentang  jagad alam sastra, khusunya puisi dengan rangkaian diksi yang menawan hati kita untuk membacanya? Mungkin di antara kita pernah menemukan laman-laman yang saya maksud itu. Kemudian kita unduh bagian-bagian penting dari laman tersebut untuk keperluan hidup kita. Bagi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra misalnya, tentulah untuk keperluan tugas-tugas kuliah dan penyusunan skirpsi atau hanya untuk memuaskan batin guna memperkaya jiwa mereka. Mungkin pula sebagian dari kita tidak pernah menemukan laman-laman tersebut. Bahkan, mungkin masih ada saudara-saudara kita yang sama sekali tidak mengenal internet atau dunia maya sehingga mereka tidak pernah pula mengunjungi satu laman pun. Hal terakhir tadi dapat kita maklumi karena teknologi internet belum merata di Indonesia. Bisa juga karena mereka enggan bergelut dalam dunia yang satu itu. Ya, mereka lebih suka membaca buku-buku karangan pakar-pakar ternama di bidang mereka masing-masing daripada menjelajah dunia lewat internet. Namun, saya yakin  sebagian orang yang bergelut dalam dunia kata, terutama puisi pernah mendapatkan pencerahan dari laman yang berisi seperti yang saya sebutkan di atas.&lt;br /&gt;Masih berkenaan dengan dunia maya dan dunia sastra, suatu ketika saya pernah berada di sebuah warung internet. Niat saya dari rumah adalah mengunjungi sebuah laman seseorang yang menurut cerita di masyarakat Kalimantan Selatan, seseorang  itu telah sangat jatuh cinta dengan teknologi yang satu ini dan dunia kepenyairan. Jujur, saat itu saya penasaran seperti apa wujud laman tersebut. Setelah saya tekan tombol masuk, betapa terkejutnya saya melihat sebuah tampilan yang menggiurkan pandangan saya untuk tidak lepas darinya. Ya, sebuah laman cantik dan memesona telah ada di hadapan saya. Ini adalah salah satu tanda-tanda kebesaran-Nya. Laman ini berjudul Penyair Nusantara dengan desain grafis yang disusun rapi oleh pengelolanya. Setelah saya telusuri lebih jauh, ternyata masih ada tiga buah laman utama lagi milik seseorang yang notabene adalah seorang penyair kenamaan asal Kalimantan Selatan bernama Arsyad Indradi.&lt;br /&gt;Di alam sastra Kalimantan Selatan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, Arsyad Indradi dikenal sebagai ”penyair gila” karena kegilaannya dalam dunia sastra. Sebuah kegilaan yang menurut saya merupakan bentuk kepedulian seorang sastrawan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagai usaha merekatkan hubungan antarsastrawan di tanah air. Sempat pada tahun 2005 ia menjual tanahnya hanya untuk membuat buku antologi penyair nusantara yang memuat 142 penyair dengan  426 puisi yang hasilnya ia bagikan gratis di seluruh nusantara. Lima belas juta rupiah habis untuk pembuatan buku tersebut. Bahkan, dia pulalah sendiri yang menyusun, membuat kover, hingga mengedarkan buku-buku tersebut. Lebih daripada itu, saya menangkap ada niat suci dalam diri penyair yang satu ini melalui dunia kepenyairannya, yakni untuk kemanusiaan dan keagungan Tuhan. &lt;br /&gt;Adapun keempat laman utama milik lelaki kelahiran Barabai, Kalimantan Selatan tanggal 31 Desember 1949 ini adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Penyair Nusantara, merupakan salah satu judul laman dari sekian banyak laman yang ada di Indonesia yang  beralamat di www.penyairnusantara.blogspot.com. Dengan anak judul Hidup Bukanlah Sewaktu Mati dan Mati Sewaktu Hidup, laman ini menjadi tampil lebih mantap dan menawan dari segi judul. Saat kita mulai memasuki laman  ini, kita disapa oleh perancang sekaligus pemiliknya dengan kata-kata, yakni  selamat datang, salam sastra, ucapan terima kasih atas kunjungan kita, dan selamat bergabung di laman ini. Jika kita memasuki lebih dalam lagi, nuansa kepenyairan dalam laman ini semakin terasa.&lt;br /&gt; Isi yang paling menonjol dalam Penyair Nusantara: Hidup Bukanlah Sewaktu Mati dan Mati Sewaktu Hidup ini adalah biodata para penyair nusantara dan karya-karya mereka di sejumlah besar provinsi yang ada di Indonesia. Terdapat dua puluh sembilan provinsi dimuat dalam daftar menu penyair nusantara ini oleh Arsyad Indradi. Di setiap menu provinsi yang dimuat tersebut, kita dapat menemukan biodata para penyair dan karya-karya mereka di provinsi yang bersangkutan. Karena itu, silakan Anda masuki setiap menu tersebut. Hal ini dapat kita maklumi karena memang pada dasarnya Penyair Nusantara dibuat oleh Arsyad Indradi untuk menampung dan menampilkan biodata dan karya-karya para penyair se-Indonesia dalam bentuk pendokumentasian dan juga sebagai ajang untuk merekatkan tali-temali persaudaraan penyair se-Nusantara.&lt;br /&gt;Tentunya ajang tersebut bukan hanya khusus untuk kalangan penyair, tetapi juga untuk siapa saja yang berminat terhadap dunia kepenyairan. Dengan demikian, Penyair Nusantara juga dapat merekatkan tali-temali persaudaraan seluruh masyarakat nusantara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt; Dengan mengunjungi Penyair Nusantara, kita dengan mudah mengetahui nama-nama penyair di Indonesia dan karya-karya mereka. Hal ini tentulah sangat membantu para peneliti, pelajar, mahasiswa, penggiat sastra, dan para penikmat sastra. Selain itu, dalam Penyair Nusantara kita juga dapat melihat foto-foto kegiatan sastra dan gambar sampul depan buku-buku antologi sastra. Foto-foto itu seperti foto-foto beberapa penyair nasional dalam Seminar Sastra Internasional di TIM Jakarta 14—19 Juli 2007,  saat berlangsungnya Aruh Sastra IV di Amuntai 14—16 Desember 2007, dan saat Acara Kongres KSI 1 Di Kudus 19 - 21 Januari 2008. Beberapa gambar sampul depan buku antologi sastra itu, yakni Antologi Penyair Nusantara: 142 Penyair Menuju Bulan, antologi puisi Narasi Musafir Gila, antologi puisi Nyanyian Seribu Burung, antologi puisi Romansa Setangkai Bunga, dan antologi puisi Bahasa Banjar KALALATU.&lt;br /&gt;Penyair Kalimantan Selatan, merupakan sebuah laman tersendiri di luar laman Penyair Nusantara yang memuat biodata lengkap para penyair di setiap kabupaten dan kotamadya di Kalimantan Selatan beserta karya-karya mereka. Kita dapat menemukan laman ini di alamat www.penyair-kalsel.blogspot.com. Jika Anda menginginkan pengetahuan berkenaan dengan data-data sastrawan Kalimantan Selatan dan karya-karya mereka, buka saja laman yang satu ini.  Selain itu, dalam laman ini juga memuat hal-hal tentang papandiran (obrolan bahasa Banjar), balalah (Berjalan), ramak rampu ( beragam,aneka), album antologi puisi bahasa Banjar Kalalatu, album 142 Penyair Menuju Bulan, album antologi puisi Musafir Gila, album antologi puisi Nyanyian Seribu Burung, album puisi-puisi cinta Romansa Setangkai Bunga, berita-berita, esai-artikel, dan foto kegiatan sastra.&lt;br /&gt;Sastra Banjar, merupakan laman tersendiri di luar dua laman di atas yang memuat sastra daerah Banjar. Laman Sastra Banjar antara lain memuat sastra Banjar dalam esai, kamus bahasa Banjar kuala, mantra Banjar, polemik sastra Banjar, aruh sastra, sastra daerah Banjar, khazanah makna bahasa Banjar, dan tata bahasa Banjar.&lt;br /&gt;Arsyad Indradi, laman yang satu ini merupakan laman yang menyagkut hal ikhwal tentang Arsyad Indradi dan karya-karyanya.  Daftar Muatan Isi Arsyad Indradi&lt;br /&gt;antara lain adalah biodata Arsyad Indradi, antologi puisi Anggur Duka, antologi puisi Nyanyian Seribu Burung, antologi puisi Narasi Musafir Gila, antologi puisi Romansa Setangkai Bunga, dan antologi puisi Kalalatu.&lt;br /&gt;Apa yang dapat kita tangkap dari keempat laman utama penyair gila ini? Ada dua hal yang paling menonjol, yakni memanfaatkan laman untuk kemajuan dunia sastra di Kalsel dan menunjukkan bahwa  puisi bukanlah hasil dari kegiatan melamun atau menghayal yang sia-sia belaka.&lt;br /&gt;Arsyad Indradi benar-benar berhasil memanfaatkan laman di dunia maya dalam memublikasikan pengetahuan sastra, khususnya puisi kepada masyarakat luas. Dengan laman-laman tersebut, Arsyad Indradi bukan hanya bersastra dalam lingkup Kalimantan Selatan, tetapi ke seluruh penjuru kota dan desa di dunia. Pemublikasian seperti itu akan dapat memajukan dunia sastra di Kalimantan Selatan dan Indonesia pada umumnya. Mengapa demikian? Karena dengan pemublikasian tersebut, masyarakat di Kalimantan Selatan dan provinsi lain akan mendapatkan pengetahuan sastra sehingga mereka mampu mengapresiasi, menilai, bahkan membuat puisi sendiri. Selain itu, dengan pemublikasian tersebut, orang-orang dari luar negara kita akan mengetahui keberadaan dan mutu sastra di negara ini.&lt;br /&gt;Laman penyair gila yang secara garis besar berjumlah empat buah ini, masing-masingnya merupakan laman induk. Masing-masing laman induk tersebut memiliki sublaman yang jumlahnya tidaklah sedikit. Dalam laman Penyair Nusantara memiliki sublaman bejumlah 31 buah, laman Penyair Kalimantan Selatan memiliki sublaman sebanyak 24 buah, laman Sastra Banjar memiliki sublaman sebanyak 16 buah, dan 10 buah sublaman dari laman Arsyad Indradi. Jika kita jumlahkan semuanya laman tersebut, jumlahnya menjadi 85 buah laman. Jumlah ini membuktikan bahwa Arsyad Indradi tidak sedang bermain-main dalam sastra, melainkan sangat serius dalam hal itu sehingga ia harus menggunakan banyak laman. Dalam hal ini, ia sungguh-sungguh ingin menyampaikan sebuah kenyataan bahwa penyair bukanlah seorang pelamun atau penghayal. Ia ingin menyadarkan masyarakat luas bahwa penyair adalah insan-insan yang jujur menyuarakan jiwa mereka untuk kemanusiaan dan keagungan Tuhan. Oleh karena itulah, puisi bukan semata goresan pena biasa. Puisi pantas dibaca, diapresiasi, diperbincangkan di bangku-bangku kuliah, dianalisis, hingga dilestarikan dalam bentuk perbuatannya di alam perkembangan jagad sastra mana pun. Keberadaan laman-laman Arsyad Indradi tersebut, pada kenyataannya telah meramaikan alam sastra di Kalimantan Selatan dan Indonesia pada umumnya dalam perkembangan sastra mutakhir saat ini.&lt;br /&gt;Menutup tulisan yang teramat singkat dan sederhana ini, marilah kita pandang puisi dan genre sastra lainnya sebagai sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Janganlah kita memandang karya sastra termasuk puisi dengan sebelah mata karena dengan sebelah mata saja, kita tidak akan dapat menggapai makna puisi terdalam yang dikandung oleh kata-kata yang indah dan memesona. Marilah pula kita manfaatkan fasilitas internet, khususnya laman untuk memajukan kehidupan sastra di Kalimantan Selatan dan Indonesia. Bagaimana menurut Anda?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud Jauhari Ali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Banjarmasin, 15 Januari 1982. Artikel, puisi, dan cerpennya dimuat di SKH Banjarmasin Post, SKH Radar Banjarmasin,  Tabloid Spirit Kalsel, SKH Mata Banua, Sinar Kalimantan, Tabloid Serambi Ummah dan di laman (website) www.mahmud-bahasasastra.co.cc Sejak tahun 2004 jadi tenaga peneliti di lingkungan Pusat Bahasa Balai Bahasa Prov. Kalteng. Wakil Sekretaris Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar Kalsel. Buku - bukunya antara lain : Lingkar Kata (kumpulan artikel), Kupu-Kupu Kuning (kumpulan puisi), Demi Pernikahan Adik (kumpulan cerpen), dan Menanti Tamu Lebaran (kumpulan cerpen dan puisi). Makalahnya berjudul ”Bahasa Indonesia, Film Nasional, dan Generasi Bangsa” dimuat di majalah Nawala,  Pusat Bahasa, Jakarta. Makalahnya berjudul Peranan Mamanda terhadap Eksistensi Bahasa Banjar diterima dalam Konferensi Antaruniversiti Se-Borneo IV di Kaltim tahun 2008. Dalam Kongres Bahasa tahun 2008, makalahnya berjudul Mantra Banjar: Bukti Orang Banjar Mahir Bersastra Sejak Dahulu diterima sebagai makalah kontribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-4167941367717269328?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/4167941367717269328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=4167941367717269328' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/4167941367717269328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/4167941367717269328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/laman-penyair-gila-perpaduan-teknologi.html' title='Laman Penyair Gila: Perpaduan Teknologi dan Keindahan Kata'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xDcX2lXlI/AAAAAAAACwU/5mf6uya32k0/s72-c/Mahmud+Jauhari+Ali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-265638627791755165</id><published>2010-05-01T08:00:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T08:03:16.897-07:00</updated><title type='text'>Arsyad Indradi, Menyelesaikan Sepuluh Buku dalam Satu Tahun Dua bulan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xCqFbXWGI/AAAAAAAACwM/epF0LiiLLWU/s1600/Harie+Insani+Putra.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 179px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xCqFbXWGI/AAAAAAAACwM/epF0LiiLLWU/s200/Harie+Insani+Putra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466317338499831906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;                                               &lt;br /&gt;                              &lt;br /&gt;                                                      Oleh : Harie Insani Putra&lt;br /&gt;                                                                                                                         &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Saat RUMAH CERITA menemui Arsyad Indradi dirumahnya jl Pramuka no.16 ternyata beliau sedang sibuk melipat kertas. Melihat kami datang, AI langsung menghentikan peker-jaannya.&lt;br /&gt; Setelah kami masuk, terbentanglah pemandangan buku-buku yang telah tersusun, alat pemotong kertas, bungkusan buku siap kirim, dan lembar-lembar kertas yang belum selesai dilipat. Di rumah sekaligus tempatnya memproduksi buku, AI seperti sedang menyiapkan masa tua yang terencana. Kepada kami ia bilang jika tugasnya sebagai pegawai negeri telah selesai, kepada bukulah ia akan mengabdi.&lt;br /&gt; Masih banyak karya-karyanya yang belum terdokumentasi, itu disebabkan pada tahun 1970, AI lebih konsentrasi kepada seni tari.&lt;br /&gt;  “Karena dulu sibuk menari, banyak karya yang tidak sempat diketik dan sekaranglah kesempatan untuk mengumpulkannya kembali dan dijadikan satu ke dalam buku,” tutur AI yang pada tahun 2004 pernah diudang oleh kerajaan Malaysia dalam acara pesta tari gendang nusantara 7 di Malaka.&lt;br /&gt;Setelah dirasa cukup berbasa-basi, RUMAHCERITA langsung menanyakan tentang proses pengerjaan buku antologi puisi nu-santara. Sambil mengusap ram-but, AI mene-rangkan kenapa ia butuh waktu satu tahun dua bulan untuk menyelesaikan antologi nusantara.&lt;br /&gt;“Saya butuh waktu satu tahun dua bulan untuk menyelesaikan buku antologi puisi nusantara karena juga mengerjakan buku yang lain,” ungkapnya.           “Sebenarnya saat ini saya hanya tinggal mencetak ulang saja karena sepuluh buku tersebut sudah habis,” terangnya kemudian. Arsyad Indradi juga mengatakan bahwa kawan-kawan penyair luar daerah menyebutnya sebagai penyair ‘gila’ karena memproses buku sebanyak itu dalam waktu singkat.&lt;br /&gt;Sepuluh buku itu tentu bukan karya pribadinya saja tapi beberapa karya komunitas sastra di kota Bandung.&lt;br /&gt;“Saya salut dengan keberadaan mereka sebagai komunitas sastra. Sewaktu berada di sana, saya melihat langsung apa yang mereka kerjakan. Semangat menulis mereka tinggi dan hati saya terpanggil untuk menerbitkan karya puisi mereka yang selama ini belum pernah dibukukan,” ceritanya mengenang setahun yang lalu ketika berkunjung ke kota Bandung.&lt;br /&gt;Sebenarnya ‘gila’ yang dimaksud tidak saja mengarah karena telah menerbitkan sepuluh buku, tetapi juga karena semua penerbitan buku yang sudah ada dibiayai dari isi dompetnya sendiri, termasuk antologi puisi nusantara yang dalam satu bukunya berjumlah 728 halaman.&lt;br /&gt;Mengenai ini Arsyad tenang-tenang saja, ia tidak ingin meminta bantuan, kalau tidak mampu ia akan memilih untuk diam tapi jika ada yang ingin membantu, barang tentu tanpa harus ia memintanya dulu.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah selama ini berjalan lancar. Meski demikian kendala pasti ada tapi bisa saya selesaikan,” jawabnya tulus.&lt;br /&gt;Selama mengerjakan semua buku, tak sekali dua jari tangannya tersayat pisau cutter. Utamanya pada saat mata mulai terasa berat karena kurang tidur. Arsyad akan merasa puas jika buku yang diterbitkannya murni hasil kerja tangannya sendiri. Maka tahap demi tahap, mulai dari melayout, menyusun halaman, mencetak, melipat kertas, sampai menjilid dilakukannya sendiri. Arsyad percaya bahwa tidak ada hasil yang cemerlang tanpa diawali dengan kerja keras.&lt;br /&gt;Seandainya ingin dibayangkan, sebagai pegawai negeri, sejak pagi Arsyad harus bekerja seharian. Kembali ke rumah, ia segera membuka layar komputer untuk melanjutkan pekerjaan bukunya  hingga malam. Terus begitu hingga proses penjilidan. Tentu ini sangat melelahkan.&lt;br /&gt;Tapi Arsyad selalu memotivasi dirinya sendiri bahwa pekerjaan apa pun akan selesai apabila segera dimulai. Apalagi banyak yang menyangsikan ketika AI berniat menerbitkan antologi puisi nusantara, kesangsian itu tidak mem-buatnya patah semangat, sebaliknya menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Nyatanya sekarang buku antologi nusantara telah terbit.&lt;br /&gt;Setelah cukup panjang lebar, akhirnya RUMAH CERITA undur diri agar beliau bisa melanjutkan pekerjaannya kembali.&lt;br /&gt;Selamat bekerja penyair Arsyad Indradi. Lain waktu kami datang kembali.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                              Harie Insani Putra&lt;br /&gt;                         redaktur Mini Magazine Rumah Cerita, cerpenis.&lt;br /&gt;                                        ( Rumah Cerita #01 Mei 2007 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Banjarmasin, 23 Februari 1980. Lebih banyak menulis cerpen dari pada puisi dan esai. Karya – karyanya terbit di SKH Radar Banjarmasin dan dalam publikasi sederhana. Kumpulan cerpennya Rumah Bawah Atap (2005), Belajar Mencntaimu (2005). Cerpen : Rahasia sedih Tak Bersebab Pemenang I Lomba Penulisan Cerpen pada Aruh Sastra III se Kalsel di Kotabaru  (2006) dan Cerpen : Kuyang Pemenang Harapan II Lomba Penulisan Cerpen pada Aruh Sstra V se Kalsel di Balangan (2008).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-265638627791755165?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/265638627791755165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=265638627791755165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/265638627791755165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/265638627791755165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/arsyad-indradi-menyelesaikan-sepuluh.html' title='Arsyad Indradi, Menyelesaikan Sepuluh Buku dalam Satu Tahun Dua bulan'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xCqFbXWGI/AAAAAAAACwM/epF0LiiLLWU/s72-c/Harie+Insani+Putra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-4533897072064217802</id><published>2010-05-01T07:56:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T07:59:16.729-07:00</updated><title type='text'>ARSYAD INDRADI: Antologi Nusantara Fenomena</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xBscGZU2I/AAAAAAAACwE/yUydGzzpD_U/s1600/Qinimain+Zain.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 187px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xBscGZU2I/AAAAAAAACwE/yUydGzzpD_U/s200/Qinimain+Zain.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466316279434007394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Qinimain Zain*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;FEELING IS BELIEVING. ALASAN orang tetap menghasilkan sesuatu yang kecil, karena tidak pernah berpikir ingin menghasilkan sesuatu yang besar (Brian Tracy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TULISAN (kritik sastra, bisa berupa esai, opini, artikel di koran dan majalah ) dapat dibagi atas tulisan akademis dan umum. Tulisan umum bertujuan apresiasi. Tulisan akademis, bertujuan apresiasi, tetapi juga untuk kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan masyarakatnya. Tulisan akademis penting, karena memungkinkan perspektif atau makna baru (Maman S. Mahayana, Media Indonesia, 20/04/97).&lt;br /&gt;Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, ada beberapa buku antologi sastra fenomena yang monumental, yang telah dibahas dalam tulisan akademis dan berpengaruh besar bagi pencipta sastra dan akademik. Untuk puisi, antologi pribadi seperti Chairil Anwar dengan Deru Campur Debu (1959) dan Kerikil Tajam dan yang Terempas dan yang Putus (1978), Sutardji Calzoum Bachri dengan O (1973) dan Amuk (1977), atau WS Rendra dengan Ballada Orang-orang Tercinta (1957), beberapa yang lain. Antologi bersama, seperti Angkatan 66 (prosa dan puisi) oleh HB Jassin (1968), Angkatan 2000 (Dalam Sastra Indonesia) oleh Korie Layun Rampan (2000), serta baru-baru ini, Antologi Puisi Penyair Nusantara (142 Penyair Menuju Bulan) oleh Arsyad Indradi (2006).&lt;br /&gt;Lalu, apa beda fenomena Antologi Puisi Penyair Nusantara, dibanding antologi  yang lain bagi kalangan akademisi?&lt;br /&gt;Antologi Angkatan 66 dan Angkatan 2000 adalah kesimpulan pemikiran akan fenomena yang sudah ditetapkan oleh penghimpunnya, meskipun sintesa itu masih dapat dipertanyakan. Sedang Antologi Puisi Penyair Nusantara adalah  bahan fenomena terbuka yang siap diteliti menjadi banyak kesimpulan yang berguna bagi dunia akademik dan penggiat sastra.&lt;br /&gt;Untuk mudah memahami fenomena dan meneliti puisi (juga yang lain), dalam paradigma baru (R)Evolusi Ilmu Sosial - Administrasi dan Manajemen Ilmiah Modern, Total Qinimain Zain: The Strategic-Tactic-Technique Millenium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Segmentation Research of Poetry (Lihat Diagram), dapat dijelaskan. Segmentasi semakin menekankan ke geografi, berdasarkan fenomena banyak karya, perlu contoh bahan, biaya, tenaga dan wawasan besar pula,  penelitian semakin berat, tetapi hasilnya sangat bermakna. Segmentasi semakin menekankan ke individu, berdasarkan fenomena satu karya, contoh bahan, biaya, tenaga dan wawasan relatif kecil, penelitian semakin ringan, tetapi hasilnya kurang bermakna.&lt;br /&gt;Contoh dari yang ringan, individu (individualized), membahas fenomena unsur sebuah puisi dari salah satu penyair. A. Teeuw membahas puisi Jante Arkidam dari Ajip Rosidi dalam Tergantung Pada Kata (1980). Lalu meningkat berat ke tingkah laku (behavioral), Rachmat Djoko Pradopo membahas antologi Chairil Anwar dalam Bahasa Puisi Penyair Utama Sastra indonesia Modern (1985). Berikutnya lebih berat lagi kejiwaan (psychographics), HB Jassin dengan Angkatan 66 (1968). Lalu bagaimana berikutnya dengan penelitian berkaitan usia (demographics) dan wilayah (geographics)? Antologi Puisi Penyair Nusantara dari Arsyad Indradi, terbuka menunggu penelitian baik tingkat sarjana, pascasarjana, bahkan doktoral kalangan akademik.&lt;br /&gt;Dalam antologi ini dari 142 orang, ada tiga penyair kelahiran dekade 1930-an, sepuluh, 15, 25, 31, 50 orang kelahiran 1940-an, 1950-an, 1960-an, 1970-an, 1980-an, selain 3 wanita dan 15 laki-laki tanpa mencantumkan tahun kelahiran. Tentu akan menarik meneliti  unsur puisi dari kata konkret, diksi, irama, gaya dan daya bayang mereka dihubungkan dengan usia dan tahun penciptaan puisinya. selanjutnya, domisili mereka lebih dari 53 kota yang berbeda di Indonesia dari Ambon sampai Aceh, yang tentu berbeda suku, meski beberapa penyair berasal dari kota kelahiran dan suku setempat.  Tentu akan menarik meneliti  unsur puisi dari kata konkret, diksi, irama, gaya dan daya bayang mereka dihubungkan dengan wilayah Indonesia bagian timur, tengah dan barat, atau suku tertentu berlatar budaya yang berbeda dengan pengaruh globalisasi sekarang.&lt;br /&gt;Akhirnya, sekali lagi, fenomena Antologi Puisi Penyair Nusantara penting bagi penelitian tulisan kalangan akademik dan umum. Pengadaan antologi ini telah memakan biaya, waktu, dan tenaga demikian besar, sehingga merupakan keteledoran besar jika bahan siap pakai di depan mata tersia-sia. Kecuali kalau semua pura-pura buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG yang tidak lapar akan menyatakan tentang kelapa: Kulitnya Keras! (Pepatah Abessinia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA strategi Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Direktur QPlus Management Strategies, www.scientist-strategist.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-4533897072064217802?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/4533897072064217802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=4533897072064217802' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/4533897072064217802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/4533897072064217802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/arsyad-indradi-antologi-nusantara.html' title='ARSYAD INDRADI: Antologi Nusantara Fenomena'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xBscGZU2I/AAAAAAAACwE/yUydGzzpD_U/s72-c/Qinimain+Zain.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-307190674224555886</id><published>2010-05-01T07:53:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T09:28:11.846-07:00</updated><title type='text'>Tiga Kutub Senja’ Yang Tak Berkutub</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xBAdmPyoI/AAAAAAAACv8/Nme61OgfU5s/s1600/Jarkasi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 174px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xBAdmPyoI/AAAAAAAACv8/Nme61OgfU5s/s200/Jarkasi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466315523921791618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Jarkasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             Energik! Itulah ungkapan yang tepat saat ini untuk komunitas sastrawan Banjarbaru, baik yang terhimpun dalam "Kilang Sastra Batu Karaha" maupun yang aktif secara individual. Bukan tidak mungkin, sentral tulis-menulis puisi sekarang berpusat di Banjarbaru, setidaknya ini dilihat dari keaktifan penyair-penyairnya mereaktualisasikan genre puisi dalam beberapa antologi yang dalam lima tahun terakhir cukup banyak ditampilkan. Salah satu di antara antalogi tersebut adalah, "Tiga Kutub Senja’ yang memuat puisi-puisi tiga penyair senior; Eza Thaberi Husano, Hamami Adaby, dan Arsyad Indradi. Tiga sosok ini boleh diacungi jempol, sebab cukup getol menggeluti dunia puisi.&lt;br /&gt;Semula kita memang diantar untuk menyelam ke dalam lanskap "kutub senja" dari tiga penyair ini. Tapi rupanya tidak demikian. Kita belum mendapatkan lanskap senja itu kecuali beberapa untaian puisi yang ditulis oleh Arsyad Indradi. Yang kita temui justru aneka refleksi penyairnya yang menganggap diri usia menjelang senja.&lt;br /&gt;Aneka obsesi menyeruak dalam antalogi ini, namun sayang antologi terkesan tidak membuhul dalam tematik senja sebagaimana diutarakan dalam pengantar penerbit. Masih terdapat pula karya-karya lama yang dimuat dalam kumpulan ini. Meski begitu, kita agak sedikit terobati oleh pemakluman imaji penyair yang melanglang buana dari pengusungan tema-tema yang variatif.&lt;br /&gt;Eza Thaberi Husano mungkin lebih kuat dalam perlambangan dan simbol-simbol kehidupan yang merintih. Puisi-puisinya punya maksud serius tentang eskpresi kegelisahan atas kondisi alam, zaman, dan keterpurukan manusia. Lihatlah misalnya dalam "Urbanisasi Anak-anak Puisiku", ungkapan-ungkapan bumi sakit terkapar, sakit tak ada awal tak ada akhir, seperti khotbah takdir kepada penyair, anak-anak puisiku: hidup itu melayuh duri.&lt;br /&gt;Berbeda dengan itu, puisi-puisi Hamami Adabi agak reportois pada alam tanpa opini. Ia seorang pengagum alam yang bicara dari langit ke langit dan dari lanskap ke lanskap. "Pelangi Senja" Cakrawala pelangi selalu kukagumi, karena selingkuh warna, air, matahari dan bumi, meneteskan gula paduan zatnya.&lt;br /&gt;Masih kita dapatkan lagi imaji-imajinya pada laut "Di Atas Kapal" Angin berlomba mengejar Samudera, berlomba menggetar sukma, begitulah seterusnya adinda. Boleh jadi sisa-sisa romantik masih berkesan di jiwa penyair ini sebagaimana kita dapatkan dalam sajak "Ballada di rumah sakit" aku pamit, kubisiki,kita selalu bersama sayang.&lt;br /&gt;Arsyad Indradi, penyair yang juga penari ini memang kelihatan lebih mempertimbangkan kematangan dalam menangkap kelebat imajinya. Arsyad kembali menuranikan obsesinya dalam efek relegiusitas di tempat yang paling tinggi, di puncak nurani.&lt;br /&gt;Imajinya menggelandang ke dalam relung hati, menjelajah tubuh dan mengisi nikmatnya dahaga, masuk ke dalam lubuk jantungnya. Asosiasi makna yang terdapat dalam style imagis Arsyad terasa lebih bebas menggiring dan bergerak menekan konteks.&lt;br /&gt;Bila kita dapat lebih khusyu dengan idiom-idiom putik kita seakan diajak penyair menelisik mengikuti perjalanan batinnya yang sendu. Tak ada kekakuan idiom (ufoni), bahasanya bergerak manja untuk kita ikuti ke sana kemari.&lt;br /&gt;Semua puisi yang beringuh romantis ini ditulis di tahun 2000. Tentu ini prestasi tersendiri. Namun, amat sayang pula kita mesti mencari tahu sistem yang lecentia poetica Arsyad dalam penulisan tanda hubung pengulang yang ditanggalkan begitu saja seperti, mazmurmazmur, akarakaran, gordengorden, gurungurunmu, riakdemiriak, masasilamku, burungburung, awanawan, rindudendam, bayangbayang, bintangbintangMu, karangkarang, langitlangitmu, hentihenti, halamandemihalaman, acuhtakacuh, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Hampir setiap judul puisi berisi sistem penulisan itu, padahal itu sebuah sistem yang tidak lazim. Tentu ketaklaziman ini sebuah refleksi licentia poetica yang hanya diketahui penyairnya.&lt;br /&gt;Pertanyaan kita, mestikah konstruksi ini diciptakan seperti itu tanpa historisitas meaning. Tentu jawaban yang diharapkan bukan sekadar berlindung dalam legitimasi kebebasan penyair, tapi lebih dimungkinkan ada efek semiotik yang ingin disuntikan dari konstruksi itu. Bertebarannya konstruksi ini agak menggangu kenikmatan.&lt;br /&gt;Meski demikian, kita perlu salut untuk ketiga penyair "Tiga Kutub Senja" atas kerja keras mereka membangun komunitas. Biarlah, komunitas ini lahir, hidup, besar dan mati sendiri di tempat ini, meski orang-orang sana memang tidak peduli untuk kelahiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarkasi, pengamat seni dan budaya di Banjarmasin&lt;br /&gt;Dimuat di http://www2.kompas.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarkasi&lt;br /&gt;Dilahirkan di Kertak Hanyar, 30 Mei 1960. Sarjana FKIP Unlam  Banjarmasin, sekaligus dosen pada almamater tersebut. Mulai menulis puisi, cerpen, serta esai-esai sastra dan budaya sejak tahun 80-an. Publikasi tulisan antara lain : di SKH Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Radar Banjarmasin, Tabloid Wanyi dan Jendela Serawak (Malaysia). Buku-buku yang sudah diterbitkannya adalah Kajian Prosa Fiksi dan Drama (1999), Karakter Tokoh-tokoh Idaman Cerpen Banjar Modern (1999), Struktur Sastra Lisan  Lamut (2000), Sketsa Penyair Kalimantan Selatan (2001), Mamanda : dari Realitas Tradisional ke Kesenian Populer, dan Madihin : Hakikat, Fungsi dan Formula. Buku yang siap untuk diterbitkan berikutnya adalah, Geliat Seni Pertunjukan di Banjarmasin dan Lamut : sebuah Kajian Internal dan Eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-307190674224555886?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/307190674224555886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=307190674224555886' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/307190674224555886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/307190674224555886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/tiga-kutub-senja-yang-tak-berkutub.html' title='Tiga Kutub Senja’ Yang Tak Berkutub'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xBAdmPyoI/AAAAAAAACv8/Nme61OgfU5s/s72-c/Jarkasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-7397353623823676753</id><published>2010-05-01T07:46:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T07:49:48.245-07:00</updated><title type='text'>Sastra dan Facebook: Berteman atau Bermusuhan?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w_gHbtLHI/AAAAAAAACv0/E9kqSfGTRxg/s1600/Mahmud+Jauhari+Ali.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 185px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w_gHbtLHI/AAAAAAAACv0/E9kqSfGTRxg/s200/Mahmud+Jauhari+Ali.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466313868704558194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Mahmud Jauhari Ali&lt;br /&gt;Pecinta Bahasa dan Sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Judul di atas bisa jadi sedikit konyol bagi sebagian orang. Bisa jadi ada orang yang  berpikir, apa hubungan keduanya hingga dipertanyakan berteman atau bermusuhan?  Sastra memang telah lahir sejak dahulu dan facebook baru berumur lima tahun lebih.  Sastra  sudah lahir sejak lama, jelasnya sejak saya dan Anda belum lahir. Karena itulah kita mengenal adanya sastra lama dan sastra mutakhir. Baik sastra lama, maupun sastra mutakhir  sama-sama mengemban dua hal utama, yakni bermanfaat dan menghibur. Kita mengenal dua hal itu dengan istilah dulce et utile. Saat ini sebagian dari kita sering berkutat pada sastra mutakhir dan tanpa melupakan sastra lama dalam pelestariannya. Kita berharap dan berusaha sastra tetap eksis seterusnya dari masa ke masa.&lt;br /&gt;Sementara itu—Mark Elliot Zuckerberg—si pembuat facebook itu dengan dibantu dua temannya, yakni Dustin Moskovitz dan Chris Hughes meluncurkan facebook sejak 4 Februari 2004 lalu. Tidak dapat kita pungkiri facebook merupakan situs jejaring sosial yang terasa sekali membuminya di tanah air kita sejak akhir tahun 2008 dan terus berkembang hingga hari ini. Kenyataannya, mulai dari anak SD sampai orang dewasa di Indonesia telah menjadi anggota situs jejaring sosial yang satu ini. Facebook tidak jauh beda dengan situs jejaring sosial lainnya seperti myspace, friendster, linked in, fupei, bebo, hi5, dan twitter dalam hal persahabatan dunia, di samping perbedaan fasilitas yang ada pada masing-masing  situs jejaring sosial tersebut. Dengan menjadi anggota di facebook, kita dapat menemukan teman-teman lama dan baru serta berkomunikasi  dengan mereka. Kita dapat menuliskan ide atau gagasan di ruang yang sudah disediakan pihak perusahaan facebook tersebut. Berbagai-bagai ide dituliskan dalam ruang masing-masing pengguna situs jejaring sosial asal paman Sam itu, yakni mulai dari hal sederhana sampai hal serius.&lt;br /&gt; Dari sekian banyaknya pengguna facebook itu, sebagian sastrawan di Indonesia juga ikut menjadi penggunanya. Sebagian sastrawan rupanya tidak mau ketinggalan dalam hal teknologi internet. Hal itu dapat kita maklumi karena sejatinya sastrawan itu adalah cendekiawan andal. Sebagian sastrawan yang saya maksud itu mencakup sastrawan Kalimantan Selatan (Kalsel) dan di luar Kalsel. Sebut saja Arsyad Indradi. Penyair asli Kalimantan Selatan ini selain sebagai pelaman (blogger) yang andal, juga aktif sebagai pengguna facebook (facebooker). Di facebook, Arsyad Indradi meletakkan puisi-puisi bermutunya untuk dinikmati dan diambil manfaatnya oleh pengguna facebook lainnya. Tentu saja dengan puisi-puisinya itu, secara otomatis sastra merambah dunia jejaring sosial yang satu ini. Selain itu, jangkauan sastra pun menjadi semakin luas.&lt;br /&gt;           Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbincang santai dengan Arsyad Indradi soal facebooksan sastra. Pada intinya Arsyad Indradi menginginkan publikasi sastra yang luas jangkauannya dan tentunya juga dapat dinikmati serta diambil manfaatnya oleh banyak orang di berbagai belahan bumi kita. Menurutnya, facebook apat menjadi media publikasi sastra sekaligus ruang diskusi sastra yang menarik bagi siapa saja. Jujur, saya sangat setuju dengan pemikiran Arsyad Indradi ini. Mengapa ? Karena facebook memang sebuah media yang sangat luas jangkauannya dan kita dapat memublikasikan karya-karya kita serta&lt;br /&gt;berdiskusi antar pengguna facebook secara serius. Dengan kata lain, facebook kita dapat memublikasikan karya sastra kita disertai diskusi yang luas. Bukan hanya diskusi dengan sesama sastrawan, melainkan juga dengan orang banyak dari berbagai bidang kehidupan.&lt;br /&gt;Jadi, kita dapat berusaha membumikan sastra secara luas via facebook.&lt;br /&gt;          “di sebuah rumah tua/di sudut sebuah kota/seorang anak kecil /menangis di samping ibunya/yang terbaring di sepotong tikar butut/berjuang mempertahankan sebuah nafas yang terakhir/untuk meneteki satu tetes susu buat anaknya “, kata-kata itu adalah penggalan salah satu puisi penyair Arsyad Indradi berjudul Seorang Anak Kecil Minta Susu Kepada Ibunya Yang Mati yang diletakkannya di facebooknya.  Puisi itu tentunya mendapat komentar dari pengguna facebook lainnya, seperti Hamberan Syahbana (sastrawan Kalsel) dan Abdul Kohar Ibrahim ( seorang sastrawan dan pelukis kelahiran Jakarta, 1942 dengan nama lukis Abe ).&lt;br /&gt;Yang sangat menarik, Arsyad Indradi disamping memperkenalkan bahasa Banjar, banyak memuat puisi-puisi bahasa Banjar di facebook ini seperti Bagandang Nyiru, Kai Adul, Nisan Balumur Darah dan lain-lain.Puisi tersebut termuat dalam kumpulan puisi bahasa Banjar dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia “ Kalalatu “.&lt;br /&gt;           Selan puisi, para pengguna facebook dari kalangan sastrawan juga dapat meletakkan cerpen, esai sastra, naskah dramadan lainnya. Sebagai contoh lain, Hamberan Syahbana meletakkan naskah-naskah dramanya di facebooknya disertai komentar dari pengguna lainnya. Arsyad Indradi dan Hamberan Syahbana merupakan bukti bahwa  sastrawan Kalsel memajukan sastra di mata dunia melalui media-media yang dapat mereka manfaatkan, termasuk via facebook ini.&lt;br /&gt;          Jika anda adalah seorang pengguna facebook, Anda dapat menemukan nama-nama seperti Ahmadun Yosi Herfanda,Radhar Panca Dahana, Agus R Sarjono, Kurnia Efendi, Dimas Arika Mihardja, Diah Hadaning, Saut Situmorang, Hudan Hidayat, Abdul Kohar Ibrahim, Isbedy Stiawan SZ, Yusri Fajar, acep Zamzam Nur, Asma Nadia, Healvy Tiana Rossa dan lain-lain yang kesemuanya merupakan sastrawan Indonesia yang andal. Dalam hal ini kita dapat berdiskusidengan mereka berkenaan dengan sastra dan lainnya, selain berdiskusi dengan sastrawan Kalsel. Diskusi tentunya lebih baik dilakukan daripada sekedar diam sambil manggut-manggut mengamini kata-kata orang terkenal kan ?&lt;br /&gt;          Facebook memang hanyalah sebuah situs di dunia maya, tetapi dapat kita manfaatkan untuk kemajuan dunia sastra nyata di Kalsel dan juga dalam cakupan wilayah yang lebih luas lagi dari pada itu. Mungkin sebagian dari kita masih gaptek dengan teknologi internet. Akan tetapi, saya yakin dengan banyak bertanya dan membaca buku-buku seputar teknologi internet, insya Allah gapteknya menjadi hilang. Mau tidak mau,  kita harus menyentuh dan memanfaatkan kemajuan zaman. Facebook merupakan salah satu wujud kemajuan zaman yang dapat kita manfaatkan untuk kebaikan dalam dunia sastra. Walau demikian, bagi yang bekerja di kantoran, khususnya di di perusahaan, saran saya jangan terlalu sering menggunakan facebook agar pihak perusahaan tempat Anda bekerja tidak memblokir situs jejaring sosial ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa ada  perusahaan yang memblokir situs ini karena  para karyawannya terlalu sering menggunakan facebook sehingga kinerja mereka menurun. Bagi yang bukan orang kantoran pun jangan juga terlalu berlebihan dalam menggunakan facebook. Kita harus meluangkan waktu untuk yang lain. Seperti shalat dan menulis di media cetak&lt;br /&gt; Sastra dan facebook dapat berjalan dengan rukun selama kita sebagai pelaku keduanya dapat berlaku bijaksana. Maksudnya, kita dapat menggunakan facebook dan  mengisi ruang-ruang yang tersedia di situs itu dengan karya sastra tanpa berlebihan. Selain itu, kita saling mengomentari tulisan yang ada di facebook secara sehat. Dengan demikian, antara sastra dan facebook ada hubungan yang harmonis. Harmonis dalam arti, sastrawan dan pihak facebook dapat berjalan bersama dalam hubungan yang saling menguntungkan. Sastrawan mendapat keuntungan bisa memajukan sastra lewat facebook. Pihak facebook pun mendapatkan keuntungan dengan adanya para sastrawan sebagai penggunanya yang aktif.  Demikianlah tulisan saya yang sangat sederhana ini. Semoga apa yang saya tuliskan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-7397353623823676753?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/7397353623823676753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=7397353623823676753' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/7397353623823676753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/7397353623823676753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/sastra-dan-facebook-berteman-atau.html' title='Sastra dan Facebook: Berteman atau Bermusuhan?'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w_gHbtLHI/AAAAAAAACv0/E9kqSfGTRxg/s72-c/Mahmud+Jauhari+Ali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-7180747958629874480</id><published>2010-05-01T07:37:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T07:46:19.003-07:00</updated><title type='text'>Antologi Puisi Penyair Nusantara : Dari Negeri Bandung Menuju Bulan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w-rrr11SI/AAAAAAAACvs/Qgs2WGn2tI8/s1600/Bambang+Widiatmoko.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 188px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w-rrr11SI/AAAAAAAACvs/Qgs2WGn2tI8/s200/Bambang+Widiatmoko.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466312967902844194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                               Oleh : Bambang Widiatmoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;          Perdebatan tentang mazhab romantisme mungkin tak akan pernah berakhir. Terutama relevansi romantisme yang berkembang di kesusastraan Eropa di abad ke-19 dalam kesusastraan Indonesia. Namun banyak yang sepakat mazhab romantisme di Eropamengacu pada suatu gerakan seni-sastra yang bisa ditelusuri sejak akhir abad ke-18 di Eropa Barat, khususnya Jerman dan kemudian Inggris, yang menjadi aliran menonjol di pertengahan abad ke-19 ke seantero Eropa dan belahan dunia lainnya.&lt;br /&gt;        Sapardi Djoko Damono dan Saini K.M. menguraikan munculnya romantisme Eropa sebagai suatu reaksi terhadap suatu aliran yang disebut sebagai Klasisisme, yang menitik beratkan pada keseimbangan, aturan dan konvensi dalam seni, mengedepankan intelektualitas dan rasio, objektivitas serta orientasi budaya yang mengacu pada tatanan sosial politik yang didominasi oleh kaum elit bangsawan dan agamawan.&lt;br /&gt;        Sementara di Amerika, munculnya romantisme menurut Melani Budiana, bertolak dari kejenuhan terhadap dominasi dogma aliran Kristen Puritan Kalvas, dan cara berpikir pencerahan yang rasional, dan cenderung steril dan emosi. Kembali melihat masa lampau, yang jauh dari hingar bingar peradaban masa kini merupakan salah satu ciri romantisme, seperti yang dipelopori oleh Sir Walter Scott dengan genre sastra sejarahnya. Kecenderungan yang sama juga mengarah pada eksotisme, suatu orientasi kepada yang asing, dan yang jauh, yang digambarkan sebagai dunia yang mempesona dan eksotik.&lt;br /&gt;         Seni romantik menggali inspirasi dari seni yang tumbuh dari kehidupan rakyat kecil sehari-hari seperti balada, folklor, dongeng, dan legenda. Dengan aspel-aspek yang diutamakan oleh gerakan romantisme, William Shakespeare, dramawan yang hidup tiga abad sebelumnya (1564-1616) menjadi populer kembali di masa romantik.&lt;br /&gt;         Bagaimana dengan romantisme dalam naskah-naskah lama di Nusantara ? Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1814 sampai 1823 dan diprakarsai oleh Adipati Anom Amangkurat III, yang kemudian menjadi raja dengan gelar Sunan Paku Buwana V (1820-1923), mengungkapkan juga erotik romantisme. Serat Centhini merupakan ensiklopedi budaya Jawa yang sangat berharga karena membicarakan banyak perkara dan peristiwa yang mengandung keagungan. Kandungan isinya sangat beragam, meliputi sejara, pendidikan, geografi, arsitektur, pengetahuan alam, falsafah, agama, tasawuf, mistik, ramalan dan sebagainya.Kita juga bisa menemukan masalah sanggama dan romantisme yang terkandung dam Serat Centhini,&lt;br /&gt;          Suasana romantik dapat saya temukan kembali ketika membaca Antologi Puisi Penyair Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan, diterbitkan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru Kalimantan Selatan, tahun 2007.&lt;br /&gt;          Dalam antologi ini, banyak puisi-puisi yang mengungkapkan erotik romantisme. Kita lihat dalam puisi Aen Trisna Wati berjudul Mimpi Basah : //mengendapkan kerinduan/pada dinding kamar, pada detak hujan, pada dingin/yang menyeka malam menjadi malam/suara batuk tertancap di gemuruh/menjadi sunyi/menyimpan kerinduan/pada sebotol air putih/kemudian kuteguk/menjadi bayang-bayang/menjelma lingkar matamu/hingga masuk ke kantung kemihku/malam kian sunyi/kutitipkan puisi rindu/di atas bantal biru/lalu mengecup bayangmudan bergumam pelan/’selamat malam’/dan lelap resah hingga basah/ (hal.12).&lt;br /&gt;           Juga puisi Ahmad Syam’ani berjudul Syair Perempuan ://Lihat, salam hangat perempuan/Lentik matanya/Ketika sedikit kata-kata menari/Sampai jejak pintu pentas pun memanggil/Namanya, dengan tekun// (hal.33).&lt;br /&gt;           Atau puisi Ali Wardana berjudul Ronggeng://Menimbang lenggok senyum selendangmu/kembangkan lanskap dukuh kumuh/ di tingakah dayu kembang/disela suit serta tepuk tangan/di buai ketipak kendang (hal.63). Begitu pula dengan puisi Aminuddin Rifai berjudul Makrifat Sungai://amboi/aku kembali memastikan/bahwa syahwatku telah basah/oleh mengintipmu/di sungai// (hal.70). Bisa diperpanjang lagi dengan puisi Aslan Abidin berjudul Polispermigate ://tapi nawang wulang, aku juga suka/membayangkan kau membuka celana/untukku dan mungkin aku terkesiap/menatap kemaluanmu yang mangap//(hal.102).&lt;br /&gt;           Masih banyak puisi yang berkisah tentang romantisme ditulis dengan baik oleh penyairnya. Begitu pula beberapa penyair berhasil menuliskan puisi tentang perempuan dengan cukup memikat. Ada satu puisi berhasil mengungkapkan tentang dunia waria ditulis Boufath Shahab berjudul Kau Tahu Sihir Waria : //jika sekali saja kau kerlingkanmata/akan kusihir dunia menjadi semesta canda dan tawa/pernahkah kau berpikir tentang ruh perempuan yang terjebak/di sekujur badan lelaki, karena kesalahan malaikat pengatur jasad ?/maka bermain-mainlah di kedalaman kelaminku/aku akan telanjang bersama kupu-kupu/atau jika kau mau, aku akan menjadi seekor kupu-kupu yang/telanjang bersamamu/mungkin akan kau temukan bekas-bekas air matabahagia ibu/ketika pertama kali aku mampu mengeja namaku/dan ia menghadiahiku sebutir bola yang penuh warna/kudekap perut ibu : ibu, aku tak bahagia/aku merindukan sebuah boneka// (hal.121).&lt;br /&gt;           Buku setebal 728 halaman hasil kerja keras Arsyad Indradi selaku editor menunjukkan betapa beragamnya tema-tema yang ditulis penyairnya. Tentu tidak semua penyair yang terlibat di dalamnya, berhasil menampilkan puisinya dengan baik. Beberapa puisi terkesan masih dangkal. Bahkan saya menemukan puisi yang ditulis dengan gaya penulisan puisi mbeling seperti yang pernah dipopulerkan Remy Silado.&lt;br /&gt;           Seperti puisi yang ditulis Ahmad S.Rumi berjudul Negeri Bandung ://Di negeri Bandung/Puisi cukup mahal/Jalannya beraspal/Jalurnya ditunggu preman/Redakturnya amat terkenal//(hal.29).Kutipan bait pertama dalam puisi tersebut menunjukkan bahwa penyairnya hanya mencoba bermain-main dengan kata-kata, belum mencoba mengolah secara lebih mendalam tentang Negeri Bandung. Lantas apa manfaatnya bagi bublik sastra jika disajikan puisi-puisi semacam itu ?&lt;br /&gt;          Begitu pula bila membaca puisi-puisi yang bertabur huruf kapital, apakah lantas dengan demikian mengubah puisi tersebut menjadi puisi relegius ? Misalnya dalam puisi yang ditulis Kiki Turki berjudul Surat Untuk Kekasih I :// Di malam sunyi ku terbangkan daun-daun doa/sampaikan pesanku pada-Mu?/Kekasih, aku alpa pada-Mu/Tapi tidakjkah Kau ampuni aku//(hal.342). Juga pada : //Kekasih …./Hari ini aku menelpon-Mu kembali/Jawablah walau sekedar veronica! (hal.343).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Tentunya jika yang dimaksud ingin menulis puisi religius, tidak sesederhana atau sekedar menempelkan huruf kapital. Setiap manusia memiliki naluri religiusitas, yaitu naluri untuk berkepercayaan. Naluri itu muncul bersamaan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup dan alam raya yang menjadi lingkungan hidup sendiri. Keberagamaan atau religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Konsep religiusitas adalah rumusan brilian, yang mencoba melihat keberagamaan seseorang bukan hanya dari satu atau dua dimensi, tetapi mencoba memperhatikan segala dimensi.&lt;br /&gt;           Keberhasilan menuliskan segala dimensi sebagai suatu konsep religiusitas tampak dalam puisi Ali Syamsuddin Arsi berjudul Bermain Bersama Anak-Aanak ://Tuhan, jarak sepereti apa lagi yang akan engkau paparkan/dariliku-likunya kasih sayang, sementara cinta/haruslah tetap dipertahankan/waktu sampai ke batas kematian/karena keabadian itu merupakan sumber bayangmu/dari zaman ke zaman, dari ruang ke ruang//(hal.55).Tanpa harus bertabur huruf-huruf kapital pun sudah sangat jelas penyairnya berhasil menuliskan sajak religiusnya.&lt;br /&gt;            Begitu pula jika membaca puisi yang ditulis Arsyad Indradi berjudul Darah, penyairnya berhasil menyajikan makna religiusitas dalam puisinya ://Adalah langit darah berdarah/Tak habishabis jadi laut berabad-abad telah/tak berpaus di atasnya rajah perahu Nuhmu/tak singgahsinggah pada dermaga darahku/Hu Allah darahku hanyut dalam darahmu/kutubku tenggelam dalam kutubmu/menghempas napas darahku membatubara/ di kunci rahasia Alifmu Alif Alif/darah Adamku yang terdampar di bumi/yang rapuh berabad-abad mencari darah Hawaku/yang rapuh tersesat di belantaramu meraung/darah laparku mencakarcakar  mencari darahku/beri aku barang setetes Hu Allah/getar alir napas menyeru darahmu/mengalir darahmataku mengalir dari musafir/di sajadahmu/mengalir menuju rumahmu (hal.88).&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;                                                          -oOo-&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Beberapa kelemahan terkesan agak mengganggu dan bisa untuk koreksi dalam penerbitan antologi puisi selanjutnya. Seperti pemuatan puisi yang sama pada halaman 33 dan 35. Pemuatan foto pada halaman 698,699,700,7001,7002 terasa sangat mengganggu, apalagi tanpa ada penjelasan sama sekali dari editor dalam kata pengantarnya. Ada ungkapan yang menyebutkan satu foto mewakili seribu kata-kata. Puisi di halaman tersebut menjadi berkurang maknanya setelah kita melihat foto yang menyertainya. Maaf, tanpa ada penjelasan lebih rinci, judul yang tepat untuk buku ini adalah antologi puisi dan foto.&lt;br /&gt;          Sebagai penutup tulisan ini, kita kutip saja penggalan puisi dalam antologi 142 Penyair Menuju Bulan, barangkali bisa merefleksikan isi keseluruhan antologi puisi ini seperti ditulis Ahmadun Yose Herfanda://Ah,apapun yang terjadi padamu/Indonesia, aku tetap mencintaimu (hyal.39).Atau boleh juga puisi Dimas Arika Mihardja ://’kulihat ibu pertiwi/sedang berduka hati…’/Indonesia bau, begitu kita berseru/Indonesia baru, berseteru melulu//(hal.158).&lt;br /&gt;           Apa pun wujud dan isi dari antologi  puisi : 142 Penyair Menuju Bulan, tetap dapat menjadi rujukan untuk mengkaji perkembangan sastra di Indonesia. Semoga ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-7180747958629874480?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/7180747958629874480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=7180747958629874480' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/7180747958629874480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/7180747958629874480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/antologi-puisi-penyair-nusantara-dari.html' title='Antologi Puisi Penyair Nusantara : Dari Negeri Bandung Menuju Bulan'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w-rrr11SI/AAAAAAAACvs/Qgs2WGn2tI8/s72-c/Bambang+Widiatmoko.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-4789425869648601464</id><published>2010-05-01T07:31:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T07:37:32.162-07:00</updated><title type='text'>Setia Berkarya Hingga Usia Senja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w8nr50cSI/AAAAAAAACvk/5EzMZC-8Aig/s1600/Aliansyah+Jumbawuya.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 176px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w8nr50cSI/AAAAAAAACvk/5EzMZC-8Aig/s200/Aliansyah+Jumbawuya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466310700218741026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Aliansyah Jumbawuya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Para sastrawan muda yang hari ini cukup kreatif dan produktif mempublikasikan tulisannya di berbagai media massa, ada baiknya sejenak mempertanyakan pada dirinya: akankah terus berkarya hingga usia tua, bahkan sampai maut menjemput? Ataukah kehadirannya di blantika sastra hanya untuk sesaat, kemudian  menghilang tanpa jejak? Sebab, sejarah mencatat tidak sedikit mereka yang dulunya begitu bersemangat berkarya, entah karena faktor apa, kini tak terlihat lagi goresan penanya.&lt;br /&gt;Di sinilah bedanya antara penulis amatir dan penulis profesional. Idealnya ketika seseorang memilih berkecimpung di dunia sastra, sepanjang usia ia dedikasikan untuk berkarya. Meskipun sampai sekarang umumnya dari segi materi karir sebagai penulis lepas (freelance) belum bisa dijadikan sandaran hidup, kecuali buku-bukunya best seller di pasaran. Namun sebenarnya hal itu dapat  disiasati, kalau tidak bisa totalitas atau semata mengharapkan sumber nafkah dari menulis, minimal sebagai pekerjaan sampingan. Di Kalsel cukup banyak sastrawan yang menjadikan menulis sebagai profesi sampingan. Ada yang aktivitas utamanya jadi PNS (Micky Hidayat, Tajuddin Noor Ganie, A Bacco), dosen (Setia Budhi, Sainul Hermawan), guru (Ali Syamsuddin Arsi, Jamal T Suryanata, Zulfaisal Putera, Hasbi Salim), wartawan (Aliansyah Jumbawuya, Sandi Firly), dan lain-lain. Yang penting, ia tidak lupa untuk terus berkarya.&lt;br /&gt;Inti persoalannya ialah, apakah kita memang serius atau cuma setengah hati mencintai sastra. Kalau kita sungguh-sungguh kepincut pada bidang sastra, maka kepuasan batin dalam berkarya akan menjadi prioritas utama, sementara imbalan finansial boleh jadi menempati  urutan ke-19 dalam pertimbangan. Sekali lagi, kadar cintalah yang menentukan panjang atau pendekya nafas seseorang untuk berkarya. Bukan karena faktor di luar diri (ekternal). Ibarat orang menikah, kalau cintanya sejati maka sampai pasangan hidupnya keriput dan ringkih perasaan dia tetap penuh gelora, tak ada niat untuk berpaling apalagi meninggalkan.&lt;br /&gt;Di Kalsel ada beberapa sosok sastrawan yang hingga memasuki usia senja tetap setia berkarya. Penyair Arsyad Indradi tak hanya menggebu-gebu jika diajak diskusi tentang sastra, juga dibarengi dengan produktivitasnya dalam  melahirkan puisi-puisi. Karya-karyanya dapat dilihat dari antologi puisi tunggalnya : Nyanyian Serberibu Burung, Romansa Setangkai Bunga, Narasi Musafir Gila dan Kalalatu puisi Bahasa Banjar dan terjemahan Bahasa Indonesia Kumpulan puisi bersama antara lain : Jejak Berlari, Panorama, Tamu Malam, Jendela Tanah Air, Rumah Hutan Pinus, Gerbang Pemukiman, Bentang Bianglala, Cakrawala, Bahana, Bulan Ditelan Kutu, Anak Zaman, Baturai Sanja, Tiga Kutub Senja dan Dimensi dan lain-lain. Terakhir, ia menerbitkan buku 142 Penyair Menuju Bulan. Bayangkan, dari mengumpulkan bahan dengan menyurati para penyair yang tersebar di Nusantara, mengedit, mencetak -- konon katanya sampai beberapa buah printernya  rusak – termasuk pembiayaan ditanggungnya sendiri. Begitu rampung, antologi puisi itu dia bagi-bagikan dan sebar secara gratis. Mungkin tak banyak orang yang mau melakukan hal itu. Karenanya, tak heran jika ia kemudian dijuluki “Penyair Gila”.&lt;br /&gt;Menurut istilah Arsyad Indradi, kalau kita ingin citra penyair Kalsel diperhitungkan di tingkat nasional harus berani ‘berdarah-darah’. Dan itu tak sekadar diucapkannya, tapi dibuktikan dengan tindakan riil. Alhasil, nama Arsyad Indradi memang meroket. Bukan hanya di media lokal, koran-koran nasional pun membicarakan sosok dan kiprahnya.&lt;br /&gt;Gebrakan lain yang dilakukan Arsyad Indradi ialah membuat blog, sehingga pembaca di belahan dunia manapun dapat menikmati karya-karyanya. Bahkan ia punya trik jitu tersendiri, sehingga kalau orang mengetik penyair Nusantara di internet, pastilah namanya yang nongol duluan. Ternyata meskipun sudah tua, Arsyad Indradi tak mau ketinggalan dalam penguasaan teknologi untuk menunjang publikasi karya-karyanya.&lt;br /&gt;Penyair berikut yang walaupun sudah jadi seorang kakek, namun tetap eksis berkarya adalah Hamami Adaby. Pensiunan Kepala Kantor Departemen Penerangan Tabalong (1986-1994) dan Batola (1994-1998) ini gairahnya dalam bersastra sudah tak diragukan. Hal itu tergambar dari kesinambungannya dalam berkarya, sebagaimana bisa dilihat dari buku antologi pribadi: Desah, Senja, Iqra, Nyanyian Seribu Sungai, Kesumba, Bunga Angin, Dermaga Cinta, Uma Bungas Banjarbaru dan Kaduluran. Belum lagi karya-karyanya yang tersebar dalam antologi bersama.&lt;br /&gt;Mampu menerbitkan buku, katanya, merupakan kebahagiaan yang tak ternilai. Karena itu, ia berusaha setiap hari untuk berkarya. “Orang ribut-ribut bagi BLT juga bisa dijadikan puisi,” ujar Hamami Adaby ketika acara selamatan di rumah Sainul. Pernyataan itu menegaskan, betapa ia tak pernah berhenti untuk berkarya.&lt;br /&gt;Begitu pula dengan HM Syamsiar Seman, di usia senjanya terus berkarya. Kalau dulu pria kelahiran Barabai 1 April 1936 ini gencar menulis puisi dan cerpen, belakangan ia lebih konsentrasi mengangkat seni budaya Banjar. Sudah banyak buku yang dihasilkannya, bahkan sebagian dikoleksi di perpustakaan Washington, Amerika Serikat. Katanya, dengan menulis buku dapat memperpanjang usia; walaupun kita sudah meninggal dunia buah karya kita tetap dikenang orang.&lt;br /&gt;Atas dasar pertimbangan itulah semangat berkarya Syamsiar tak pernah surut. Ia menulis tak terikat waktu, bisa kapan dan di mana saja. Kadang sambil mengambil gaji pensiunan, karena menunggu panggilan cukup lama, ia duduk di pojok ruangan untuk menulis. Demikian juga saat di rumah sakit daripada bingung menanti giliran antri ia corat-coret kertas untuk bahan tulisan. Bahkan Syamsiar punya kebiasaan unik, setiap naik taksi dia pasti memilih bangku depan – dengan begitu selama dalam perjalanan ia bisa menulis.&lt;br /&gt;Sungguh semangat dan dedikasi berkarya mereka patut untuk ditiru. Faktor ketuaan bukanlah penghalang dalam berkreasi. Justru, ibarat kelapa makin tua makin bersantan. Dengan beragamnya pengalaman hidup yang direguk,  tentu makin banyak pula bahan yang bisa diolah untuk berkarya.  &lt;br /&gt;Kondisi kesehatan yang tidak seprima ketika masih muda, bukan alasan buat berhenti berkarya. Sebab menulis lebih dominan menggunakan pikiran ketimbang tenaga. Buktinya, Kuntowijoyo (alm) saat dalam kondisi sakit parahpun tetap mampu menghasilkan karya sastra. Karena kelima jarinya tidak bisa digerakkan, ia mengetik menggunakan satu jari. Bahkan, ketika sudah tak berdaya ia minta bantu pada sang istri dengan mendiktekan isi pikirannya. Ya, hanya kematian yang bisa menghentikan dia untuk berkarya.&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan sastrawan-sastrawan muda yang masih energik dan punya masa depan panjang, dapatkah membuktikan diri mereka untuk terus berkarya hingga batas usia? Biarlah waktu yang akan menjadi saksi!&lt;br /&gt;      ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padaringan Sastra, 19 Juli 2008&lt;br /&gt;Aliansyah Jumbawuya, sastrawan tinggal di Banjarmasin.. Terbit di : Banjarmasin Post, minggu 24 Agustus 2008.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-4789425869648601464?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/4789425869648601464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=4789425869648601464' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/4789425869648601464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/4789425869648601464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/setia-berkarya-hingga-usia-senja.html' title='Setia Berkarya Hingga Usia Senja'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w8nr50cSI/AAAAAAAACvk/5EzMZC-8Aig/s72-c/Aliansyah+Jumbawuya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-2733197801886986742</id><published>2010-05-01T07:26:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T07:31:16.283-07:00</updated><title type='text'>Arsyad Indradi Menuju Bulan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w7GG6VADI/AAAAAAAACvc/IoM4ha9fqQQ/s1600/Syafuddin+Gani.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w7GG6VADI/AAAAAAAACvc/IoM4ha9fqQQ/s200/Syafuddin+Gani.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466309023841452082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Syaifuddin Gani*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bismillah. Pukul 21.00 Wita. Setelah menunggu sekian jam, koran nasional dari Jakarta akhirnya datang juga. Memang untuk mendapatkan koran Jakarta, harus menunggu sampai malam. Aku membeli beberapa, termasuk Harian Republika. Koran Kendari, yang tiga buah itu, tidak menyediakan rubrik sastra dan budaya. Sehingga bisa dibayangkan, seperti apa wajah kebudayaan dan kesusastraan di daerah yang pernah memiliki Kesultanan Buton/Wolio ini. Salah satu warisan Sultan Idrus Kaimoeddin, salah seorang raja, adalah menciptakan kabanti, sastra/puisi tutur yang terkenal itu. Sampai kini, masyarakat terus menyanyikannya, baik pada saat menjelang tidur, dirundung rindu kepada anak, kekasih, dan handai taulan, ataupun acara resmi adat dan pemerintah. Tradisi ini tidak berlanjut kepada penciptaan karya sastra modern. Maksud saya, dalam rentang waktu yang sangat panjang, tidak ada penulis Sulawesi Tenggara yang melanjutkan kerja kepenyairan itu. Baik yang memanfaatkan kabanti sebagai ‘dasar’ penciptaan, maupun menulis puisi modern sebagai hasil dari proses pembacaan dan persentuhan dengan sastra modern lainnya. Kelahiran kembali sastra modern di Kendari, Sulawesi Tenggara, dimulai pada awal 1990-an. Proses ini dimulai saat Achmad Zain mendirikan Teater Sendiri Kendari. Di sanggar tersebut, selain latihan dan pentas teater, juga ada penulisan puisi, cerpen, naskah drama, dan esai. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, sebagian anggota Teater Sendiri kemudian menjadi penyair dan sutradara teater. Saya pun berada dalam lingkaran proses itu.&lt;br /&gt;Usai membaca sajak, cerpen, dan esai Republika, saya membuka lembaran lain dan membaca sebuah permintaan ke seluruh penyair tanah air untuk mengirimkan sajaknya dalam rangka penerbitan Antologi Puisi Nusantara. Kendari memang jauh dari hiruk pikuk kesusastraan Indonesia. Baik dalam hal publikasi di media massa, diskusi, maupun penerbitan buku. Apalagi memang, puisi modern Kendari baru ditulis dalam masa waktu sepuluh tahun itu. Publikasi ke luar merupakan salah satu cara memperkenalkan sekaligus evaluasi atas karya tersebut. Saya lantas menyampaikan rencana penerbitan tersebut kepada beberapa teman, namun ditanggapi kurang serius. Akhirnya lima buah sajak saya kirim ke alamat Bang Arsyad Indradi. Pegumuman di Republika menyampaikan bahwa penerbitan antologi ini dilaksanakan bulan April 2006. Tapi minggu berganti bulan menjelma tahun, informasi mengenai itu tidak juga jelas. Saya menelpon ke Bang Arsyad, ya sementara diedit, terlalu banyak penyair yang mengirimkan karyanya, katanya. Saat itu saya di Taman Budaya Kendari dan beliau di dalam mobil, sementara perjalanan dari Banjarmasin menuju Banjarbaru. Dugaan saya Pak Arsyad adalah seorang muda yang penuh semangat juang tinggi. Perkiraan yang meleset ini, yang di kemudian hari melahirkan kesan simpatik yang dalam atas seorang Arsyad Indradi yang berjuang sendirian melahirkan karya fenomenal dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Suatu saat saya berpikir, mungkin antologi ini sudah terbit, tetapi sajak saya tidak tercantum di dalamnya. Saya memang menduga, bahwa upaya mengupulkan, pengeditan, sampai pada penerbitan akan membutuhkan waktu yang panjang. Apalagi memang, pekerjaan ini sepenuhnya inisiatif, keringat, dan biaya dari seorang penyair senja yang dilakukan untuk kepentingan silaturrahmi penyair dan mempelajari perkembangan perpuisian nusantara mutakhir, sebagaimana yang dinyatakan  Jarkasi dalam pengantarnya.&lt;br /&gt;Akhirnya, cita-cita Pak Arsyad Indradi tercapai juga untuk ‘terbang sampai di bulan’. Antologi yang dikerja selama setahun telah tersebar ke berbagai pelosok nusantara. Informasi yang saya peroleh dari Micky Hidayat, sewaktu bersua dalam acara Pesta Penyair Indonesia di Medan 25-28 Mei 2007, bahwa penyair berusia 58 tahun ini, harus mencari dana sendiri untuk merampungkan niatan luhurnya. Bisa jadi, ini adalah ikhtiar mulai untuk melawan hegemoni kapitalis yang menggerogoti penerbitan sastra Indonesia. Beliau  harus ke Surabaya untuk membeli alat percetakan, yang kemudian dikerjakan di rumahnya, dengan bantuan beberapa kaum muda. Senin, 23 April 2007, pukul 14.25 Wita, saya menerima paket pos berupa bungkusan berwarna cokelat. Saya menduga bahwa bungkusan itu berisi buku puisi dari Banjarbaru. Setelah kubuka, sebuah buku tebal bergambar tatasurya dan bertulisakan, Antologi Penyair Nusantara, 142 Penyair Menuju Bulan. Diterbitkan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (KSSB) Kalimantan Selatan.Tebalnya 728 halaman. Penyunting dan penata letaknya, Pak Arsyad Indradi. Saya lantas merunut kembali ke belakang, pengiriman naskah puisi yang hanya melalui alamat rumah via pos. Ratusan naskah harus diketik ulang. Barsngkali karena melalui cara inilah, sebagian sajak (termasuk salah satu sajak saya, hilang satu larik). Seandainya, pengirimannya melalui pos-el (email), kemungkinan untuk terjadinya salah cetak, kecil.&lt;br /&gt;Sejenak saya terdiam. Ini sebuah hasil dari pekerjaan besar. Buku tebal 728 halaman. Alhamdulillah, buku ini saya terima. Kucari nama saya, dan termuat pada halaman 641. Inilah antologi puisi pertama yang memuat karya saya di luar Kendari, setelah sebelumnya termuat dalam antologi bersama Sendiri 1, 2, 3,  Malam Bulan Puisi, Antologi Tunggal ‘Perjalanan’ (Teater Sendiri), Kendari (Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara), dan terakhir, Medan Puisi, Antologi Puisi Penyair Indonesia, Sempena The 1st Medan International Poetry Gathering. Apa pentingnya bagi saya dan Kendari umumnya atas pemuatan tiga buah sajak saya? Paling tidak, karya puisi saya juga telah menyapa penyair lain dan masyarakat penikmat sastra nusantara.&lt;br /&gt;Bagi saya, 142 Penyair Menuju Bulan, untuk kepentingan tertentu, memiliki nilai dan posisi yang sama dengan Tonggak (Linus Suryadi), Puisi dan Prosa Angkatan 66 dan Kesusastraan Zaman Jepang (HB. Jassin), Angkatan 2000 (Korrie Layun Rampan) maupun dokumentasi sastra lainnya. Perbedaannya adalah, buku yang diterbitkan Pak Arsyad lebih bersifat dokumentasi dan representasi penyair nusantara, sementara HB. Jassin dan Korrie memiliki landasan estetik yang kemudian melahirkan angkatan dalam sastra Indonesia. Perbedaan lain adalah, 142 Penyair Menuju Bulan luput dari pembicaraan dan perbincangan media massa, penyair, dan kritikus sastra. Apakah karena penerbitannya dilakukan di luar ‘pusat’ sastra? Atau karena penggagas sekaligus penyunting karyanya adalah seorang Pak Arsyad Indradi yang tidak tercatat dalam kitab puisi dan ‘tokoh’ sastra Indonesia? Bukankah sebetulnya, sastra Indonesia memiliki tokohnya masing-masing yang berdiam di daerah dan menghidupi kesusastraannya sendiri? Barangkali saya salah dalam memahaminya. Tetapi sesuatu yang pasti adalah pekerjaan tanpa tanda jasa dari penyair tua yang tinggal di Banjarbaru ini adalah karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Mungkin banyak penyair terkini yang tidak terlalu mengenal beliau, tetapi hasil karya nyatanya, berhasil mengukir namanya sebagai tokoh lain dalam pengembangan dan pendokumentasian perjalanan puisi kita.&lt;br /&gt;Menurut cerita Jarkasi, pengamat kebudayaan Banjarmasin, Bapak Arsyad Indradi menemui di rumahnya, siang hari, untuk menjadi pengulas pada antologi ini. Oleh karena rasa kagum tinggi atas kemauan yang keras pria kelahiran Desember 1949 ini, luluh juga hati dosen FKIP Unlam Banjarmasin ini untuk mengamininya. Sebuah keinginan dan proses memang sangat berarti. Justru di sinilah letak nilai yang terkandung dalam buku ini. Proses panjang beserta lika-liku yang melelahkan, melahirkan karya yang bermakna besar. Tidak main-main, 142 dari 186 penyair yang dilesakkan ke bulan. Ia pun menjadi salah satu titik cahaya dalam cakrawala sastra Indonesia. Cahaya yang tidak boleh padam dan dipadamkan oleh siapapun. Oleh karena ia menjadi bagian dari cahaya ‘bintang’ yang lain. Apakah keseluruhan buku yang dikirim ke panyairnya masing-masing lahir dari waktu penerbitan yang sama? Tidak! Menurut Micky, Pak Arsyad harus mengerjakan secara manual beberapa buku saja dulu, untuk dikirim ke wilayah tertentu. Untuk wilayah yang lain, dilakukan dengan proses yang sama pula. Dan Akhirnya, mungkin, saat ini semua penyair telah menerima masing-masing buku yang dilahirkna dengan susah payah. Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara, tempat saya bekerja, sempat meminta kepada Pak Arsyad untuk mengirimnya sebagai dokumentasi perpustakaan, akan tetapi beliau menggandakan dalam jumlah terbatas dan harus mengutamakan penyairnya.&lt;br /&gt;Tentunya, dari segi kualitas estetik dan tematik, mencerminkan keberagaman. Hal ini dapat dipahami oleh karena Pak Arsyad tidak memberikan ‘batasan’ tertentu terhadap penyair dan karyanya yang boleh diikutkan. Meskpun demikian, proses pembukuan ratusan karya ini, tetap lahir dari usaha penyuntingan yang ketat. Sehingga dari 186 penyair yang mengikutkan karyanya, hanya 142 penyair saja yang ikut pada penerbitan pertama ini. 142 Penyair Menuju Bulan, mencerminkan wilayah asal penyair yang beragam.  Menurut hasil penghitungan saya yang bisa saja keliru, terdapat 49 kota/daerah asal penyair di antologi tersebut. Adapun hasil penghitungan jumlah penyair dari kota tersebut adalah: Medan 2 penyair, Riau 2 penyair, Bandung 13 penyair, Solo 2 penyair, Yogyakarta 11 penyair, Banten 6 penyair, Jakarta/Depok 17 penyair, Sleman 2 penyair, Banjarbaru 7 penyair, Banyumas 1 penyair, Samarinda 4 penyair, Ngawi 2 penyair, Malang 3 penyair, Jambi 7 penyair, Makassar 3 penyair, Padang 1 penyair, Aceh 4 penyair, Surakarta 1 penyair, Sumbawa 1 penyair, Semarang 2 penyair, Kotabaru 2 penyair, Mataram 6 penyair, Banjarmasin 2 penyair, Pekanbaru 2 penyair, Medan 2 penyair, Bekasi 1 penyair, Tangerang 3 penyair, Bali 2 penyair, Pangkal Pinang 2 penyair, Palembang 3 penyair, Martapura 1 penyair, Lampung 3 penyair, Kudus 4 penyair, Cirebon 1 penyair, Tenggarong 1 penyair, Ambon 2 penyair, Sukabumi 1 penyair, Bogor 1 penyair, Majalengka 1 penyair, Surabaya 2 penyair, Boyolali 1 penyair, Kebumen 2 penyair, Bangka Belitung 1 penyair, Tasikmalaya 1 penyair, Balikpapan 1 penyair, Jember 1 penyair, Kendari 1 penyair, dan Lamongan 1 penyair. Tentunya masih banyak penyair dari kota yang sama ataupun kota lain yang tidak mengikutsertakan puisinya di antologi tersebut. Penyair Jimmy Maruli Alfian saya anggap sebagai penyair asal Lampung dan Sutarjdi Zalcoum Bachri dari Jakarta.&lt;br /&gt;Saya tidak tahu persis, maksud Pak Arsyad menyebut 'Menuju Bulan' sebagai nama antologi ini. Saya menduga-duga diambil dari judul sajak Puput Amiranti N, halaman 459, penyair wanita dari Surabaya. Ataukah 'bulan' yang dimaksud adalah simbol/lambang pencapaian kepuasan batinnya menerbitkan Antologi Puisi Nusantara ini, lantas menyandingkan dengan 'bulan' lain dalam 'tata surya' kesusastraan Indonesia? Saya akan mengutip  beberapa larik dari bait kedua sajak Puput tersebut:&lt;br /&gt;mungkin kita saling berciuman&lt;br /&gt;di bawah bulan tak mengenal&lt;br /&gt;tubuh kita terbakar&lt;br /&gt;cahaya-cahaya lalu lalang&lt;br /&gt;menggambar bayangan sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi Pusi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan adalah hasil sebuah obsesi besar dan mulia yang kini mewarnai taman sastra Indonesia. Banjarbaru dan Kalimantan Selatan umumnya, mencatatkan dirinya sebagai wilayah kebudayaan yang memiliki apresiasi tinggi terhadap ekspresi kebudayaan. Arsyad Indradi adalah nama pencatat itu. Selamat Ulang Tahun ke-57 Pak Arsyad. Kerja luhur dan puisi yang lahir, memang kadang lebih abadi dari usia manusia. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;Saya akan mengutip bait puisi Pak Arsyad yang berjudul Darah:&lt;br /&gt;semesta bergoncang Hu Allah&lt;br /&gt;arasy pun bergoncang Hu Allah&lt;br /&gt;darahku aujubillah&lt;br /&gt;darahku astagfirullah&lt;br /&gt;darahku subhanallah&lt;br /&gt; Allah&lt;br /&gt;Penulis:Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara dan aktif di Teater Sendiri Kendari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-2733197801886986742?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/2733197801886986742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=2733197801886986742' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/2733197801886986742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/2733197801886986742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/arsyad-indradi-menuju-bulan.html' title='Arsyad Indradi Menuju Bulan'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w7GG6VADI/AAAAAAAACvc/IoM4ha9fqQQ/s72-c/Syafuddin+Gani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-2516670988887383227</id><published>2010-05-01T07:21:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T07:26:28.594-07:00</updated><title type='text'>ADA APA DENGAN SENIMAN BANJARBARU ?</title><content type='html'>Oleh : Harie Insani Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        Ada yang hilang di Banjarbaru. Dulu kota ini bisa  memberikan sebuah kenangan kepada siapapun. Barangkali masih ada yang ingat, bagaimana sebuah taman yang kecil saja menumbuhkan banyak kerinduan ?&lt;br /&gt;Orang – orang selalu ingat dating ke sana. Sebenarnya bukan tempat yang pantas jika seniman ingin menampilkan karyanya ditempat itu. Sebuah taman yang langsung bertemu dengan jalan raya.&lt;br /&gt;Memang selalu ada yang mengeluh. Suara mereka habis dtelan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan. Apa lagi kalau yang lewat sepeda motor yang sudah di modif knalpotnya. Ampun. Tak ada rumusnya pembacaan puisi bersaing dengan knalpot. Tapi percayalah, semua itu cukup bagi seniman untuk menunjukkan karyanya. Setiap sabtu sore, komunitas Godong Kelorselalu memainkan teater kisah kocak ( Tekicak ), tanpa ada yang membayar, tanpa diminta,mereka tetap saja bekarya di taman itu mereka saling menunjukkan hasil karya.&lt;br /&gt;Diam – diam, ada sebuah kerinduan yang hilang ketika orang datang ternyata bukan sekedar tamana saja. Tapi juga kesenian. Tapi sekarang, di sana hanya ada sebuah taman. Tidak ada lagi seniman yang ngumpul sekedar ingin bercengkrama. Satu persatu mulai pergi dan tak ada janji untuk kembali. Taman itu kini seperti sebuah wajah yang diliputi murung dan muram. Kenapa seniman Banjarbaru tak lagi membaringkan tubuhnya ketika lelah, malam hari, saat – saat puisi ingin selalu dibacakan lagi ?&lt;br /&gt;Sebuah zaman tentulah menawarkan perubahan. Tak ada yang tetap kecuali keyakinan. Bahwa Banjarbaru kelak menjadi kota yang sarat dengan aktivitas seni dan bdaya ? Pastilah mereka tetap ada atau memang sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;Segala kemungkinan bisa terjadi kapan saja tapi bukan tanpa ada sebabnya. Kemandegan komunitas seni di Banjarbaru itu sedang terjadi secara missal. Sangat disayangkan jika sebabnya tak jelas. Tanpa mengetahui masalahnya, bagaimana mungkin dapat memulihkan keadaan.&lt;br /&gt;Tak ada seorang pun patut disalahkan. Zaman telah berubah, demikian juga para seniman. Burukkah akibatnya jika taman itu tak lagi dikunjungi para seniman ? Barangkali tidak. Arsyad Indradi misalnya, ia kurung dirinya di sebuah rumah dengan tumpukan kertas. Melipat, menggunting, mengiris hingga jadilah antologi Puisi Penyair Nusantara. Hasil kerja kerasnya itu membuahkan hasil yang ia sendiri tak menduganya.&lt;br /&gt;Sebuah harian Cina memuat ulasan tentang buku tersebut. Tentu saja dengan bahasa Cina. Sebuah persembahan yanag luar biasa dari Arsyad Indradi untuk Banjarbaru. Dalam benak orang Cina; dimanakah itu Banjarbaru ? Seperti apakah itu Banjarbaru ? Dengan buku itu pastilah orang Cina menganggap Banjarbaru sedemikian asyiknya. Lantas adakah Banjarbaru ingin memberikan sebuah penghargaan kepadanya ? Seperti ketika Sutardji Calzoum Bachri mengadakan ulang tahun. Datang seorang utusan mengucapkan salam dan selamat dari pemerintah provinsi Riau dengan membawa sedikit hadiah untuknya.&lt;br /&gt;Dalam hati kecil berkata, betapa Banjarbaru banyak memiliki orang – orang hebat. Shah Kalana Al Haji di Godong Kelor, Azis Muslim di Tetas, Rifani Djamhari di Forum Taman Hati, Isuur LS di Loeweng Production, Hamami Adaby di Parimata, Eza Thabry di Kilang Sastra Batu Karaha,, dan masih banyak lagi nama yang pantas disebut. Lantas kemana mereka dan ada apa dengan mereka ?&lt;br /&gt;Tanda Tanya ini tidak memiliki jawaban. Barangkali Anda ingin menjawabnya atau tidak usah dijawab saja ?. [  ]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-2516670988887383227?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/2516670988887383227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=2516670988887383227' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/2516670988887383227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/2516670988887383227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2010/05/ada-apa-dengan-seniman-banjarbaru.html' title='ADA APA DENGAN SENIMAN BANJARBARU ?'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-726143252792698860</id><published>2009-03-10T21:17:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T07:21:09.509-07:00</updated><title type='text'>"Kalalatu" Ekspresi Arsyad Indradi Dlm.IntrinsiknPuisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w4wxaWZfI/AAAAAAAACvU/PEtnNPu3Kjc/s1600/Hanna.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 177px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w4wxaWZfI/AAAAAAAACvU/PEtnNPu3Kjc/s200/Hanna.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466306458269672946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Noor Hana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Bahasa lisan selalu dituntun oleh pengujar atau pembicaranya. Sedangkan sebuah teks tertulis memiliki maknanya sendiri setelah dipublikasikan. Artinya, kalau kita terlibat dalam suatu pembicaraan lisan maka maksud pembicara yang belum jelas dapat dipertegas dengan mengajukan pertanyaan kepada pembicara tersebut. Sebaliknya, sebuah teks, dalam hal ini puisi, tidak lagi sepenuhnya tergantung pada penjelasan yang diberikan oleh penyair tetapi tergantung pada tafsir pembaca atas puisi tersebut.&lt;br /&gt;Antologi Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Kalalatu” &lt;/span&gt;karya Arsyad Indradi yang kental dengan nuansa tanah Banjar ini  mengajak saya untuk menjelajahinya baik dari situasi bahasa, tema, bahasa puisi mau pun bentuk puisi.&lt;br /&gt;        &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Situasi bahasa “ Kalalatu “,&lt;/span&gt; terlihat pada sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“ Kai Adul “&lt;/span&gt; mengungkapkan pikiran yang didasarkan oleh suatu pengamatan dan ingatan di masa lalu. Subjek lirik sajak ini sulit disifatkan, yang dapat dilakukan hanyalah membuat interpretasi tak langsung berdasarkan penggunaan kata-katanya. Sajak ini memasukkan persona ketiga, yakni Kai Adul yang digambarkan hanya dari sudut pandang pembicara, namun pandangannya sendiripun diungkapkan di dalamnya.&lt;br /&gt;Setelah bacaan terakhir, penulis dapat menentukan secara umum, apa yang dibicarakan dalam sajak: pembicara dalam teks, yaitu subjek lirik terkenang kembali tentang sosok yang menjadi panutan dan sangat dikaguminya. Subjek lirikbercerita tentang masa dulu, ketika masih kecil ia bersama saudara dan anak-anak sebayanya begitu menikmati kebersamaan dengan tokoh yang bernama Kai Adul. Mereka memijat tangan dan kaki Kai Adul, mendengarkan nasehat dan petuah beliau mengenai kehidupan. Bayangan dari masa lalu ini muncul dan sampai pada hari itu ia masih tetap mengingat dan mengamalkan apa yang selalu diajarkan oleh Kai Adul.&lt;br /&gt;Dalam sajak ini tidak dikatakan secara eksplisit apakah subjek lirik ini adalah wanita atau laki-laki, sehingga peneliti tidak dapat mengidentifikasi jenis kelamin dari subjek lirik, akan tetapi dalam teks tentu tetap ada petunjuk. Dalam sajak ini, disebut kata kami, akan tetapi tetap saja itu merupakan narasi dari satu orang saja. Pembicara adalah seorang anak yang telah menjadi dewasa kemudian berbicara mengenai masa kecil bersama anak-anak sebayanya dan Kai Adul, yang paling jelas adalah pada bait terakhir &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;......Mun kami takumpulan taganang aruah Kai/Sidin tahu nangapa nang handak kami pinta/Sampai wayahini kami pingkuti papadah sidin/Bismillah nitu anakkunci pambuka lawang surga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          Hal lain yang mungkin menjadi petunjuk adalah penggambaran mengenai cara bertutur Kai Adul terhadap subjek lirik pada larik keduabelas &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;/hidup ada aturannya tungai/  kata ’tungai’ l&lt;/span&gt;azim digunakan untuk anak-anak, meski tidak mutlak memiliki hubungan kekerabatan, namun kata-kata ini menunjukkan hubungan emosional yang kuat antara keduanya.&lt;br /&gt;Dalam sajak tersebut, perasaan subjek lirik menjadi himpunan perhatian, walaupun kadang-kadang menjadi rumit karena dimasukkan orang ketiga sehingga sajak bisa bersifat dialog. Jika subjek lirik tidak berbicara kepada seorang pendengar maka sajak dapat menjadi semacam pendapat yangbersifat umum, dapat dikatakan sajak ini memasukkan unsur kisahan.&lt;br /&gt;Sajak yang memuat unsur kisahan, dimana subjek lirik bercerita, mengungkapkan pikiran dan pengamatannya tentang persona ketiga, juga terdapat pada sajak lain dalam antologi ini seperti sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“ Nini Aluh “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mun taganang aruah nini barubuian banyumata/Sidin caramin mata wan wadah baungah /Nini landang umur jar urang sidin babustan....Handaklah nyaman mambuka lawang surga/Apikapik mamalihara muntung wan mamalihara rupa/Basuh batistangan wan adat pusaka ....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Kemudian pada sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Imbah itu inya kada tahu lagi wan dirinya/Nang tahu teja mambari sajumlah warna/Jalan&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Bagandang Nyiru” ...&lt;span style="font-style: italic;"&gt; nang kada tarasa asing dijalani/Hanyar babarapa hari badapat wan Ainun/Rasa saratus tahun bakawanan singrakatan//Kada kawa dikisah lagi bauma tiri/Juhri nang babatis panjang sabalah/Lamun harat bagimpar wan bagipang /Dikampung ngaran tapuji ......&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;        Perkataan pembicara dalam sajak Kai Adul tidak ditujukan kepada seseorang pendengar khusus. Monolog subjek lirik ditujukan kepada dirinya sendiri. Ia mengenang masa lalu, karena situasi dan kondisinya pada saat itu sangat memungkinkan untuk membuka kembali ingatannya tentang tokoh Kai Adul. Dirinya merenungi betapa petuah-petuah yang dulu selalu Kai Adul berikan amat dipegang oleh subjek lirik (dan anak-anak lain yang kemudian disebutnya dengan ’kami’). Sudut pembicara yang tidak ditujukan pada pendengar khusus, atau hanya berupa monolog pada diri sendiri banyak dimunculkan dalam Antologi ini. Sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Sarai sarapun” &lt;/span&gt;berbicara mengenai subjek lirik yang mengingatkan dirinya sendiri untuk selalu mawas diri. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Baik batuakal kugamati sakikihduakikih/matahari nang mantapuk kabumbunan/ maulah pananjak bahindang bahindala/ kaina kada sawat baulah jalan/ manyampati ari/ bursiah sanja bagasut bahantak/ ka sangkar bumi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak sajak, pendengar yang diajak bicara tetap implisit. Tidak hanya untuk diri sendiri, terdapat pula sajak yang ditujukan untuk alam dalam sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bulik Balanting.. &lt;/span&gt;.....&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Baturai wan hujan garimis/Aku tajipah/Dalam rajut lunta rakun/Kukikih carucuk/Nang batabul. Ilungilung maumbakgalahani/Sanja sasain bagalusut sasain mamarah janar dimataku/Kada usah lagiah batakun kamana burung-burung /Maurak halar. Kamana hutan bakau mancari /Humbayang sampai ka muhara/ Mun angin manampur/&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kadundangakan parimataku.............&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;           Dengan mengajak bicara sesuatu yang tidak hadir, mati atau tak bernyawa, sesuatu itu dihadirkan, dihidupkan, dimanusiakan. ’langitai’ dan ’bumiai’ menjadi pemantul suara yang walaupun sendirinya diam, namun tanggap terhadap subjek lirik yang justru memerlukan pemantul semacam itu untuk mengungkapkan perasaannya. Kita lihat sajak “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Zikir Madihin “ &lt;span style="font-style: italic;"&gt;....Malam Ramadhan ini aku mambuang supan /Mambuang takutan aku musti badatang kahadapanmu/Galitiran kadua tanganku/Galitiran kadua tanganku/Galitiran manadah ka arasymu/Parau bakiau asmamu dalam sisiganku/Padih mataku dalam cahaya matamu/Ya Rabbi jangan engkau pajahakan /Lampu bashirah di tanganmu nyalaakan/Wan ma’rifatullah dalam batinku ....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          Orang kedua diajak bicara, tetapi tidak menjawab. Harus dipahami dari teks siapa orangnya dan apa hubungannya dengan subjek lirik. Di sini hubungannya Khalik dan makhluk. Jelaslah bahwa tidak ada jawaban dari pihak kedua, dari potongan sajak itu terungkap kerinduannya akan Tuhan yang dia dekati dengan deskripsi yang angkuh, namun penuh harap.&lt;br /&gt;          Tema Kalaltu adalah subjek lirik serta perasaan dan pikirannya merupakan pusat sajak. Tidak ada perjalanan waktu seperti halnya dalam sebuah kisah. Meski begitu, sajak juga berisi sejumlah keterangan konkret mengenai dunia yang digambarkan. Seperti pada sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;WTC, Kuala Lumpur &lt;/span&gt;segala sesuatu terjadi pada saat sekarang (ketika berada di Kuala Lumpur) dan sebenarnya peristiwa yang paling penting adalah bahwa subjek lirik, karena pengaruh pengalaman ’kini’ yakni perjalanannya ke WTC, Kuala Lumpur membandingkan pada kondisi negerinya sendiri.&lt;br /&gt;           Dalam gambaran khayalan subjek lirik, ia juga membangkitkan situasi kontras antara Kuala Lumpur dengan segala fasilitas, kemegahan, dan perlindungan keamanan bagi warga sipilnya dengan kondisi yang jika dibandingkan maka tidak ada apa-apanya (bait kedua dan ketiga). Sajak dibangun berdasarkan perbandingan dua keadaaan. Situasi masa kini, atau situasi di Kuala Lumpur dapat dipandang sebagai penyebab timbulnya gambaran perbandingan. Sejak bait awal hal tersebut sudah digambarkan, kemudian dilukiskan lebih luas dalam bait ketiga.&lt;br /&gt;Konstruksi ini menyebabkan terjadinya kisah perjalanan yang seakan-akan menjadi pokok pembicaraan sajak. Yang mencolok dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’kisah perjalanan’ &lt;/span&gt;ini adalah pada akhirnya subjek lirik menyadari bahwa kemajuan tekhnologi terkadang juga membawa dampak negatif terutama terhadap budaya masyarakat. Kesan ini tercipta pada kuplet terakhir........&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Mahancap aku turun kawal bakiaw/Kukiranangapa pina musti/Cis inya manyalaakan mancis/Jaharu manukar mancis nang ada gambar lightplaynya/Urang baanuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembacaan penulis, sajak-sajak Arsyad Indradi hadir sebagai perpaduan antara kemurungan dan pemberontakan. Suasana murung itu menjadi nada dasar yang sendu dari sebagian besar sajak dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Kalalatu”.&lt;/span&gt;  Sementara pemberontakan dideklarasikan dalam bentuk perlawanan terhadap perwujudan yang banyak menghilangkan, bahkan menindas budaya lokal, terutama oleh budaya modern yang kontroversial dan membuat banyak manusia menjadi marjinal. Seperti Sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“ Kahilangan Banua “..&lt;/span&gt;..&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Sakilan kadada lagi tanah hagan bakubur/Mambalas kabaikan wayah dipukung/Banyu didih panyulam susu aruah mama/Diganali banyu laang//Tanah mana baganti rupa/Saalaman ragaibacampur cuka/Wayahini siapa aku siapa ikam/Banua tinggalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan pada sajak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;”  Dundang Rista Saribhu Burung “...&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;........Yulan ya lalalin/Hutan baratus tahun/Ditabang habis/Batubara dikikis/Hagan kasugihan tuantuan/Kami disipak/Ka padangpadang pangasingan/Tasingkir ka bukitbukit pamburuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          Penyair merasa miris melihat eksploitasi besar-besaran terhadap kekayaan alam secara tidak bertanggung jawab oleh pihak yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi. Dan pada sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Tampulu “&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;....Ayuha dahulu/Wayah dipawayah kada balalawasan bataring/Mambulangkir banua/Tatah dipatatah kada balawasan bakuasa/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Mun sudah pajah dalam carita/Jangan bahiyau sanakkulawarga&lt;/span&gt;Tidak selamanya yang miskin akan terus menderita dan yang kaya tak mesti selalu sejahtera. Begitu pula dengan kekuasaan yang menjadi  kebanggaan seseorang atau kelompok, tidak selamanya akan bertahan. Dengan keyakinan bahwa roda kehidupan akan terus berputar, maka yang bisa dilakukan hanyalah pasrah. Segala daya upaya untuk menyatakan protes dan kekesalan terhadap keadaan itu hanya akan sia-sia karena hanya dianggap &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’daun luruh’, &lt;/span&gt;atau sesuatu yang tidak diperdulikan keberadaannya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“ Daun Luruh “ &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Daun luruh/Di jalanan/Tajajak talincai urang lalulalang/Jaka hingkat bakuriak lawan siapa maminta tulung/Tapi inya daun/Sahibar daun/Daun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;        Bagaimana Kalalatu pada penggunaan Bahasa ? Bila dibandingkan dengan teks prosa atau drama, pada puisi cara pengungkapanlah yang jauh lebih penting. Kesepian dalam hening malam, rindu pada Tuhan, bunga yang cantik, semuanya itu pada sendirinya adalah pernyataan yang usang dan klise. Meskipun demikian, para penyair selalu berusaha menyajikan pernyataan yang usang itu dengan cara selalu baru, isi dan ungkapan terjalin erat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penggunaan bahasa ditandai &lt;/span&gt;oleh adanya kiasan dan berbagai gaya. Memang dapat disimpulkan bahwa pada umumnya dalam puisi, kiasan dan bentuk gaya terdapat jumlah yang lebih besar daripada dalam penggunaan bahasa yang lain. Namun demikian, tidak mutlak itu harus merupakan bagian dari bahasa; ada penyair yang berusaha menjauhkan cara pengungkapan bahasa yang rumit. Hal ini pula yang tergambar dari puisi dalam antologi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Kalalatu” &lt;/span&gt;karya Arsyad Indradi.&lt;br /&gt;Pada tataran bahasa puisi, Arsyad Indradi menjadikan puisinya begitu melodius, punya kekuatan ekspresif pada sajak, karena pengaruh pengulangan bunyi. Kita lihat sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mambangkit Batan Tarandam &lt;/span&gt;: &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tarandam batang tarandam/Timbul tinggalam diarus banyu/Hilang jua di mata/Hilang jua di hati/Ingat kada jua diingat//Tarandam lawas tarandam/Tarandam lawas diarus banyu/Bangkitakanlah jua batang tarandam lawas/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pusaka paninggalan urang bahari//Mambangkit batang tarandam lawas tarandam/Pusaka bahari nang lawas pang tarandam/Tabangkit jua batang tarandam tabangkit/Barakat kita gawi sabumi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          Sajak ini menggunakan sederetan kata yang berawal dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;t,&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“Tarandam batang tarandam/ timbul tinggalam”&lt;/span&gt;. Banyak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;t&lt;/span&gt; dalam sajak ini memberi kesan berat yang menunjang makna kedua larik terakhir. Tabangkit jua batang tarandam tabangkit/ barakat kita gawi sabumi. Bukan tidak sengaja penyair memilih &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“Mambangkit Batang Tarandam” &lt;/span&gt;sebagai judul. Kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’batang tarandam’ &lt;/span&gt;muncul berulang sebanyak sembilan kali pada keseluruhan sajak ini. Kenyataan bahwa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Batang Tarandam” i&lt;/span&gt;ni memiliki makna simbolik serta sifat-sifat yang dihubungkan kepadanya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’batang’ &lt;/span&gt;ini dimanfaatkan untuk mendukung kesan berat. Diperlukan usaha keras untuk bisa membangkit dan mengangkat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’batang’ &lt;/span&gt;yang disatukan dengan kata&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; ’tarandam’&lt;/span&gt; membuat eksplisit makna yang ingin disampaikan.&lt;br /&gt;Dalam bahasa puisi selalu terjadi interaksi terus-menerus antara keterikatan dan kebebasan, antara ketentuan dan pembaharuan, antara tata bahasa dan praktik bahasa.&lt;br /&gt;Akan kita lihat bahwa seorang penyair bisa saja membebaskan ikatan antara kata dan apa yang hendak ditandai oleh kata tersebut. Hal ini dilakukan untuk menerobos makna yang lama dan menciptakan makna yang baru. Cara yang ditempuh adalah melalui penggunaan metafor. Metafor tercipta karena sebuah kata yang secara konvensional tak dapat dihubungkan dengan perkataan lainnya, justru dihubungkan untuk melakukan penyimpangan yang disengaja. Sebagai contoh, kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’pandir’&lt;/span&gt; secara konvensional merupakan atribut untuk menunjukkan yang kita dengar berupa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ucapan.&lt;/span&gt; Akan tetapi, Arsyad Indradi dalam sebuah sajaknya dengan kreatif menunjukkan bahwa kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’pandir’&lt;/span&gt; menjadi atribut yang tidak hanya dari apa yang bisa didengar tetapi juga apa yang kita &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;makan/ masukkan.&lt;/span&gt; Seperti puisinya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Miang &lt;/span&gt;: &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Miang kajijingah/Miang tahayut kulipak paring/Miang tapalit jalatang/Miang takana hulat bulu/Masih kada sabarapa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;/Tapi mun miang/Tamakan pandir/Bakiruh tipang sabukuan awak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          Penyair, berbeda dengan pemakai bahasa lainnya, menghadapi bahasa dan kata-kata tidak pertama-tama sebagai alat yang siap pakai, tetapi sebagai bahan atau material yang masih harus dikerjakan dan diolah.&lt;br /&gt;Penyair membicarakan kegelisahan. Tema yang abstrak ini dikonkretkan dengan kata ’miang’. ’Miang’ yang secara harfiah berarti gatal, digunakan berulang-ulang. Citra yang digunakan untuk ’miang’ ini sangat cocok dalam sajak tersebut, terutama sehubungan dengan tema yang begitu penting bagi sajak, yaitu kondisi dan situasi yang tidak mengenakkan. Dampak pencitraan terutama diperoleh karena perincian keempat pembanding yang memiliki makna serupa (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;makna sebenarnya, seperti kajijingahan, tahayut kulipak paring, tapalit jalatang, takana hulat bulu). &lt;/span&gt;Dengan demikian warna motif yang negatif ditekankan. Akan tetapi, larik berikutnya berbunyi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Masih kada sabarapa/Tapi mun miang /Tamakan pandir/Bakiruh tipang sabukuan awak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            Larik tersebut memasukkan kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’tetapi’&lt;/span&gt; membangkitkan suatu penekanan lebih pada larik berikutnya, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;mun miang/ tamakan pandir/ bakiruh tipang sabukuan awak&lt;/span&gt;. Kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’miang’&lt;/span&gt; disandingkan dengan kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’tamakan pandir’&lt;/span&gt; (termakan omongan) dua acuan yang sama sekali tidak ada hubungannya secara logis. Akan tetapi kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’miang’ (gatal) &lt;/span&gt;tepat untuk menggambarkan kondisi yang tidak mengenakkan yang jika seseorang mengalami maka akan menyebabkan gelisah dan tidak bisa tidur.&lt;br /&gt;Terlihat di sini bagaimana metafor dipergunakan untuk memainkan pengertian pandir. ’&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pandir’ &lt;/span&gt;yang berarti kata-kata atau lebih tepatnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;omongan,&lt;/span&gt; disandingkan dengan kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’termakan’.&lt;/span&gt; Tentu saja ini tidak bisa dimaknai secara harfiah, karena kata-kata bukan sesuatu yang bisa dimakan. Namun, berdasarkan konteksnya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’tamakan pandir’ &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;termakan omongan &lt;/span&gt;dapat diterjemahkan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’Tamakan’ (termakan) &lt;/span&gt;menjadi kata singkat yang bisa mengungkap penjelasan panjang. Pemilihan kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’tamakan’&lt;/span&gt; terkait dengan pengertian bahwa makan memerlukan suatu proses. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggigit, mengunyah, lalu menelan.&lt;/span&gt; Sedangkan kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’tamakan’&lt;/span&gt; menyatakan perbuatan yang tidak diinginkan, mengandung unsur ketidaksengajaan, tidak melalui proses, atau secara  langsung dilakukan. Bahwa omongan atau kata-kata tidak hanya sekedar informasi yang lewat, didengarkan kemudian ditelan. Informasi itu harus diklarifikasi kebenarannya agar tidak hanya menjadi sekedar desas-desus ataupun gosip yang meresahkan.&lt;br /&gt;Struktur kalimat juga mendukung oposisi makna keseluruhan sajak. Mula-mula kita baca pada larik pertama hingga larik keempat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’miang’ &lt;/span&gt;menjadi pembuka kalimat. Tekanan pada kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’miang’ &lt;/span&gt;penyair mencoba menunjukkan tekanan perasaan gelisah dengan mengubah penempatan kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’miang’ &lt;/span&gt;di akhir kalimat. Kemudian diakhiri dengan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“bakiruh tipang sabukuan awak” &lt;/span&gt;. “Tamakan pandir” (termakan omongan) yang menyebabkan desas desus tanpa klarifikasi kebenaran dikatakan jauh lebih tidak mengenakkan.&lt;br /&gt;Kebebasan penyair atau licentia poetica adalah semacam lisensi khusus yang memberikan hak kepada para penyair untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam bahasa untuk memperbarui bahasa. Penyimpangan tersebut dapat dilakukan dalam bunyi bahasa untuk menciptakan efek fonetik bagi irama atau rima yang dikehendaki. Penyimpangan dapat pula dilakukan dalam makna bahasa, khususnya melalui teknik metafor, dimana dua kata dengan makna yang tidak bisa dipertautkan, digabungkan untuk menelurkan makna baru. Usaha pemaknaan baru ini dapat dilakukan juga dengan mengubah status sebuah kata sebagai kata benda menjadi kata kerja, atau kata sifat, dan sebaliknya. Selain itu, penyimpangan dapat dilakukan dengan mengubah bentuk kata, dengan menerapkan cara penulisan yang tidak sesuai dengan ejaan yang baku.&lt;br /&gt;Penyimpangan bentuk kata berupa pemberontakan terhadap ejaan ini juga dilakukan dengan konsisten oleh Arsyad Indradi. Sekalipun secara semantik dan secara fonetik dia tetap konvensional, dalam arti tidak memasukkan bunyi-bunyi atau kata-kata yang tidak dikenal ke dalam sajak-sajaknya.&lt;br /&gt;Ada beberapa penyimpangan yang dilakukannya. Diantaranya adalah menuliskan kata ulang tanpa tanda sambung. Dalam sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Di Pancung Lanting” &lt;/span&gt;peneliti menemukan bentuk-bentuk seperti: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sahamahama, saricihricih, kilirkiliran, taruhuiruhui, ilungilung, dan baapikapik. &lt;/span&gt;Penyair juga menggabungkan dua kata yang seharusnya ditulis terpisah. Dalam sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Zikir Balarut”&lt;/span&gt; dapat ditemui bentuk-bentuk seperti: l&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ikatbaburih, manapungtawari, baraskuning, tanahbanyu, duitpacah, dan bauntungbatuah.&lt;/span&gt; Dalam sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Sarai Sarapun” &lt;/span&gt;peneliti menemukan bentuk seperti: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sakikihduakikih, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ampatpuluhsatu&lt;/span&gt;, yang semestinya ditulis: sakikih dua kikih, dan ampat puluh satu.&lt;br /&gt;Penyimpangan ejaan yang demikian, tentulah bukan ketidaksengajaan, atau kebetulan. Patut diingat bahwa huruf dan kata-kata tertulis adalah tanda untuk bunyi bahasa. Seorang penyair dapat memilih untuk melakukan manipulasi komponen tersebut.&lt;br /&gt;         Dalam sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Membangkit Batang Tarandam” &lt;/span&gt;tampak bentuknya yakni sajak terbagi menjadi menjadi tiga bait. Dapat dilihat bahwa pembagian ini ada kaitannya dengan kisah dan usaha untuk melestarikan Budaya Banjar atau yang diumpamakan sebagai “Mambangkit batang tarandam”. Prosesnya digambarkan sejak bait pertama hingga yang terakhir.  Bait pertama memaparkan bahwa Budaya Banjar telah hampir dilupakan. Bait kedua, timbul semangat untuk menghimbau masyarakat untuk mempertahankan kekayaan peninggalan orang tua terdahulu. Bait terakhir, patut dirayakan karena berkat kerjasama seluruh elemen masyarakat budaya ini tentu bisa dibangkitkan kembali.&lt;br /&gt;Bentuk sajak dalam antologi ini tidak terlalu menonjol. Akan tetapi dapat dikatakan penyair memastikan bahwa jumlah bait atau bentuk paragraf dalam sajak-sajaknya mendukung isi atau makna keseluruhan sajak. Seperti dalam sajak berikut ini&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marasa Maka Tahu&lt;/span&gt;  : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;.... Asa ganting paparutan napangai panurihan sunyi/Gatah tiis kada bagatah paluh nang diparah/Napang marasa maka tahu/Batis kulipak tungkulan baambah di padang banta/Marajah pahumaan lawas pang taung/Lawas marajah pagat janji basambung pagat pulang/Marajah di hati napang/Manunjul jukung, jukung tapahalang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Manajak kupiah, kupiah tapahalang/Marasa maka tahu/Kikicaktu wadai gayam mata picak dipatuk hayam//Ari kalayang ari/Cagat mata tunduktingadah/Balangsar mahalimpaur/Sakalinya tahadangi buah bungur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Marasa Maka Tahu” &lt;/span&gt;hanya terdiri dari dua bait. Bait pertama sebanyak 32 larik yang secara visual lebih panjang jika dibandingkan dengan bait kedua yang hanya 4 baris. Pembagian bait ini juga ada kaitannya untuk mendukung makna atau apa yang diceritakan dalam sajak. Bait yang panjang bercerita tentang penantian panjang seseorang akan perubahan nasibnya yang boleh dikatakan tidak beruntung. Bahkan harapannya agar orang yang kondisinya lebih baik tidak menutup mata akan keadaan itupun sia-sia. Penantian panjangnya itu diakhiri singkat oleh bait kedua puisi terutama larik terakhir &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;sakalinya tahadangi buah bungur &lt;/span&gt;merupakan ungkapan yang berarti sesuatu yang percuma saja ditunggu. Salam sastra *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarbaru, 17 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;( Esai ini telah saya angkat dalam bentuk skripsi saya untuk menyelesaikan S 1  FKIP Bahasa Indonesia dan Sastra UNLAM, 2008 )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-726143252792698860?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/726143252792698860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=726143252792698860' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/726143252792698860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/726143252792698860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2009/03/kalalatu-ekspresi-arsyad-indradi.html' title='&quot;Kalalatu&quot; Ekspresi Arsyad Indradi Dlm.IntrinsiknPuisi'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9w4wxaWZfI/AAAAAAAACvU/PEtnNPu3Kjc/s72-c/Hanna.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-4709717402461912081</id><published>2008-05-15T06:47:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T02:14:43.643-08:00</updated><title type='text'>Matinya Dewan Kesenian Daerah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SCxAdZr4f2I/AAAAAAAAA5E/2GxHwWcvGTw/s1600-h/s.budi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SCxAdZr4f2I/AAAAAAAAA5E/2GxHwWcvGTw/s200/s.budi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200602543561408354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                   &lt;/span&gt;Oleh : Setia Budhi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Minggu terakhir Januari 2007, secara bertubi-tubi beberapa SMS merajam HP yang datang dari seseorang dengan inisial &lt;b style=""&gt;A.Ind&lt;/b&gt;. Beberapa kali pula SMS itu saya balas dan pada akhirnya beliau memperkenalkan diri sebagai &lt;b style=""&gt;Arsyad Indradi&lt;/b&gt; yang katanya lagi gundah terhadap berkesenian di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Banjarbaru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tetapi apa yang disampaikan oleh &lt;b style=""&gt;Arsyad Indradi&lt;/b&gt; tidaklah semata berkesenian dan khususnya bersastra di Banjarbaru, dunia sastra dan kesenian nampaknya dalam keadaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sudah sampai pada titik jenuh, menghawatirkan, payah, parsah, luka, ngilu, pucat tak berdarah, dan menjurus pada sebuah kematian. Dapatkah tudingan kepayahan bersastra ini disampaikan pada Dewan Kesenian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Daerah ? Dimanakah ruang pertapaan Dewan Kesenian Daerah ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Menarik untuk mendiskusikan kegundahan berkesenian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan fokus kesusastraan. Saya mengontak Ali “julak Asa”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Syamsuddin dan Sandi Firly di Radar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, mengenai keluhan dunia sastra ini dan pada awalnya mau mengunci dengan kalimat &lt;b style=""&gt;“kalau tiada berguna bubarkan Dewan&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;Kesenian Daerah”.&lt;/b&gt; Tetapi menggunakan “bubarkan” atau “pembubaran” seakan lembaga berkesenian di daerah itu sudah tiada berguna dan tidak dapat diharapkan lagi keberadaannya. Kalau sudah dibubarkan maka itu akan sama maknanya bahwa DKD sudah tidak diperlukan karena sudah mati. Benarkah ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dewan Kesenian Daerah, apanya yang mati. Apakah kegiatan ? program ? kelembagaan ? seniman ? kreatifitas ? keuangan ? gedung ? motivasi ? semangat berkesenian ? Penghargaan sastra ? penerbitan buku sastra ? politik sastra ? Ataukah masyarakat sastra ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Kalau soalnya menyangkut sastra, lalu sastra apanyakah, isi, sejarah, karya, mode, sastra klasik, sastra modern ? Pengajaran sastra, buku sastra ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Saya kira sudah sejak lama para sastrawan di Kalimantan Selatan memendam kesumat mengenai keterpasungan institusi. Keterpasungan itu bukanlah pada masalah kreativitas bersastra atau berkarya, sebab karya-karya sastra mereka berseleweran baik yang sudah dipublikasikan maupun yang masih tersimpan di bawah tumpukan kertas, meja kerja maupun yang masih berupa coretan di atas daun, di lembar bungkusan rokok.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kegelisahan itu diam-diam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengalir sunyi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Kalau kegelisahan itu ialah soal kreativitas berkesenian yang bukan dilahirkan karena dukungan sebuah institusi yang bernama Dewan Kesenian Daerah, kalu mau dikemanakan lembaga DKD ini ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Sastrawan besar tidak pernah akan lahir dari menista dirinya dalam menara Dewan Kesenian, tetapi ia akan menjulang tinggi karena kreativitasnya sendiri. Karya sastra seorang Pramoedya yang mendunia lahir justru dari jeruji penjara dan tekanan rezim penguasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Sejarah pun mencatat bahwa sebagian besar sastrawan tiada pernah lahir dari rahim birokrasi dan tiada pernah lahir dari rahim pejabat-pejabat. Sastrawan itu ataupun mereka yang memiliki karya kesenian yang besar akan lahir dari petualangan menggarap dunia, menggarap epos sosial, kemiskinan, ketertindasan, penguasa korup. Seharusnyakah sastra berpihak kepada penguasa ataukah berpihak pada ibu kandungnya sendiri yang mernama masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Wahai, berhentilah sejenak mengunyah permen kisah cinta-cinta mistik, sebab kenapa tiada yang pernah memihak kepada racun kekuasaan yang membunuh anak-anak busung lapar, tiada yang berpihak para petani miskin dan tak ada yang peduli terhadap kerentaan hidup peminta-minta di bawah kemewahan konsumerisme. Kemewahan anggota legislatif dengan gaji dan rapelan harian dan bulanan yang menggelembung dari uang rakyat. Pun tiada yang suka dengan kemerosotan moral yang melanda tiada batas usia dan agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Fokus masalahnya adalah bagaimana mengharapkan produksi sastra dari sebuah duplikasi proyek kesenian dan kebudayaan di antara Dewan Kesenian kerja Dinas Pariwisata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dunia kesenian kemudian terguncang hebat manakala kepedulian terhadap sastra ataupun kesenian lahir hanya ketika ada sebuah “upacara” mau digelar, sekali lagi sastra baru &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ada ketika sebuah upacara mau diadakan. Kita lalu sibuk mematut diri, sibuk mematut jadwal dan sibuk mengatur konsumsi “dalam rangka” menyambut upacara tahun baru. Upacara Tujuh Belasan, upacara Muharram, upacara hari pendidikan, upacara Mlam Seribu Malam dan yang lain-lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Kabarnya Aruh Sastra pun telah masukdalam isu-isu politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah-Pilkada ? Tetapi apakah ini akan lebih baik dari pada tiada sama sekali ? Tetapi ya, akan lebih baik kalau berkesenian tidak dalam belenggu kegelisahan ? Kenapa mereka peduli kalau ada maunya ? Demi uang, kekuasaan atau kah proyek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Gedung Dewan Kesenian Daerah tiba-tiba menjaedi ramai, orang-orang mulai berdatangan dan orang-orang yang tadinya tak dikenal lalu memperkenalkan diri sebagai seniman dan sibuk berjabat tangan sebagai sebuah tanda kepedulian, mengisi absen dan seterusnya. Tetapi alangkah terkejutnya ketika upacara selesai, orang-orang kembali pulang dan tak menampakkan muka bahkan membuang muka seperti tak kenal, seperti tak terjadi apa-apa pada upacara yang baru digelar itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Baru sekali menulis puisi, kemudian memproklamirkan diri sebagai sastrawan besar. Baru dua kali menulis cerpen, lalu menyatakan diri cerpenis besar. Sayangnya pada sebuah kabar angin, ada orang yang yang tak pernah menulis puisi tiba-tiba lancar membuat antologi puisi. Ya, tak ada sebab menulis puisi bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. &lt;b style=""&gt;Tetapi kalau beberapa sajak yang ditulis orang lain lalu diakui sebagai karya sendiri. Ngiiing … telinga ini tiba-tiba mendenging.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Gedung Kesenian Daerah yang entah menempati ruang olah raga milik pemerintah daerah atau punya gedung sendiri kembali diam membisu. Aktivitas DKD seperti menemui kematiannya, kalau hanya bergantung kepada seseorang. Kasihan betul kalau nasib berkesenian menggantungkan diri pada seseorang yang “ kuncang kirap” mencari tambahan biaya untuk berkesenian ataupun kegiatan sastra.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Selama ini saya seperti termakan oleh bayang-bayang kegiatan DKD yang penuh dalam aktivitas satu tahun bahkan aktivitas bulanan dan harian. DKD dalam bayangan saya sebagai sebuah &lt;i style=""&gt;“rumah&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;produksi kesenian”.&lt;/i&gt; DKD dalam benak saya adalah Rumah Budi Bahasa yang akan mengajar bahasa-bahasa manusia yang tiada berbudi budaya. Siapakah yang mengajarkan kata-kata kotor kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anak-anak atau media masa di lembaran kriminal yang mengumbar kalimat-kalimat &lt;i style=""&gt;“Pangkung”,”Timpas”,”Bantai” ,”Leher dikampak””,”Tangan dicencang”,”Mulut ditombak”&lt;/i&gt;. Dan kata-kata &lt;i style=""&gt;“mutiara&lt;/i&gt;” itu dengan enteng digunakan pula oleh anak-anak yang sudah makan sekolahan sekalipun. Rupa-rupanya manusia sudah tak mengenal &lt;i style=""&gt;keindahan bahasa. Padahal budi bahasa budaya&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;kita&lt;/i&gt;. Dapatkah hal itu dibenarkan ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Dalam satu tahun orang-orang di Gedung DKD akan menghasilkan lusinan karya sastra seperti puisi, cerpen dan novel. Dalam setahun Gedung DKD akan memproduksi jutaan bait syair, puisi dan pantun. Dalan setahun Gedung DKD akan mencetak minimal dua belas buah Jurnal sastra karena Jurnal sastra itu terbit tiap bulan.Dalam setahun Gedung DKD akan melahirkan tarian-tarian, teater, musik-musik, lakon sandiwara dan pentas seni Dalam satu tahun DKD akan emproduksi film sejara, drama pendek atau sinetron.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Di Gedung DKD kita dapat menyaksikan pemutaran film, bermain drama dan menulis sastra. Di Gedung DKD kita dapat berdialog, diskusi dan membagi mengalaman batin kesenian dan membangun gerakan rakyat untuk menentang pengumbaran kata-kata kotor dan jorok di ruang kriminal karena hawatir meracuni budi bahasa anak-anak kita dikemudian hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Di Gedung DKD kita boleh membangun gerakan rakyat untuk jiwa anti korupsi, karena korupsi penyebab kemiskinan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Karena dalam setahun Gedung DKD itu penuh kegiatan, maka di sanalah akan dilahirkan seniman besar, penulis besar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan sastrawan besar. Tetapi apakah sastrawan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;besar itu dilahirkan atau dibentuk oleh lingkungan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang membesarkannya ?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sudahlah, yang penting berkarya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Suatu hari menjelang petang, saya silaturrahmi ke rumah Arsyad Indradi. Di rumah sederhana itu rupanya beliau sedang mempersiapkan antologi puisi dan kumpulan penyair Nusantara. Betapa terkaget-kaget melihat tumpukan kertas, tinta printer dan buku-buku sastra berantakan di ruang tamu beliau. Dalam pikir saya, apakah ini kantor DKD atau rumah tinggal ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Seorang Arsyad Indradi benar-benar aneh, antologi puisi dan kumpulan puisi Nusantara itu rupanya diproduksi sendiri, antologi itu cetak sendiri dengan kertas beli sendiri dan tinta printer beli sendiri. Dan semua karya itu mau disebarluaskan sendiri. Dimanakah keluarbiasaan seniman ini ? Berkarya dalam kesunyian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Mungkin beliau mengatakan dalam hati “jauhi sponsor, sebab karya sastra tak pantas disandingkan dengan logo produk semen “. Mungkin beliau percaya karya puisi sangat mustahil disandingkan dengan produk jamu. Sepatutnyakah kita bersedih bahwa antologi puisi kita dibiayai oleh bapak-bapak di bengkel pembuat gypsum. Bapak-bapak di bengkel sepeda motor yang tiap hari bersimbah keringat, berlumur oli dan genderang mesin rusak, lalu pada pemilik bengkel itulah kita meminta sponsor untuk membiayai cetak karya sastra. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Pemilik bengkel tersenyumkecut, sambil mengurut dada mulutnya kumat-kamit “Syukurlah aku masih hidup sebagai tukang bengkel dan sungguh mati aku tak mau jadi sastrawan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Maka janganlah kau samakan semangat bersastra pemilik bengkel sepeda motor yang berlumur oli atau sang penjual Gypsum dengan kiprah lembaga semacam DKD. Kau akan pernah sampai pada sejarah pendirian DKD yang dibengkokkan oleh rezim kecuali pada akhirnya hanya sebait kata-kata penuh penyesalan. &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Gedung DKD terus menyimpan misteri kematian, tersebab ketika upacara mau digelar darah berkesenian mengalir dari tubuhnya. Sesudah itu, kematian akan menimpanya lagi dan lagi. Tetapi katanya, bahwa ketika upacara pun mau digelar, itu bukanlah sebuah ritual kesenian tetapi bagian dari kerja dinas-dinas kebudayaan. Apakah seniman adalah pekerja proyek ? &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Biarkan kalian diskusi terus&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;sampai lupa berkarya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;, &lt;/i&gt;mungkin begitulah&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;kata &lt;b style=""&gt;Syamsiar Seman&lt;/b&gt;, sebab karya-karyanya terus lahir dari penanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Walau aku tertikam belati, karyaku lahir dari diriku sendiri, selamat tinggal kotaku,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;kata Arsyad&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;Indradi menutup SMS-nya&lt;/b&gt;. Dua orang itu sedang Amuk dengan karya sastra, cerita rakyat, puisi dan antologi. &lt;b style=""&gt;O, Amuk Kapak, kata Sutardji.&lt;/b&gt; Demikianlah.***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kuala Lumpr, 25 Januari 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;*) Penulis Kumpulan Cerpen Gadis Dayak 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;( Radar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, Cakrawala Sastra &amp;amp; Budaya, Minggu 28 Januari 2007 )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-4709717402461912081?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/4709717402461912081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=4709717402461912081' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/4709717402461912081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/4709717402461912081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/05/matinya-dewan-kesenian-daerah.html' title='Matinya Dewan Kesenian Daerah'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SCxAdZr4f2I/AAAAAAAAA5E/2GxHwWcvGTw/s72-c/s.budi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-6851928267560523591</id><published>2008-05-03T10:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T02:14:44.335-08:00</updated><title type='text'>Buku Arsyad</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByfUyTdX9I/AAAAAAAAAlM/rx8dDBwdgBY/s1600-h/Ahmadun+Yose+Herfanda.tif.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByfUyTdX9I/AAAAAAAAAlM/rx8dDBwdgBY/s200/Ahmadun+Yose+Herfanda.tif.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196203249528299474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Dunia kepenyairan punya banyak ‘orang gila’. Salah satunya, Arsyad Indradi Salah satu kegilaan penyair senior Banjarbaru, Kalimantan Selatan, ini adalah rela menjual tanahnya untuk membiayai penerbitan buku antologi puisi. “ Dia sampai harus menjual tanahnya untuk buku itu, “ kata penyair Banjarmasin, Micky Hidayat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;   Antologi puisi yang dibiayai Arsyad dengan sebidang tanahnya itu memang bukan buku sembarangan. Buku bertajuk &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;142 Penyair Menuju Bulan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yang diterbitkan melalui Kelompok Studi Sastra Banjarbaru ( KSSB ) yang didirikannya itu berisi 426 puisi karya 142 penyair Nusantara sejak yang baru muncul sampai yang paling senior. Termasuk, sajak – sajak presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;      Di tengah tebaran ratusan buku antologi sajak di Tanah Air, kehadiran buku &lt;i style=""&gt;142 Penyair Menuju Bulan&lt;/i&gt; itu tentu menjadi sangat penting, karena merangkum hampir semua penyair Indonesia dari semua generasi. Buku tersebut tidak hanya telah mendokumentasikan karya – karya mereka untuk diabadikan, tetapi juga untuk dapat menjadi rujukan penting penulisan sejarah perkembangan perpuisian di Nusantara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena itu, pengorbanan dan dedikasi Arsyad (semoga) tidaklah sia – sia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Selain Arsyad, dunia kepenyairan Indonesia banyak memiliki penyair yang sering menunjukkan pengorbanan dan dedikasi yang luar biasa pada sastra Indonesia. Di Mataram, NTB, misalnya, ada penyair senior Dinullah Rayes, yang sering harus menjual kudanya untuk biaya kegiatan sastra dan mengikuti acara di luar kota. Luar biasanya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meskipun rumahnya belum lama ini ludes terbakar,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dinullah masih saja dengan penuh semangat menghadiri acara – acara sastra di Jawa secara swadaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;                                                                      ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Jika inti kepahlawanan adalah kerelaan berkorban untuk bangsanya, maka Arsyad Indradi dan Dinullah Rayes adalah pahlawan sastra. Keduanya rela mengorbankan apa saja untuk ikut memajukan kesastraan bangsanya, tanpa peduli waktu, jarak, dan usia. Apa lagi sekadar berkorban harta, mereka akan rela – rela saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;    Karena itulah, ketika menjadi pembicara pada &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;The Ist International Poetry&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Gathering&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; di Medan tahun lalu, saya sempat mengusulkan agar pemerintah dapat memberikan penghargaan khusus untuk penyair – penyair seperti Arsyad dan Dinullah. Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film, Mukhlis Pa’Eni, yang saat itu tampil sebagai &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;keynote speaker&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, menyambut baik ide tersebut. Namun, realisasinya memang masih harus kita tunggu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;                                                                      ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Sejak tradisi penulisan puisi tumbuh subur di Indonesia, sejak akhir dasawarsa 1980-an, khasanah sastra Indonesia sudah disemaraki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;buku – buku antologi puisi ( bersama ) dan kumpulan puisi ( tunggal ) yang diterbitkan secara swadaya, sejak edisi stensilan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sampai cetak mewah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Buku – buku semacam itu makin marak saja ketika kantong – kantong dan komunitas – komunitas sastra bertumbuhan di Tanah Air, sejak awal dasawarsa 1990-an. Tiap kantong dan komunitas sastra seakan berlomba –lomba menerbitkan buku antologi puisi secara swadaya, baik secara patungan maupun atas bantuan sejumlah donatur. Tidak kurang pula jumlah penyair yang menerbitkan karya – karya sendiri dengan biaya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Jika dihitung secara cermat, jumlah buku semacam itu mungkin sudah mencapai ribuan. Pada periode antara 1992 sampai 1994 ( dua tahun ) saya pernah mencoba mengumpulkan buku – buku puisi swadaya semacam itu untuk bahan kajian. Tapi, karena jumlahnya membludak, saya kewalahan. Akhirnya, banyak yang terpaksa saya relakan untuk pemulung, dibawa siapa saja yang tertarik, dan sisanya hanya teronggok bisu di dalam sejumlah kardus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sangat menarik untuk meneliti dan mengkaji sajak – sajak yang terkumpul dalam buku – buku swadaya semacam itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya yakin, di dalamnya tersimpan kanon – kanon yang potensial untuk menjadi tonggak perkembangan perpuisian Indonesia. Tetapi, memang dibutuhkan kerja berat yang pasti sangat melelahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena itu, hingga kini belum ada peneliti maupun akademisi sastra yang mengkaji sajak – sajak dalam buku – buku puisi swadaya itu secara sungguh – sungguhdan komprehensif. Ada yang sempat membicarakan kesemarakan buku – buku puisi itu, memang, semisal Budi Darma. Tetapi, mungkin karena hanya berdasar pembacaan sepintas dan kurang menyeluruh, hasil analisisnya kurang memuaskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;                                                                      ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Di dunia penerbitan komersial, buku kumpulan sajak mendapat stigma sebagai buku yang tidak laku. Karena itu, buku kumpulan sajak dari penerbit komersial jumlahnya sangat terbatas. Karena itu pula, justru buku – buku antologi dan kumpulan puisi swadayalah yang sebenarnya lebih mewakili realitas perkembangan perpuisian Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Namun, sayangnya, buku – buku puisi swadaya justru cendrung terlewat dari perhatian pengamat, akademisi, dan lembaga pemberi penghargaan sastra. Karena itu, sejarah perpuisian Indonesia yang disusun oleh akademisi sastra bisa jadi hanya &lt;b style=""&gt;‘ sejarah semu ‘.&lt;/b&gt; Sebab, fakta sejarah yang paling mendekati kebenaran justru tersimpan dalam buku – buku puisi swadaya yang terlewat dari perhatian para penyusun sejarah sastra kita. *&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);"&gt;( Ahmadun Yosi Herfanda )&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dari : Harian  Republika, minggu, 24 Februari 2008 dan http://www.republika.co.id&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-6851928267560523591?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/6851928267560523591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=6851928267560523591' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/6851928267560523591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/6851928267560523591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/05/buku-arsyad.html' title='Buku Arsyad'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByfUyTdX9I/AAAAAAAAAlM/rx8dDBwdgBY/s72-c/Ahmadun+Yose+Herfanda.tif.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-529264770630065071</id><published>2008-04-19T01:50:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T02:14:44.447-08:00</updated><title type='text'>Rasa Trenyuh dan Kegilaannya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByXyyTdX8I/AAAAAAAAAlE/Yvwjae12mKA/s1600-h/Kurnia+Effendi.tif.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByXyyTdX8I/AAAAAAAAAlE/Yvwjae12mKA/s200/Kurnia+Effendi.tif.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196194968831352770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:22;"&gt;&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Saya “temukan” lelaki seniman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Setelah mengenalnyahanya lewat koresponden yang sederhana, tiba-tiba saya mendapatkan sosoknya di lobi hotel tempat saya menginap. Kisahnya, melalui Isbedy Stiawan saya mendapatkan nomor kontak Micky Hidayat, penyair aktivitas Taman Budaya Kalimantan Selatan. Setelah bertemu dengan panitia Kongres Cerpen &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; ke-4 itu, saya dijanjikan akan bertemu dengan Arsyad Indradi yang menjadi penggagas, penyunting, dan penerbit buku &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;142 Penyair Menuju Bulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Saat bertemu malam itu, saya dipeluknya hangat. Bagai dua orang saudara yang sempat terpisah jauh, dipenuhi kerinduan. Padahal malam itu pertemuan kami yang pertama. Sebelumnya hanya melalui perlawatan karya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dialah, &lt;b style=""&gt;Arsyad Indradi&lt;/b&gt; ! Penyair yang nyaris mengabdikan hidupnya kepada keindahan puisi, tanpa berniat merengkuh duniawi. “ Saya sangat kaya, bung ! katanya dengan tersenyum yang selalu merekah di antara jenggut lebat putihnya. Saya sedikit mengerutkan kening, sebelum ia melanjutkan :” Batin saya sangat kaya, sahabat saya di mana-mana. “ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Demikianlah, cara berpikirnya sangat sederhana. Lelaki yang lahir 31 Desember 1949 ini cukup “gila” dengan menerbitkan antologi puisi 142 penyair Indonesia atas biaya sendiri. Dicetak 200 eksemplar dengan cara yang betul-betul indie : ketik sendiri, setting sendiri,cetak sendiri, desain kaver sendiri, jilid sendiri …. Setelah jadi, 142 eksemplar dia kirimkan kepada masing-masing penyair, juga ayas biaya sendiri. Selebihnya untuk sejumlah perpustakaan dan para sahabat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“ &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; belas juta rupiah,” jawabnya santai saat saya tanya modal yang harus dikeluarkan. Saya kira ini sebuah dedikasi luar biasa, tidak main-main, mengingat buku itu tidak dijual dan dia bukan orang yang berlimpah uang. Secara formal ia bekerja di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional, sebagai Pengawas Seni Budaya wilayah Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;“ Saya punya komunitas, namanya Kelompok Studi Sastra Banjarbaru. Saya dirikan bertepatan dengan ulang tahun saya, di penghujung 2005.” Katanya penuh semangat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;“ Wah, hebat. Berapa anggotanya ?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;“ Tiga orang !”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Benar-benar “gila”, saya rasa. Mungkin sikap melitansi pada sastra yang membuat ia memilih bertiga saja. Kedua anggota yang dimaksud adalah Harie Insani Putra (anak angkatnya), dan Hamami Adaby (sahabat dan seniornya yang kini terserang stroke). Akan tetapi mereka selalu membuat semacam acara berkala yang menghimpun para kaum muda peminat sastra untuk sama-sama berlatih menulis puisi dan membaca puisi. Kadang-kadang berdiskusi tentang perkara sastra yang sedang hangat hingga larut malam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Setiap ada kawan penyair atau cerpenis dari luar &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; yang datang ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, ia usahakan sepenuh hati untuk dapat menemuinya. Iwa silaturrahmi melekat padanya. Dan ia buktikan dengan meminta teman-teman dari pelbagai provinsi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; mengirimkan puisi kepadanya, untuk dikumpulkan dalam satu bunga rampai yang tebal. Ketika Sutardji Calzoum Bachri ke Kotabaru Kalimantan Selatan, disempatkannya untuk minta satu-dua puisi. “Saat itu,” kenangnya.”Dia menulis puisinya dengan tangan. Dia hapal di luar kepala. Saya begitu senang karena Sutardji jarang mau diminta untuk bergabung dalam satu antologi dengan penyair yang tidak semuanya senior.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Saya percaya itu. Ingat &lt;i style=""&gt;Tonggak&lt;/i&gt; ( I sampai IV), antologi puisi yang cukup lengkap mendokumentasikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karya penyair &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; ? Di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tak ada puisi Sutardji. Tapi saya tak heran, karena Arsyad Indradi memang memancarkan aura kehangatan seorang sahabat. Hatinya lembut meskipun penampilannya boleh dicurigai sebagai tokoh ekstrim kanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Mari kita buktikan dengan percakapan saya dengannya mengenai situasi “panas” antarkubu komunitas di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; gerakan yang sedang menyerang “dominasi” Komunitas Utan Kayu. Bagaimana pun ia sempat menjadi saksi saat hadir dalam acara Pekan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri bulan Juli lalu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Bagaimana kesanmu terhadap suasana kebudayaan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Sangat disesalkan sikap-sikap permusuhan itu. Kami datang dari daerah, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, untuk menghormati penyair besar Sutardji. Tetapi kawan-kawan di Jakarta justru tidak memberikan rasa hormat pada Sutardji. Pembacaan puisi mereka ditunggangi oleh ungkapan provokasi. Saya tahu ada pihak yang diserang, tapi seharusnya jangan di forum yang sakral itu. Saya tak tega, trenyuh dan hampir menangis, melihat Sutardji di antara penonton baris depan. Seharusnya ia menikmati pertunjukan yang indah”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Jadi apa harapanmu terhadap sastra dan para penyair &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; ?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Janganlah kita memiliki jiwa yang kerdil. Berkarya saja yang bagus. Majukan seni sastra &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sastra kita masih kalah kualitas dibanding negeri-negeri lain, jangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diperburuk dengan sikap yang kontraproduktif.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Jadi apa tujuan mengumpulkan puisi para penyair dalam satu buku ?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Tentu untuk dokumentasi karya sekaligus persahabatan. Saya mengundang semua penyair yang cocok dengan batin saya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Rasanya hampir semua diundang, meskipun tidak seluruh yang mengirim tertampung dalam buku itu. Menurutnya, itu juga karena sejumlah puisi berada di bawah standar, bukan bermaksud menolaknya. Dengan kata lain, sahabat Arsyad Indradi begitu banyak dan tersebar di seluruh Nusantara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Kegiatan sehari-hari selain sebagai pegawai negeri adalah mengajar sastra dan pengembangan diri untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anak-anak SMP dan SMA secara ekstra kurikuler. Pergi ke mana-mana dengan sepeda motor dan topi yang setia menutup kepalanya. Usianua mungkin tergolong tidak muda lagi, tapi senantiasa tampak bugar. Mungkin karena selalu berpikir positif dan menyambut akrab setiap sastrawan yang ditemuinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;“Jangan lupa, ditunggu kalian pada acara Kongres Cerpen Indonesia di Banjarmasin bulan Oktober nanti,” pesannya pada saya. Tapi sesungguhnya itu pesan kepada semua cerpenis &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan para pegiat sastra yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Arsyad Indradi, penyair yang tinggal di Jalan Pramuka no.16 RT 03/RW 09 Banjarbaru Utara &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; Selatan itu, memamng selalu ingin terus memperkaya batinnya. Dari hari ke hari. &lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                 &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;*KURNIA EFFENDI*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:9;"&gt;Penyair,redaktor Tabloid Mingguan Parle, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                  &lt;/span&gt;(No.100 Th.II 6-13 Agustus 2007, ha.16)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-529264770630065071?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/529264770630065071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=529264770630065071' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/529264770630065071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/529264770630065071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/04/rasa-trenyuh-dan-kegilaannya.html' title='Rasa Trenyuh dan Kegilaannya'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByXyyTdX8I/AAAAAAAAAlE/Yvwjae12mKA/s72-c/Kurnia+Effendi.tif.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-1998984114914721275</id><published>2008-04-19T01:46:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T02:14:44.679-08:00</updated><title type='text'>SETANGKAI BUNGA DALAM SERIBU AROMA EKSPRESI CINTA LELAKI BANJAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SBySZiTdX1I/AAAAAAAAAkM/_Q8Y1Fk-5EE/s1600-h/Diah+Hadaning.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SBySZiTdX1I/AAAAAAAAAkM/_Q8Y1Fk-5EE/s200/Diah+Hadaning.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196189037481516882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Oleh : Diah Hadaning&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                                                                               &lt;/span&gt;“ &lt;i style=""&gt;...&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Sempurnakan jerit setangkai bunga/Agar mimpi jangan gelisah/Waktu pagi dibasuh tangisan kecil/Tapi aku tak ingin siapa pun/Mengusik ujung kelopaknya/Sebab setiap tetes embun/Adalah suara rintihan riwayat/Kerinduan/ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tak perlu jambangan/Sebab akulah jambangan setiap rintihan/Tuhan kutaruh keyakinan/Jangan kau sembunyi di balik anganangan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;...”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ekspresi cinta atau kata-kata pujangga yang sarat makna ? Tentu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya sang penyair dan Tuhan yang mengetahui. Pembaca adalah penikmat yang ‘ &lt;b style=""&gt;bersih&lt;/b&gt;’&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanpa pisau bedah, membiarkan hati terbuka.&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;“ &lt;b style=""&gt;Romansa Setangkai Bunga&lt;/b&gt; “ yang diangkat dari judul puisi pertama merupakan ‘&lt;b style=""&gt;pernyataan&lt;/b&gt;’ penyair pada dunia (seni) yang mengetengahkan etika dan estetika serta tetap percaya pada kata,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;modal penting&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi penciptaan puisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Jagad kecil dan jagad agung yang menyatu, sang diri dan Tuhannya yang saling tahu, nyata sebentuk keindahan yang tak akan pernah pudar dari jagad kepenyairan seseorang. Semua bisa memesona&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;manusia dalam &lt;b style=""&gt;‘seruas waktu’&lt;/b&gt; : pagi,embun, bunga, mimpi, kerinduan, tempat, dan jiwa, adalah nuansa percik-percik kasih sayang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Bagi seseorang, banyak cara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk mewujudkan mimpi yang menyatu dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kenyataan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serta harapan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Puisi merupakan salah satunya selain sebagai saksi jaman dan saksi perjalanan usia. Bagi &lt;b style=""&gt;Arsyad Indradi &lt;/b&gt;( Barabai, 1949 ), puisi mempunyai makna yang cukup pribadi. Manusiawi jika seorang penyair juga ingin mengenang masa muda, bagian awal dari perjalanan panjang anak manusia dalam menjalani kehidupan. Tentu saja termasuk di dalamnya, persahabatan &lt;b style=""&gt;– &lt;i style=""&gt;karunia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;yang memperkaya jiwa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; – dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga kebersamaan yang selalu menambah pengalaman, itu memberi nuansa kebahagiaan tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Hal-hal itulah yang ingin dituangkan penyair dalam antologi puisinya berisi 85 judul bertajuk ‘ &lt;b style=""&gt;Romansa Setangkai Bunga&lt;/b&gt; ‘. Menikmati ‘ bunga rampai album puisi cinta Arsyad Indradi’ yang bertitimangsa periode 1970 – 1979, 1980 – 1988, 1993 – 1998, dan 2000 – 2006, pembaca dibawa memasuki taman bunga dunia kata. Yang terhampar adalah warna-warna yang elok, bersih, dan santun. ‘&lt;b style=""&gt;Pakem&lt;/b&gt;’ perpuisian merupakan suatu nilai yang tetap dipertahankan sang penyaair.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Sebagai puisi bernuansa cinta tentu banyak ungkapan tentangnya seperti terwakili dalam kata-kata cinta, asmara, rindu, sunyi, senyum., tangis, dan isak sembilu mendaki mimpi-mimpi (spesifik Arsyad ?). Juga bisa ditemukan idiom-idiom yang unik seperti larva bintang, semak ganggang, serbuk bintang, serbuk ganggang, musik batu kolam (sebuah judul puisi hlm 80, ditulis 1985).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Lebih lama menyimak lebih terasa nafas konfensional yang nampaknya memang menjadi bagian dari gaya penyairnya. Namun ada juga yang terasa kenes seperti diwakili oleh judul puisi &lt;b style=""&gt;Di Kolam Garden City Waktu Pagi&lt;/b&gt;, &lt;b style=""&gt;Aku tersesat&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;dalam Gumpalan Pekat, Renjana&lt;/b&gt;, puisi-puisi yang ditulisnya tahun 1977, pada saat penyair berusia 28 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Puisi-puisi dalam ‘&lt;b style=""&gt;RSB&lt;/b&gt;’ sesuai dengan maksudnya, kental dengan aroma cinta. Sebagai contoh, Puisi &lt;b style=""&gt;Kau Kirim Gerimis&lt;/b&gt; memuat impian-impian yang wajar pada orang muda usia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(21 tahun). Tapi ia juga telah bicara tentang ajal, kegamangan serta kecemasan-kecemasan. Semuanya menjadi bagian dari nuansa jiwa seorang penyair, sedang tumbuh maupun telah menemukan ‘dunianya’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Di tahun 2006 pada saat penyair berusia 57, masih menunjukkan gairah jiwa muda &lt;b style=""&gt;‘ yang kaya aroma anggur&lt;/b&gt; ‘ masih tersimpan hasrat indah ingin memetik dengan lembut bunga-bunga yang bermekaran di hati “&lt;b style=""&gt;sang kekasih’ &lt;/b&gt;dan masih&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;memiliki semangat&lt;b style=""&gt; ‘menangkap’&lt;/b&gt; suatu yang bermanfaat bagi dunia kehidupan. Setiap insan yang menjalani kehidupan dan mengusung misi NYA, bukankah harus menjaga yang satu ini ? Menangkap yang bermanfaat !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Ada lagi pada hlm 22, sebuah judul yang akan ada dan terjadi sepanjang jaman, di setiap mana, di setiap siapa, yaitu &lt;b style=""&gt;‘Kisah Kasih di Suatu Taman’ – &lt;/b&gt;sebuah pesona peristiwa kejiwaan, sebuah lukisan indahnya kesetiaan, yang mengingat terbatasnya ruang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bisa dikutipkan sebagian dari puisi tersebut. “ &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Asmara tiada pernah mengenal musim/Bersemi pada siapa pun dalam kehidupan/Mekar&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;dibungakan/Dan wangi pun diharumkan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;/ ...” Sebuah kisah yang bisa dialami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;siapa saja ( tanpa beban dosa ? ) – tentunya jika oleh mereka yang masing-masing masih ‘sendiri’. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam pengertian, menjalin kisah tanpa merugikan dan menyakiti sesama, bukan ? ( Wahai penyair, jika itu yang dimaksud, itulah keindahan sejati ! ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Ya, insan seni dalam konteks ini penyair, adalah pencatat jaman, perekam sejarah dalam skala mikro maupun makro. Seniman (sastra) adalah manusia yang diberkahi, maka ia punya pertanggungjawaban moral kepada sang Pemberi, kepada bangsa dan negeri, tempat ia tumbuh, hidup dan berkembang, dan tentunya kepada nurani sebagai insan yang tahu berterimakasih kepada Penciptanya. Arsyad sangat menyadarinya. Menyadari bahwa dunia penyair adalah ‘&lt;b style=""&gt;dunia kata-kata’&lt;/b&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maka ia memberi tempat dan kepercayaan yang baik kepada kata-kata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Arsyad yang baru saya kenal lewat nama dan karya, pada saat saya menulis ini, terasa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekali kami bagaikan sedang berdialog, tukar pikiran, saling memahami dan bisa saling mengerti pada bagian-bagian tertentu. Sepertinya saya bisa meraba hatinya, menggarisbawahi pemikirannya ( ya, tulisan/catatan ini lantas menukik lantaran saya bukan kritikus tapi sesama pelaku seni yang ketemu mitra sewawasan ), jadi perasaan lebih ikut berperan. Bukankah begitu mitraku penunggu bumi &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; yang tetap setia ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Kita sama-sama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tahu bahwa insan seni bukan penonton di pinggir gelanggang melainkan pelaku peristiwa di gelar arena kehidupan. Ia juga bukan pejalan kaki di trotoar yang lewat sesaat lalu hilang bersama perjalanan waktu. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Masalahnya adalah bagaimana menjaga semuanya ini relatif berdaya guna baik bagi diri maupun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sesama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Saya yakin setiap penyair yang berangkat dari sebuah kesadaran dan bukan dari ‘ sekedar ‘, sepanjang usia proses kreatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang tak kenal henti akan selalu berjuang di arenanya untuk tidak pernah ‘ merasa lelah ‘. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Senantiasa memadukan intelektualitas, pengalaman hidup ( lahir batin ), keterampilan ‘ mengendalikan ‘ kebahasaan dengan segala perniknya, kemudian membingkai motivasi diri. Semoga puisi tetap mampu bicara dengan caranya sendiri, mampu menjembatani segala hati, meskipun bukan tandingan bagi amunisi. Salam kreatif dari seberangt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Bogor, awal musim tahun 2007, Pengelola&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Warung Sastra DIHA, Depok Bogor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-1998984114914721275?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/1998984114914721275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=1998984114914721275' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/1998984114914721275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/1998984114914721275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/04/setangkai-bunga-dalam-seribu-aroma.html' title='SETANGKAI BUNGA DALAM SERIBU AROMA EKSPRESI CINTA LELAKI BANJAR'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SBySZiTdX1I/AAAAAAAAAkM/_Q8Y1Fk-5EE/s72-c/Diah+Hadaning.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-6265998317397554491</id><published>2008-04-19T01:44:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T02:14:44.800-08:00</updated><title type='text'>PUISI – PUISI DIMENSI ! SIMPAN RUH BUMI KALIMANTAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByTCSTdX2I/AAAAAAAAAkU/0C9_2c5r6_g/s1600-h/Diha.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByTCSTdX2I/AAAAAAAAAkU/0C9_2c5r6_g/s200/Diha.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196189737561186146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; : &lt;span style="color:fuchsia;"&gt;Diah Hadaning&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Catatan khusus tentang antologi puisi sepuluh penyair Banjarbaru &lt;b style=""&gt;( &lt;span style="color:fuchsia;"&gt;Arsyad&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:fuchsia;"&gt;Indradi&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:green;"&gt;Eza Thabry Husano&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:blue;"&gt;Hamami Adaby&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(153, 51, 102);"&gt;Hudan Nur,&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;Isuur Loeweng&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;S.Fatimah Adam&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:purple;"&gt;Harie Insani Putra&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);"&gt;Nina Idhiana&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Syamsuri Barak&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:maroon;"&gt;Ali Syamsudin Arsi&lt;/span&gt; )&lt;/b&gt; ini, merupakan jembatan panjang persahabatan sastra antarkawasan. Catatan dari &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Warung Sastra DIHA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;.&lt;/span&gt; Buku dengan tebal 108 halaman yang dieditori Ogi Fajar Nuzuli diterbitkan &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:fuchsia;"&gt;Kelompok Studi Sastra Banjarbaru&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (2005), ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baru merupakan sebagian peta kepenyairan Kalsel khususnya Banjarbaru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; beberapa hal khusus yang bisa kita garis bawahi selama membaca dan menikmati karya – karya terhimpun dalam &lt;b style=""&gt;DIMENSI. &lt;/b&gt;Antara lain, bahasanya yang tetap santun, tema – temanya tetap bebas dari aura GSM atau Gerakan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Syahwat Merdeka. Di luar DIMENSI adalah di luar koridor antologi ini. Nampaknya, sepuluh nama dalam kebersamaan ini tetap memegang etika dan estetika dalam menoreh karya, meski ada ‘ &lt;b style=""&gt;lesensia poetika&lt;/b&gt; ‘, hal yang sangat dibanggakan para ‘penyair’ yang memberhalakan kebebasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;Kita temukan nafas cinta kota kelahiran, hulu dari rasa cinta tanah air, seperti kita baca pada puisi &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:fuchsia;"&gt;‘ Perempuan Itu Bernama Pertiwi’&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;(hl 9&lt;b style=""&gt;), ‘ &lt;span style="color:green;"&gt;Notasi di Atas Kota&lt;/span&gt; ‘ &lt;/b&gt;(hl 16),&lt;b style=""&gt; ‘&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Cikang’&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;(hl 19&lt;b style=""&gt;), &lt;span style="color:purple;"&gt;Khasidah Kemerdekaan’&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;(hl 36),&lt;b style=""&gt; ‘&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;Tafsir Sebuah Kota’&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;(hl&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;37), ‘&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:teal;"&gt;Banjarbaru Kota Pendidikan’&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (hl 49),&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;’Kotaku Indah’&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (hl 53), &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;‘Banjarbaru’&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;(hl 68),&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;’Kubangunkan Banjarbaru’&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; (hl 93), sayang tak mungkin &lt;b style=""&gt;WSD&lt;/b&gt; kutipkan lengkapnya puisi – puisi tersebut atau dengan kata lain pembaca harus membaca langsung DIMENSI (2005).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Modernisasi, teknologi, kemajuan di satu sisi, menghadirkan ‘kehancuran’ di sisi lain yaitu nilai – nilai tradisi yang menafasi eksistensi bangsa ini, yang menjaga ‘mahkota jiwa’ bangsa ini. Penyair dalam DIMENSI bukan tak menangkap fenomena ini. Muncul pula kritik – kritik kepada atau terhadap perwujudan yang banyak ‘membunuh’ – menghilangkan – bahkan ‘menindas’ ruh yang hidup oleh mantra – mantra ( yang ikut jadi korban ) budaya modern yang kontroversial dan membuat banyak ‘manusia’ jadi marjinal (hl 25,27). Ya, kritik keras terhadap perilaku manusia pengusung peradaban baru. Semua itu menimbulkan kegetiran, parodi karena tak berdaya menepis keangkuhan yang merajalela berpasangan dengan kerakusan duniawi yang kini sering dijadikan ‘panglima’. Tertera pada hal. 22 misalnya, merupakan protes keras pada pelaksanaan pelestarian lingkungan hidup namun dalam bahasa yang tetap santun. Lebih merupakan mawas diri atas ketidakberdayaan menghadapi kondisi dan situasi yang menghampar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;Pilihan tema yang beraneka seperti, kerinduan pada Tuhan, rindu perubahan, lingkungan hidup, juga tak meninggalkan tema – tema indahnya persahabatan, cinta &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kelahiran bahkan dalam memaknai kemerdekaan. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Pula&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kemerdekaan daqlam berkarya yang tetap berada dalam koridor etika dan estetika. Dalam DIMENSI ‘ruh bahasa’ tetap dijaga para penyair sepuluh nama. Bahasa memang menunjukkan bangsa. Dalam bahasa ada ‘mahkota’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;DIMENSI berhasil menepis perbedaan senior – yunior. Penyair dalam DIMENSI benar – benar lintas generasi yang menampilkan kebersamaan. Mereka yang lahir antara tahun 1938 – tertua ( E.Thabri Husano ) dan tahun 1987 – termuda ( Nina Idhiana ) merupakan hutan humus &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt;, tetap menyimpan harapan masa depan. Sementara Si Abah ( Arsyad Indradi – 1949, Barabai ) yang menyimpan ‘ruh pamong’ terwakili dalam sajaknya SEBUAH KATA YANG PECAH (hl 15) menurut kacamata WSD, coba kita nikmati : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Kueja setiap ziarah ayat batumu/ Rekuiem isak bumi / Bumi yang menapaskan ruh / Yang senantiasa kunapaskan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/ pada namamu / Kubangun kecemasan / Karena kehilangan alifmu / di setiap pintu rumahmu / disetiap aku menyeru / Aku rebah di bumi / Rebah menciumi tapakdemitapak kakimu / Menciumi rahasia katademikata/ yang kau tebarkan di sajadahmu / Aku rebah di sebuah kata / yang kau ayatkan pada napasku //.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Menulis panjang banyak diminati ( dalam DIMENSI ). Bisa kita temukan pada Perempuan Itu Bernama Pertiwi ( Indradi ), Leluhur, Sebab Aku Bukan Orang Bukit, Rumah – Rumah Padang Ilalang, Guru Para Penyair Berkata, Indonesia Dalam Kaca Mata Luka ( Arsi ), Sebuah Kota Menggesek&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Biola Ajaib, Orkestrasi Danau Air Mata, Tafsir Sebuah Kota, Improfisasi Abad – Abad Kehidupan, ( Husano ), SDM, Andai ( Fatimah ), Aku Menulus, Intan, Atikah, ( Hamami), Kemusnahan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Peradaban Bukit, Demam Peluru Hujan ( Harie ), Auraku Terukir di Prasastiku ( Hudan ), Yang Ada Di Antara Mimpi, Aku Berdiri Di Antara Butiran Cinta ( Isuur).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;Sajak – sajak pendek menarik juga kita nikmati dalam DIMENSI. Keangkuhan Malam I, Epigram I &amp;amp; II, ( Hudan ), Penat ( Nina ), Kubangunkan Banjarbaru, Dia Yang Kucari, Aku Ingin Cinta-Mu ( Samsuri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;). Kita nikmati satu di antaranya, &lt;b style=""&gt;Epigram Nasib&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;I dari Hudan&lt;/b&gt; : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:purple;"&gt;riak aliran sungai itu menghempaskan aku ke batu – batu kasat / dari satu sudut ke sudut lain / juga menghalau dayungku dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kanan ke kiri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color:purple;"&gt; //&lt;/span&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sesuatu yang patut digarisbawahi adalah : Kebahasaan yang mendukung ide – ide penyair dihadirkan secara sederhana namun bermakna, gambaran dari dunia tradisi yang khas ( Kalimantan Selatan ). Sajak – sajak rimbun dan panjang masih simpan misteri bumi &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt;. Dan catatan ini, ruh di seberang yang menyapa ruh kata – katamu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                         &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;( Catatan Dari Warung Sastra DIHA, Depok- Bogor )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-6265998317397554491?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/6265998317397554491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=6265998317397554491' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/6265998317397554491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/6265998317397554491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/04/puisi-puisi-dimensi-simpan-ruh-bumi.html' title='PUISI – PUISI DIMENSI ! SIMPAN RUH BUMI KALIMANTAN'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByTCSTdX2I/AAAAAAAAAkU/0C9_2c5r6_g/s72-c/Diha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-2047817737097476350</id><published>2008-04-19T01:42:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T08:22:26.962-07:00</updated><title type='text'>Nyanyian Seribu Burung: Dari Relasi Manusia Hingga Narasi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xHEbOAPjI/AAAAAAAACws/CI9hMSbwohs/s1600/Yusri+Fajar.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 130px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xHEbOAPjI/AAAAAAAACws/CI9hMSbwohs/s200/Yusri+Fajar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466322189072481842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByTmyTdX3I/AAAAAAAAAkc/BZl_GegakUs/s1600-h/Yusri+Fajar.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 60.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Oleh: Yusri Fajar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;(Penyair dan Staf Pengajar Program Bahasa dan Sastra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Universitas Brawijaya Malang)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;O, hati dan jiwaku/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bernyanyilah dari bungabunga cinta/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang mekar dari kelopakkelopak kamasutra/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wahai hidupku kitalah pengembara/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setiap kepak sayap dan kicau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ke puncakpuncak imperium cinta/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wahai. (&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Arsyad Indradi, 1971, Imperium Cinta&lt;i style=""&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 144.45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam jagad kepenyairan, satu hal yang tak bisa terelakkan adalah pengembaraan batin. Melalui selaksa kata yang kaya makna, imaji dibawa dalam sebuah kontemplasi yang berisi fenomena manusia dan lingkungannya. Perjalanan seorang penyair ibarat air mengalir, melalui sungai dan laut kehidupan yang penuh kisah-kisah bahagia dan luka. Waktu yang terjaga menjadi kisaran bagi mata batin dan mata pena untuk berpaut menelusuri kisah-kisah itu lalu menuliskan bagian-bagian alurnya dalam rajutan kata-kata padat yang memiliki kekuatan estetika.&lt;br /&gt;Memasuki dunia puisi, jangan pernah bermimpi seperti berkelana di dunia ilmiah yang dipenuhi oleh hipotesis dan kesimpulan yang bisa diukur dengan teori dan rumus-rumus matematis dan pasti. Sebaliknya, dunia puisi adalah dunia kata penuh metafor dan simbol yang membutuhkan perasaan untuk mencipta dan membacanya. Penyair bermain–main dengan dunia kata sehingga kadang ia dianggap ‘gila’. Pikiran-pikirannya melampaui batas-batas kesadaran. Untuk menyelami makna puisi seringkali dibutuhkan lebih dari sekali proses pembacaan.&lt;br /&gt;Imajinasi penyair melanglang-buana kemana-mana ibarat burung, menyuarakan kata hati dan jiwa lewat puisi. Dan untuk mendiagnosa imaji dalam puisi tak perlu bersusah payah menghadirkan pakar ilmu kedokteran karena puisi bukanlah gejala yang penuh kepastian tanda. Puisi adalah entitas yang memungkinkan kelahiran berbagai arti dan makna. Penyair Arsyad Indradi menyinggung perihal ‘kegilaan’ seorang penyair dalam salah satu puisinya yang berjudul ‘Ruh Puisi’. Gilamu tak mungkin disembuhkan/kecuali melalui perenungan/maka lahirlah sebuah pemikiran/seperti apa kata hatimu. Tetapi penyakit gilaku kambuh kembali/ketika merasuki jiwa sang penyair/yang sedang menatap kehidupan semesta ini. ‘Kegilaan’ disini tentu bukan berkaitan dengan penyakit lupa ingatan tapi lebih pada kebebasan bersuara dan bergumul dengan tema dan kata. Dan penjelajahan atas puisi-puisi pun harus segera dimulai dengan membawa turut serta perasaan, pengalaman dan pengetahuan.&lt;br /&gt;Membaca satu persatu puisi dalam antologi Nyanyian Seribu Burung karya Arsyad Indradi, penyair Banjarbaru, pembaca akan dihadapkan pada tamsil-tamsil kehidupan sekaligus guratan penjelajahan atas eksistensi dan relasi diri manusia, lelana atas kota-kota dan juga Indonesia, tanah air di mana penyair hidup di dalamnya. Arsyad Indradi melukiskan perjalanan kehidupan ibarat kapal yang sarat dengan riwayat. Dan dengan kata-kata pula maka makna-makna dalam sebuah riwayat akan terasa hidup dan menggeliat. Bila manusia telah berangkat mengarungi proses kreatif dan tugas lainnya sebagai hamba Tuhan maka ia, dengan keteguhan, tak perlu mudah berhenti bahkan kembali.. Di mana kita menambatkan keyakinan/maka layar telah kita kembangkan/sebab laut adalah sebuah perjalan panjang/yang mesti kita tempuh/dan kita tak perlu lagi berpaling (Puisi: Antara Kapal Berlabuh). Seorang penyair atau siapa pun juga mengemban tugas menjalankan potensi yang ada pada dirinya untuk menggapai harapan-harapan dengan kesungguhan.&lt;br /&gt;Manusia selain mempunyai kebutuhan memberdayakan diri melalui kerja juga mempunyai kebutuhan untuk membangun relasi dengan sesama (horisontal) maupun dengan Tuhan (vertikal) dalam hidupnya. Dalam Antologi Nyanyian Seribu Burung hubungan antar sesama manusia dan manusia dengan Tuhan tertuang dalam beberapa puisi yang ditulis penyairnya melalui bahasa yang kuat metafor-metafornya. Kesadaran akan hubungan sosial dan hubungan dengan Tuhan menempatkan penyair dalam dua dimensi hidup yang diyakininya: dunia dan akhirat. Tuhan, pencipta manusia, adalah dzat yang harus selalu diingat. Lilin merah berkalikali dipadamkan angin/entah apa setiap kunyalakan/aku ingin dekat denganMu. Dedaunan pinus berdesir/kusembunyikan degup jantungku/dalam hamparan sajadahMu. Setiap untai zikir/sukma sejatiku/tak letih menunggumu. (Puisi: Malam Hening). Hubungan dengan Tuhan atau ibadah yang dilakukan secara tulus, ikhlash dan khusyu’ bisa menjadi sebuah energi tiada terkira. Pengakuan atas eksistensi dan kuasa Tuhan akan membawa manusia pada pemahaman akan eksistensi dirinya. Rasa dan emosi yang dalam kadang tak terbendung bila rindu akan Tuhan menyerbu dan ingin mengadu. Sajadahku basah oleh airmataku/Denyut jantungku luluh dalam zikirku. Wahai malam hening, lebih ke dasar lagi/karena aku nikmat dalam tawa dan ratapku. (Puisi:Nikmat Dalam Tawa dan Ratap)&lt;br /&gt;Sementara kesadaran sosial Arsyad Indradi terlihat dalam puisi-puisinya yang lain, misalnya Penarik Becak, Kuli Pelabuhan, Kepada A.R.L. Sebagai makhluk sosial, penyair tak bisa lepas dari kehidupan bersama dengan orang lain. Manusia di luar dirinya adalah ibarat senyawa yang bisa menimbulkan persenyawaan. Pertemuan antar insan bisa berlangsung baik secara fisik maupun mental (perasaan, emosi dan hati). Arsyad Indradi misalnya menambatkan rasa kehilangan kepada seorang penari yang telah ‘pergi’ke alam abadi. Besar benar hasratku agar kau/menarikan sebuah tarian untukku/jam sebelas, tiba-tiba kudengar/kau telah berangkat/di mana kini kau diam abadi. Penari, sebagai orang lain di luar diri penyair, dalam puisi ini telah menjadi magnet sosial yang tak bisa dipungkiri. Meski relasi antar manusia memang tak kekal, tapi keinginan-keinginan saat masih bersama atau ketika sudah ditinggalkan seringkali datang. Sekali aku tiba/panggung itu telah kosong/hanya tercium wangiwangian/kembangkembang bogam. Di sana aku masih berdiri/besar benar hasartku agar kau/menarikan sebuah tarian untukku. (Puisi Kepada A.R.L).&lt;br /&gt;Kemudian lihat potret sosial yang juga dengan jeli dinarasikan oleh Arsyad Indradi. Seorang kuli pelabuhan/kurus kering, usianya rambut dua/memanggul karung ke gudang luas/menggigil dan miring-miring/peluhnya mengucur deras/menghindarkan lamunannya/dalam hingar bingar manusia/ditengah rekah panggangan matahari/. (Puisi Kuli Pelabuhan). Orang-orang kelas bawah yang harus berjuang menyambung hidupnya terkadang tak dihiraukan penguasa. Lewat puisi, Arsyad menghadirkan realitas untuk mengembangkan sensitivitas sosial. Orang tua duduk dalam becaknya/ia menyembunyikan demam dibalik mantelnya/sudah setengah hari ini tak ada tumpangan/hujan masih juga mengguyur kota ini. (Puisi: Penarik Becak). Kisah orang-orang lemah dan susah sesungguhnya adalah realitas yang menyedihkan. Di tengah negeri, bernama Indonesia, yang kaya sumber daya alam, masih banyak orang susah makan. Ironisnya sekelompok orang justru bergaya hidup berlebihan dan tak punya kepedulian sosial. Relasi yang mereka bangun adalah eksploitasi dan diskriminasi.&lt;br /&gt;Tanah air Indonesia, adalah juga sumber perenungan seorang Arsyad Indradi. Negeri yang telah memproklamasikan diri ini hadir dalam narasi dipenuhi tuntutan dan harapan. Arti merdeka perlu dipertanyakan kembali seiring dengan kesejahteraan, keadilan dan kedamaian yang masih mahal sekali. Rakyat berharap dan bertekad. Hari ini adalah tahun kemerdekaan kita/kutitipkan Indonesia padamu/sifatsifat penjajah masih ada/tumbuh di negeri kita/tumpas kikis/dan jangan kau kira penjajah tak ada lagi/dibumbi ini/waspadalah penjajah yang paling keji/adalah penjajah bangsa sendiri/.(Puisi: Kutitipkan Indonesia Padamu). Penjajahan telah menyengsarakan manusia. Dan Arsyad mengisaratkan bahwa penjajahan masih terus mengancam rakyat Indonesia meski kemerdekaan telah diproklamasikan. Penindasan masih sering terjadi di berbagai belahan bumi Indonesia. Karena itu Penyair Arsyad Indradi menegaskan, Hari ini/kami telah risalahkan/semua padamu negeri tercinta/ia akan bangkit kembali/dan terpahat di dada/hari ini/ditanah pusaka ini/kami telah tiada sangsi/hanya ada satu pilihan/perang melawan tirani!.&lt;br /&gt;Demikianlah memaknai pengembaraan dan perjuangan hidup di negeri Indonesia. Sebuah pilihan yang mulia: melawan kesewenangwenangan baik dengan doa maupun dengan tindakan nyata. Atau mungkin kita justru punya pilihan berbeda. Arsyad Indradi bertanya, Apakah kita selalu Cuma bayang/ketika negeri tercinta ini/kehilangan makna/ (Puisi:Kita Cuma Bayang). Mari direnungkan.&lt;br /&gt;Pedalaman Sengkaling, Malang, Awal Maret 200&lt;br /&gt;Dimuat di Radar Banjarmasin, Minggu29 April 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir 17 Mei 1977. Tinggal di Malang. Menggeluti penulisan puisi sejak SMP. Selama kuliah menjadi Pengurus Bidang Puisi Dewan Kesenian Kampus Fak Sastra Universitas Negeri Jember.1998 puisinya menjadi runner up lomba puisi oleh Koran Suara Indonesia, juara lomba puisi reformasi oleh Prosalina FM Jember, dan 2001 juara lomba cipta puisi oleh Forkom Kader Bangsa Jatim dan Dewan Kesenian Malang. Tulisannya berupa puisi, cerpen dan artikel banyak termuat di media masa baik lokal mau pun nasional.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-2047817737097476350?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/2047817737097476350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=2047817737097476350' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/2047817737097476350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/2047817737097476350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/04/nyanyian-seribu-burung-dari-relasi.html' title='Nyanyian Seribu Burung: Dari Relasi Manusia Hingga Narasi Indonesia'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S9xHEbOAPjI/AAAAAAAACws/CI9hMSbwohs/s72-c/Yusri+Fajar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-7123798828240072775</id><published>2008-04-19T01:39:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T02:14:45.290-08:00</updated><title type='text'>“ NYANYIAN SERIBU BURUNG ‘ ARSYAD INDRADI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByUnSTdX4I/AAAAAAAAAkk/5oTWdYJr7Yw/s1600-h/dimas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByUnSTdX4I/AAAAAAAAAkk/5oTWdYJr7Yw/s200/dimas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196191472727973762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Oleh : Dr. Sudaryono, M.Pd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penyair adalah pejalan ulang-alik budaya. Ia hidup dan menghirup berbagai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Misteri dalam dunia kreatifnya. Dorongan kreatif dan impuls-impuls sensitive manjadikan penyair selalu larut mengolah misteri yang dihadapinya, baik dalam dunia realitas maupun dunia imajinatif. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Rupanya, hadirnya misteri itu menjadi penanda sublimnya sajak yang diciptakannya. Misteri itu hadir dalam interelasi segitiga sama sisi, yang pada sudut paling atas adalah langit yang merupakan representasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sang Maha Pencipta; pada sudut kiri-bawah adalah bumi yang dihuni oleh manusia; dan pada sudut kanan-bawah adalah laut, sibolisasi kehidupan. Di tengah-tengah interelasi manusia—kehidupan—Sang Maha Pencipta terbentang adanya misteri yang tidak akan pernah habis digali dan dieksplorasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Penyair Arsyad Indradi lahir 1949 di Barabai. Ia intensif menulis sajak-sajak 1970-an dan masih produktif tahun 2000-an. Kurun waktu yang panjang serta disertai intensitas pergulatan terus-menerus menunjukkan bahwa ia memiliki stamina dan konsistensi yang luar biasa di bidangpenciptaan kreatif puisi.Hasilnya ? Kelompok Studi Sastra Banjarbaru yang ia komandoi menerbitkan antologi puisi &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Nanyanyian Seribu Burung&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (April 2006); &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Romansa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Setangkai Bunga&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mei 2006), &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Narasi Musafir Gila&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Juni 2006), dan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Kalalatu &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(September 2006). Upaya pendokumentasian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sajak yang “gila-gilaan” ini (semua buku terbit tahun 2006) pantas diberikan apresiasi. Apresiasi kali ini merujuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada kumpulan sajak &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Nyanyian Seribu Burung&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(memuat 122 sajak yang ditulis kurun waktu 1970 sampai 1999).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Penyair selalu melakukan intropeksi, membaca diri, dan merenungi dirinya sendiri. Penyair selalu berkaca. Dalam sajak “ Aku Berkaca “ (1970) Arsyad Indradi menulis : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;aku berkaca / pada tubuhmu/ melahirkan sebuah laut/ membawaku terus berlayar/ entah sampai ke mana/. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Penyair berinteraksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan “mu” untuk mengaktualkan dirinya sendiri. Dalam pergumulannya dengan dirinya sendiri rupanya penyair menghadapi misteri : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;langit menyembunyikan pantai/ pada ribuan ombak dan buihbuih/ dan angin menbunuh burungburung/ aku jadi teramat letih.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Simbolisasi “langit” yang merupakan Sang Maha Pencipta, selalu memiliki misteri. Penyair sampai pada kontemplasi : mungkin inilah riwayat / pelayaran terdampar di sini/ pada sebuah ajal/. Sajak liris-naratif ini terasa intens menyuguhkan kontemplasi tentang dunia misteri yang digali dan diekslporasi oleh seorang Arsyad Indradi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Pada sajak lain Arsyad Indradisampai pada sikap yang relatif mantab : jangan ada sangsi ketika puput penghabisan / pertanda senja akan membawa kita/ ke ombak yang paling jauh/ muara tak lagi perbatasan bertolaknya/ sebuah kapal yang sarat dengan riwayat/ yang kita aksarakan pada sebuah perjalanan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;sebab laut adalah sebuah jalan panjang / yang mesti kita tempuh/ dan kita tak perlu berpaling (“Antara Kapal Berlabuh”,1972). Hanya berselang dua tahun , Arsyad Indradi telah menemukan jawab bahwa hidup haruslah dijalani, terus berjalan dan pantang surut ke belakang. Dengan penuh kesadaran dinyatakan : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;bahwa sungaisungai telah merisalahkan / rumahrumah lanting/ dalam sempurnanya senja/ sebab gerimis mengekalkan / luruhnya cakrawala / pada sebuah pandang mata&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (“Kendati Hujan Gerimis”,1972).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Sikap hidup dan keyakinan yang telah dipilih itu, pada tahun 1971 telah dinyatakan secara tandas : Oi hati dan jiwaku/ Bernyanyilah dari bungabunga cinta/ Yang mekar dari kelopakkelopak kamasutra/ Wahai hidupku kitalah pengembara/ setiap kepak sayap dan kicau/ ke puncakpuncak impereium cinta (“Imperium Cinta”, 1971). Cintalah yang mengerakkan penyair&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk terus hidup menghidupi, memberi makna dan sekaligus magma sebagai tenaga kekuatan menjalanai hidup. Perasaan cinta itu pulalah yang secara sosial mendorong penyair peduli pada dimensi kehidupan sosial yang kontekstual saat itu. Saat itu, Selasa sore 8 Februari 1972, penyair lewat judul puisi “ Arakan Keranda Batu” mengkritisi kehidupan demokrasi yang tidak sehat. Bayangkan, di tengah kekuatan rezim Orde Baru, Arsyad Indradi dengan berani menulis seperti ini &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;: hari ini delapan Februari / keranda itu telah kami usung/ di puncak tugu bundar/ menuju pemakaman/ yang kami bangun sendiri/ dari bongkahan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;api hatinurani... kami usung keranda ini/ dengan linangan airmata&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;api/ dengan langkah pasti : kembalikan Arief Budiman !&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Sajak ini secara lugas dan keras menyuarakan “Pemakaman Demokrasi” sebagai aksi solidaritas penyair. Masuk dalam sajak lugas dan keras sebagai bentuk solidaritas adalah sajak bertitimangsa 1973, di antaranya “ Matinya Seorang Pencuri Ayam” dan “ Seorang Anak Kecil Minta Susu Kepada Ibunya yang Mati”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Hidup mengalamai pasang surut. Ada gelombang pasang, riak, ombak, bahkan buih-buih. Potensi kreatif dan intensitas penulisan sajak juga mengalamai pasang surut. Memasuki kurun waktu 1974, sajak-sajak Arsyad Indradi mulai menyuguhkan sajak-sajak seperti ini : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;dari keyakinan meski&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;kukayuhkan / meski alir dan ombak / dalam pasangsurut / tak memberi kayuh&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;apa/ atau pohonan rambai/ di tepitepi pantai / masih menyimpan berahi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;dendam/ pada matahari yang makin tenggelam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (“Kujukungkan Impian ke Sungai Martapura”). Atau sajak “Ketika Kapal Lepas Pelabuhan” &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;: sementara&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;aku membangun / pelabuhan dalam diriku sendiri/ ketika kakilangit tak lagi memberi warna.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Penyair membangun keyakinan, mencari kepastian, dan di saat bersamaan terkadang ia serupa layang-layang : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;dan layanglayangku putus/ melayang jauh sekali/ dan jatuh ke lembah kesadaranku / dalam termangu/ memandang layanglayangku yang hancur/ di pangkuan isakmu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Layang Layang, 1975).; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;aku pun jatuh / &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;persis di hadapan / mahadukamu (“Maha Duka”, 1977); betapa risauku/&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt; manakala harapan yang kupintal / kusut di tengah jalan/ inilah risalahku/ yang kusajakkan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (“Saat Sunyi Aku Pun Luruh “,1977).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Penyair hakikatnya seorang pencari. Dalam mencari sesuatu itu, rona kegelisahan biasanya tampil. Upaya pencarian terus-menerus yang dironai kegelisahan batiniah, misalnya tampil dalam sajak “Risalah Perjalanan” (1977): &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;aku musafir dalam lubukhatimu/ karena dalam diammu... aku dapat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;melihat hakikat dahagaku/wahai berilah aku anggur duka/ agar lunas&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;s’luruh letihku&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ..., “Kabarkan Padaku” (1978) : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;kabarkan padaku&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;/ &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;sebab rahasiamu/ agar terbebas aku/ dari dukalara dunia ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dalam pencarian itu, penyair merasa bahwa kota Banjarbaru adalah pilihan yang tepat seperti twertuang dalan titel sajak “Aku Suka Kota Ini” (1978) dan “Banjarbaru Kotaku Sayang” (1978). Dalam sajak “Hujan Begitu Tajam” (1978) dengan tandas dinyatakan : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;kupunguti liriklirikku yang menggigil ditebar angin/ yang melayang di sekujur tubuhmu/ aku mencoba merangkainya kembali/ sebab aku telah tiada sangsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Sudut paling atas dari segitiga sama sisi adalah langit sebagai representasi Sang Maha Pencipta. Dalam sajak-sajak Arsyad Indradi, upaya memahami dan menghayati Sang Maha Pencipta tampil di dalam sajak “Malam Hening” (1979) seperti ini : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;daundauanan pinus berdesir/&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;kusembunyikan degup jantungku/ dalam hamparan sajadahMu/ setiap&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;untai zikir/ sukma sejatiku/ tak letih menungguMu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Dalam sajak “ Di Atas Sajadah” (1980) Arsyad Indradi menulis begini : ... &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;ya tuhan beri aku&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;kesempatan/ meraut namamu dan &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;menerbangkannya/ jauh ke dalam diriku/ &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;dan ajalkanlah bila sampai di arasymu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Dalam sajak “Gurindam buat Sang Kekasih” (1981) secara metaforis diungkapkan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;: jika bahtera merapat ke dermaga/ pintaku jangan kau ajalkan rinduku. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Sajak-sajak lain yang bergumul dengan misteri Ilahi adalah “Tabir Rahasia Kehidupan” (1983) , “Orang Gila” (1984), “Lailatulkadar” (1984), “Nikmat Dalam Tawa dan Ratap” (1985), “Tamu Mubalig” (1986), “Percakapan Kecil” (1986), “Naik Haji” (1986), “Mereka Akan Tiada Berguna” (1986), “Sajak Kembang Mawar” (1986), “Mata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hati “ (1987), dan “Aku Laron Yang Mencarimu Dalam Cahaya Itu Jangan KauPadamkan Lampu “(1999). Sajak-sajak relegius Arsyad Indradi sama kuatnya dengan sajak-sajak karya Ajamuddin Tifani almarhum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Penyair adalah pejalan ulang-alikbudaya. Penyair masuk kawasan budaya sebab ia sesungguhnya pekerja, pemikir, dan pemburu kata-kata arif. Budaya adalah kata kerja. Kerja menyair&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan minoritas kreatif yang menghasilkan wujud kebudayaan. Wujud kebudayaan beserta unsur-unsurnya, seperti dikemukakan oleh Koentjaraningrat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(periksa Prasetyo, 1991:32) ada tiga macam , yaitu : (1) Wujud kebudayaan sebagai kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peratuiran dan sebagainya; (2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dan masyarakat, dan (3) Wujud&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Wujud yang pertama merupakan wujud ideal dari kebudayaan. Di dalam budaya ini terdapat alam pikiran, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Adat dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Sifatnya abstrak, tak dapat diraba dan foto. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Letaknya dalam memori komputer. Wujud kedua kebudayaan sering disebut sistem sosial. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Sistem sosial ini terdiri atas aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi satu sama lainnya dari waktu ke waktu. Sistem sosial ini bersifat kongkret. Wujud ketiga disebut kebudayaan fisik, yaitu seluruh hasil karya manusia. Sajak adalah hasil karya penyair.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Penyair dalam menghasilkan karyanya senantiasa berperan sebagai pejalan ulang-alik kebudayaan. Artinya, ia pada tahap tertentu memainkan peranan personal, individual, dan berbicara tentang dirinya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Lalu, sebagai warga masyarakat ia kemudian mengungkapkan persoalan-persoalan sosial. Dan selain itu, penyair sebagai kafilah Allah senantiasa berupaya mengungkapkan bgerbagai perasaannya kepada Sang Maha Pencipta. Penyair selalu kreator, tidak lain adalah wakil Allah dalam menyuarakan kebenaran, keadilan, tanggung jawab, dan sebagainya. Itulah sebabnya secara tematis dan kategoris, sajak-sajak yang ditulis oleh Arsyad Indradi dapat diklasifikasikan sebagai sajak yang mengungkapkan nilai-nilai personal, sajak-sajak yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengungkapkan nilai-nilai kemasyarakatan, dan sajak-sajak yang mengungkapkan nilai-nilai filosofis-relegius.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Demikian, salam budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan Daerah FKIP Universitas Jambi, Pemerhati Seni-Budaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.65pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                               &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:188.25pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\User\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.png" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-7123798828240072775?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/7123798828240072775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=7123798828240072775' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/7123798828240072775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/7123798828240072775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/04/nyanyian-seribu-burung-arsyad-indradi.html' title='“ NYANYIAN SERIBU BURUNG ‘ ARSYAD INDRADI'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByUnSTdX4I/AAAAAAAAAkk/5oTWdYJr7Yw/s72-c/dimas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-9008306296590817674</id><published>2008-04-19T01:33:00.000-07:00</published><updated>2010-05-01T08:19:33.033-07:00</updated><title type='text'>“NARASI PENYAIR GILA” ARSYAD INDRADI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByVPCTdX5I/AAAAAAAAAks/O4aWchsGttE/s1600-h/dimas+ar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByVPCTdX5I/AAAAAAAAAks/O4aWchsGttE/s200/dimas+ar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196192155627773842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Oleh : Dr. Sudaryono M.Pd&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Staf Pengajar FKIP Universitas Jambi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       Kalau ada kegilaan adalah kegilaan kreatif. Dengan kreativitas, kegilaan penciptaan dimungkinkan. Dengan kegilaan pula dapat dikecap capaian-capaian artistic sebuah sajak. Penyair terkadang seperti orang “gila”  (gila dalam tanda kutip). Artinya ,di tengah-tengah masyarakatnya penyair acap tampil anomaly, menyendiri, mengasingkan diri dari interaksi massif, dan secara personal menampilkan sosok yang sering “nyleneh”, aneh, dan sulit dipahami. Hal seperti itu tidak ditemukan pada puisi-puisi penyair dari Banjarbaru : Arsyad Indradi yang menyedot perhatian untuk digumuli.&lt;br /&gt;     Kegilaan Arsyad Indradi dalam mengeksploitasi dan mengeksplorasi segenap inderanya dalam menciptakan puisi masih dapat dinikmati. Niscaya merupakan sebuah kegilaan manakala dalam satu tahun diterbitkan buku kumpulan puisi : Nyanytian Seribu Burung (April 2006), Narasi Musafir Gila (Mei 2006), Romansa Setangkai Bunga (Juni 2006), dan Kalalatu (September 2006) yang semuanya diterbitkan secara swadana oleh Kelompok Studi Sastra Banjarbaru yang dipimpinnya. Gila ! Mungkin begitu komentar orang. Kali ini perhatian secara khusus mengarah pada Narasi Musafir Gila yang memuat 90 puisi yang ditulis tahun 2000-an.&lt;br /&gt;    Dari mana pembicaraan ini dimulai ? Pembicaraan puisi bisa dimulai dari mana saja. Antologi ini dibuka dengan “ Narasi Ayat Batu”. Sebagai pembaca kita lantas ingat adanya prasasti, tugu, daun lontar dan sebagainya yang menyimpan kearifan. Kubelah ayatayat batumu di kulminasi bukit/ Yang terhampar di sajadahku / Kujatuhkan di tebingtebing lautmu / Cuma gemuruh ombak dalam takbirku// ...Kuseru namamu tak hentihenti / Di ruasruas jari tanganku/ Yang gemetar dan berdarah/ Tumpahlah semesta langit / Di mata anak Adam yang sujud di kakimu (Banjarbaru,2000). Puisi ini secara intens mengungkapkan pergulatan penyair dalam menghayati “misteri” illahi.&lt;br /&gt;    Arsyad Indradi yang memasuki usia 54 tahun pada Desember 2008 ini seterusnya menulis “Narasi Pohon Senja” seperti ini : Kukalungkan lampulampu di ranjangmu/ Lalu kujadikan pengantin/ Lalu kunikahi daunmu kepompong birahi dendam/ Lahirlah kupukupu/ Betapa nikmat dalam dahaga / Menjelajahi tubuhmu/ Mencari rangkaian bunga/ jauh dalam lubuk jantungmu (Hal.2). Sajak ini lebih mengedepankan kontemplasi dengan ilahi ditampilkan melalui penginsanan-hubungan manusiawi dengan idiom symbol hubungan pengantin di ranjang. Dalam “Narasi Gairah Embun”  secara manis penyair menulis seperti ini “Mulutmu wangi sarigading/ Menyentuh gordengorden jendela/ Tapi jangan kau buka/ Sebentar lagi pagi beranjak tiba (hal.3). Secara analogis, metaforis, dan liris dalam “Narasi Tanah Kelahiran” dinyatakan “Kau beri aku sampan/ Riakriak menyusuri uraturat nadi/ Wajahmu sudah lain tapi begitu angkuh/ Tumbuh rumahrumahbatu” (hal.4). Pergulatan dan pergumulan penyair sampai pada kenyataan bahwa “Aku/Anak Adam/ Yang tersesat di sajadahMu (“Zikir Senja”, hal.8).&lt;br /&gt;    Memasuki usia senja, penyair semakin intens mengolah rahasia pertemuan dengan  sang Khalik. Intensitas itu membuahkan puisi-puisi relegius yang lembut dan kongkret. Lebih kongkret lagi ketika penyair lantas mengkaji bumi yang dipaijak. Bumi yang memberikan kesadaran bahwa persoalan manusia tidaklah semata berkomunikasi dengan Sang Khalik, melainkan juga perlu membaca denyut kehidupan di bumi. Puisi-puisi yang mewakili tema kehidupan di bumi yang ia pijak antara lain “Ekstase Seorang Pejalan Jauh”,”Etam Sayang Gunung” , “Romansa Bulan Saga””, Romansa Seekor Hong”, “Romansa Setangkai Bunga”, “Romansa Di Bawah Hujan Cinta Pun Abadi “, “Pertemuan”, “Jalan Begitu Lengang”. &lt;br /&gt;      Hal yang unik dan menarik, penyair Arsyad Indradi mencoba menawarkan cara ungkap multikultur dengan memanfaatkan  campur code bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam beberapa puisinya seperti : “As One of the Song, Mamimeca”, “ Elly : Sonata is Silent”, dan “In My Last Mirrage”. Kita cermati bagaimana penyair memakai campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam puisinya. Dalam “As One of the Song, Mamimeca” ditulis begini “ ... Aku tahu betapa letih wajahmu/ Dalam gugusan maha kelam / May soul stay in the wind, Mami” (hal 27).  “Aku musafir/ Liriklirik yang jatuh dari matamu/ Jatuh gemersik : Give to me one the world/ Di kulminasi bukit/ Kupetik kembang ilalang :/ may sure not at all raincloud / Elly di tebingtebing :/I have lost my wind (Elly : Sonata is Silent, hal 29). Pemanfaatan campur kode dalam puisi  ibarat membuat gado-gado, bahan-bahan yang berlainan dipadu jadi satu, dan ternyata enak juga.&lt;br /&gt;    Mengahiri pembicaraan ini , kita tampilkan puisi yang dijadikan judul buku kumpulan puisi. Judul puisi yang dijadikan judul buku , biasanya dijagokan sebagai gambaran pencapaian estetis dan gambaran sikap penyairnya. Bagaimanakah capaian estetis dan gambaran sikap penyair Arsyad Indradi ? Kita simak sajak “ Narasi Musafir Gila “ selengkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Mendadak cahaya itu terjebak dalam belitan kabut&lt;br /&gt;        Porakporandalah cakrawala dan aku kembali harus&lt;br /&gt;        bergumul dengan persimpangan jalan&lt;br /&gt;        Tapi aku tak sudi mengatakan : Ajalkan aku di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Kudakudaalas berloncatan pada goncangan bumi&lt;br /&gt;        Pada angin yang menepuk dada&lt;br /&gt;        Kugilakan musafirku ke padang luas&lt;br /&gt;        Padang abadabad persembunyianmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Sebab aku telah mengatakan :&lt;br /&gt;        Kuabukan s’luruh mimpimimpi purbaku&lt;br /&gt;        Dan kutapakan dalam tubuh tembokmu&lt;br /&gt;        Agar tak kan kau usik lagi s’luruh jejakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Puisi yang ditulis di Bandung pada 2006 seakan menandai pengembaraan spiritual penyair. Arsyad Indradi tampaknya sampai “Pada Suatu Halte”, tempat istirah sejenak, tujuan perjalanan, dan tempat bertolak melakukan petualangan yang lebih gila. Estetika yang ditawarkan penyair, pola ucap puisi-puisinya, dan tematis puisi-puisinya tampak akan serupa air yang mengalir menuju muara makna. Demikianlah pembicaraan sederhana, semoga silaturrahmi batiniah terjembatanni. Salam budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                Jambi, 21 Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di : Radar Banjarmasin, Minggu 28 januari&lt;br /&gt;                                     Republika, Minggu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-9008306296590817674?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/9008306296590817674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=9008306296590817674' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/9008306296590817674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/9008306296590817674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/04/narasi-penyair-gila-arsyad-indradi.html' title='“NARASI PENYAIR GILA” ARSYAD INDRADI'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByVPCTdX5I/AAAAAAAAAks/O4aWchsGttE/s72-c/dimas+ar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-3398635584189087848</id><published>2008-04-19T01:31:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T02:14:45.708-08:00</updated><title type='text'>Kegilaannya Arsyad Indradi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByV3STdX6I/AAAAAAAAAk0/9sYWYavZCm8/s1600-h/sainul.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByV3STdX6I/AAAAAAAAAk0/9sYWYavZCm8/s200/sainul.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196192847117508514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:20;color:green;"  lang="EN-US" &gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:20;color:green;"  lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:maroon;"&gt;Oleh : Sainul Hermawan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:20;color:maroon;"  lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;ARSYAD INDRADI sudah setua provinsi ini. Di ulang tahunnya yang ke-57, dia mempersembahkan antologi puisi penyair nusantara &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;142 Penyair Menuju Bulan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; untuk dirinya sendiri dan juga mempersembahkannya untuk &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Banjarbaru, saat itu berulang tahun yang ke-7. Penyair yang konon tak pernah dikenal di jagat sastra nasional (setidaknya demikianlah pengakuannya sendiri pada suatu ketika), tiba-tiba membuat publik penyair di tanah air bertanya tentang siapa dirinya, saat dia mengundang mereka untuk mengirimkan puisi yang akan dihimpunnya dalam antologi itu. &lt;b style=""&gt;Antologi setebal&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;728 halaman&lt;/b&gt; yang dicetaknya sendiri, dengan biaya sendiri, diedarkan sendiri, secara gratis. Dalam kesederhanaan hidupnya, tindakan itu jelas nekad.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Karenanya sejumlah kawannya di daerah lain menjulukinya, sebagai penyair gila Bagaimana tidak gila, uang sedemikian banyak digunakan memproduksi artifak seni yang bukan kebutuhan pokok banyak orang. Gila karena dia, sebagai individu biasa,memainkan peran besar melebihi keinginan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; bahkan provinsi bahkan korporasi untuk mengapresiasi puisi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Tetapi, kegilaan itu mungkin berada di atas kesadaran persoalan filosofisnya : Bukankah setiap hari banyak orang mengonsumsi dan memproduksi segala yang ada pada akhirnya jadi sampah juga ? Bukankah mereka ternyata memiliki kegilaan mereka sendiri-sendiri : gila hormat, gila jabatan, gila harta, gila-gilaan, gila tahta, gila wanita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Kegilaannya sebenarnya adalah justru kewarasannya di tengah kegilaan yang lain. Betapa gilanya jika korporasi tak peduli pada puisi, pemerintah mencueki puisi, dan karenya masyarakat jadi menjauhi puisi. Seakan berpuisi tak punya peran bagi pencerdasan kehidupan bangsa. Sehatkah pemerintah yang tak mendukung kegiatan pencerdasan kehidupan bangsa ? Maka menggilai puisi ala Arsyad Indradi menjadi semacam terapi kejut bagi lembaga-lembaga resmi yang seharusnya lebih berani berbuat besar dari pada seorang Indradi yang sederhana dan kian senja. Karenanya&lt;b style=""&gt;, Setia Budhi &lt;/b&gt;dalam salah satu tulisannya menyebut&lt;b style=""&gt; apa yang dilakukan tetuha puisi di Banjarbaru ini sebagai perlawanan pada sesuatu yang konon berkuasa tapi tak bisa berbuat apa-apa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Arsyad Indradi telah mencatatkan dirinya dalam sejarah sastra Kalsel sebagai &lt;b style=""&gt;penyair paling nekad dan berani berkorban untuk puisi.&lt;/b&gt; Yang iri boleh dibilang dia cuma cari sensasi, tetapi sastra tak bisa dibangun dengan memupuk kedengkian di antara sesama pesastra. Dia telah membuat nusantara pada suatu masa berpikir tentang dan menoleh ke Banjarbaru karena ulahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Dengan cara demikian, dia telah menunjukkan eksistensinya. Keberadaan baginya bukan semata kehadiran mengenang nama-nama besar atau mengenang masa kejayaan dirinya sebagai penyair. Keberadaan adalah menghadirkan gagasan dan pembuktian, menghancurkan keberadaan lama untuk mengadakan keberadaan baru, selalu dan selalu begitu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Jika dalam antologi puisi itu sedikit sekali kita temukan puisi karya penyair Kalsel, konon mungkin idenya dianggap konyol dan mustahil. Dia membiarkan pesimisme itu. Sangat wajar, kalau kemudian kemampuan antologi ini menggaulkan penyair Kalsel dan lokal luar Kalsel bisa membuat sebagian penyair sebagai sesama di Kalsel merasa ditinggalkan oleh buku ini. Semacam perasaan sentimentil yang bisa dianggap kurang waras karena konon dia tak punya prerensi untuk menadah atau mengusir puisi orang-orang yang baru belajar jadi penyair.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dengan cara demikian, Arsyad Indradi bukan saja menciptakan sejarah bagi dirinya, tetapi dia pun ingin meninggalkan jejak-jejak gagasan dan pelajaran bahwa mencintai puisi perlu bukti, mencintai puisi berarti membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapapun yang ingin mencicipi pengalaman penciptaannya, dan mencintainya berarti menciptanya tanpa henti dan penuh inovasi, mencintainya berarti menyisakan ruang apresiasi dalam sanubari bagi puisi-puisi karya penyair lain. Saling menguatkan puisi yang dapat dilakukan oleh sesama penyair adalah cara lain untuk membesarkan puisi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Menjaga kelestarian puisi perlu perhatian banyak pihak. Maka penyair juga punya kewajiban menghormati hak-hak penikmat puisi yang lain. Maka Arsyad Indradi menempuh jalan gila itu yang mungkin telah melenyapkan beberapa petak tanah, atau beberapa ekor sapi, atau dia menempuh jalan Ibrahim yang hendakmenyembelih Ismail.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Arsyad Indradi telah menyembelihnya, dan yang hilang berganti sesuatu yang lain. Demikianlah daur hidup. Nama Arsyad&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bukan Indradi yang dulu. Dia telah melakukan tindakan besar, melampaui kemampuan dirinya sebagai warga &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Banjarbaru yang sederhana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Mungkin keluguannya telah membawanya kembali ke masa kanak-kanak, masa-masa manusia tak memperhitungkan risiko setiap permainan yang dilakukannya. Yang ada hanyalah fantasi, ulah kreatif, dan terus memainkan peran. Arsyad tampaknya menempuh jalan masa-masa belianya dulu. Mungkin inilah salah satu hal yang membuat murid-muridnya mencintai dan menghormatinya. Mungkin ini pula yang membuatnya terus bergairah menularkan keterampilan tari dan puisinya kepada tunas-tunas muda sastra di kotanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Pesan pendeknya beberapa bulan silam tampaknya menyiratkan kegeraman terhadap stagnasi sastra di kotanya. Lembaga-lembaga formal kesenian baginya semakin tampak jadi umbul-umbul di pinggir jalan. &lt;b style=""&gt;“ Aku mau jalan sendiri sekarang !” &lt;/b&gt;salah satu katanya dalam pesan itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Tapi dia tak bisa jalan sendiri. Sastra di mana-mana bukan karya individual. Sastra perlu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;media, pembaca, dan pihak-pihak lain yang terlibat tanpa sengaja. Lebih tepatnya, mungkin, dia mau mencari teman baru yang bisa terus mengajaknya bermain dengan gembira di lingkaran sastra yang dibayangkannya. Dia mungkin tak perlu penghargaan bintang mahakarya dalam sastra karena dia telah membayangkan dirinya sebagai &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Si Gila.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Bukankah penghargaan semacam itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya layak untuk mereka yang waras ? Namun, bukankah waras juga persoalan rumit yang belum tuntas ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Ah, Arsyad Indradi telah melakukan sesuatu yang mengajarkan tentang pentingnya kerjasama kesastraan. Dengan demikian dia tak sendiri. Dia meninggalkan sebagian kawan lamanya yang nakal untuk merangkul kawan baru dari penjuru nusantara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sepanjang masa penerbitan antologi itu dibaca, yang akan terus disebut adalah namanya dan kotanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Baginya, harga diri itu jangan ditunggu untuk dianugrahkan orang lain kepada dirinya. Ia harus direbut. Setelah perebutan itu, dia merasa biasa-biasa saja, tak ada yang lebih dan kurang. Penuh kejutan. Dia meletakkan sesuatu yang paling dalam kesadaran yang tak penting. Demikianlah logika orang gila pada umumnya, dan bukan hanya dia ternyata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Dia kemudian menjelma laksana orang tua yang menyayangi anak-anaknya. Anak-anak sastra dan puisi. Dia tanam pohon untuk mereka, pohon yang buahnya tak akan sempat dia nikmati, sebab pohon itu perlu perawatan penuh kesabaran dan kesungguhan. ***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;Sainul Hermawan, dosen FKIP Unlam Banjarmasin, penikmat sastra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                 &lt;/span&gt;( Radar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, Cakrawala Sastra &amp;amp; Budaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                    &lt;/span&gt;Minggu , 9 September 2007 )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-3398635584189087848?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/3398635584189087848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=3398635584189087848' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/3398635584189087848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/3398635584189087848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/04/kegilaannya-arsyad-indradi.html' title='Kegilaannya Arsyad Indradi'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByV3STdX6I/AAAAAAAAAk0/9sYWYavZCm8/s72-c/sainul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-6413987449829484341</id><published>2008-04-19T01:28:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T02:14:45.981-08:00</updated><title type='text'>" KALALATU " Balada atau Mantra ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByWUSTdX7I/AAAAAAAAAk8/GAjNrjOUejA/s1600-h/dimas+armi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByWUSTdX7I/AAAAAAAAAk8/GAjNrjOUejA/s200/dimas+armi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196193345333714866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:16;color:red;"  lang="EN-US" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                          &lt;/span&gt;Oleh : Dr. Sudaryono,M.Pd&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dosen FKIP Unipersitas Jambi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 180pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Jika Ajip Rosidi punya “Jante Arkidam “ dan Rendra punya “Balada Terbunuhnya Atmo Karpo” atau “Mencari Bapa”, seorang Arsyad Indradi (Penyair dari Banjarbaru,Kalimantan Selatan) punya “Bagandang Nyiru”, “Kakek Adul”, “Nama Terpuji”, “Terbang Burung”, “Nini Aluh”, “Harumi Tanah Banyu”, “Nisan Berlumur Darah”, “Dundang Duka Seribu Burung”, dan lain-lain.Balada selalu menarik dibicarakan karena di dalam puisi jenis ini tampil karakter tokoh atau sesuatu yang ditokohkan. Ajip Rosidi menampilkan karakter Jante Arkidam, yang digali dari khasanah budaya Pasundan, Jawa Barat. Rendra menampilkan sosok manusia Jawa dalam sajak-sajak balada yang digubahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Dalam proses kreatif penulis sajak, atau dalam perkembangan seorang penyair dalam dunia kreatif, hampir dapat dipastikan pernah memilih balada sebagai cara ungkap. Dimas Arika Mihardja (penyair Jambi), misalnya pernah menulis “Malin Kundang” dalam bentuk balada yang memikat banyak orang sehingga sering dipentaskan baik dalam dramatisasi puisi, musikalisasi puisi, maupun forum baca puisi. Tidak setiap penyair berhasil menggunakan format balada untuk mengaktualisasikan ide-idenya. Ajip Rosidi meskipun pernah menghasilkan “Jante Arkidam”, tidak Rendra boleh tergolong penyair yang paling kuat menulis balada, terbukti banyak sajak yang ditulis Rendra, misalnya “Balada Orang Tercinta”,”Balada Sumilah”, “Balada Lelaki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanah Kapur”, dan lain-lain. Rendra kuat menghasilkan sajak balada, sebab latar belakang penguasaan teater meronai balada-balada yang ditulisnya. Balada memang dekat dengan kemampuan olah &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;teater.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;Penyair yang juga menguasai teater biasanya berhasil menulis sajak jenis balada ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Arsyad Indradi, sebagai penyair yang tumbuh dan besar di daerahnya berhasil menulis sajak-sajak berjenis balada yang dibaurkan dengan mantra dalam bahasa Banjar—dan penyair ini bermukim di Banjarbaru Kalimantan Selatan. Sajak-sajak bahasa Banjar dan terjemahan dalam bahasa Indonesia dihimpun dalam buku &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kalalatu&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Kelompok Studi Sastra Banjarbaru,2006). Buku ini memuat 70 sajak yang ditulis dekade 1990-an hingga 2000-an.Kalimantan dalam peta sastra nusantara tak bisa diremehkan, sebab di pulau ini ada Korrie Layun Rampan, Ajamuddin Tifani (almarhum), Hamami Adaby, Micky Hidayat, dan tentu saja Arsyad Indradi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Balada yang disuguhkan dalam buku &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kalalatu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ini tentu saja tidak menampilkan pengertian balada secara teoritis, melainkan penyair Arsyad Indradi hanya mengambil dan menampilkan ruh balada dan dipadukannya dengan kekuatan mantra. Dengan kata lain, balada yang diciptakan oleh penyair Banjarbaru ini telah mengalami apa yang disebut eksplorasi intuisi dan imajinasi, serta melakukan sintesis baik pada lapisan bunyi (lapisan lambang-lambang bahasa sastra), lapisan arti (sejumlah makna yang terpendar oleh lambang kebahasaan), maupun lapisan dunia metafisis (dunia pengucapan, tujuan, dan efek yang difungsikan) dan dikawinkan dengan sajak berjenis mantra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Seterusnya, sebagai hasil kreasi, sajak-sajak balada dan mantra karya Arsyad Indradi menampakkan adanya keaslian (orisinalitas), kejelasan (lantaran pilihan kata yang tepat, penggunaan metafor, dan kesatuan imaji), memukau (lantaran permainan bunyi, pemanfaatan gaya bahasa, &lt;i&gt;foreshadowing,&lt;/i&gt; dan penggunaan enjambemen), sugestif (dapat merengsang secara asosiatif dan memberikan daya ajuk), asosiatif, dan menampilkan cerita secara runtut. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Marilah kita simak balada yang memiliki kekuatan magis seperti mantra yang digubah oleh Arsyad Indradi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Dalam sajak &lt;b&gt;“Bagandang Nyiru”&lt;/b&gt; (menabuh tampah), tampil tokoh Ainun, Juhri, Kakek Adul, dan Nini Aluh. Ainun digambarkan sebagai teman sepermainan Juhri dan Juhri mewakili tokoh yang bisa dijadikan teladan, “&lt;b&gt;&lt;i&gt;Juhri yang berkaki panjang sebelah/tapi pintar bagimpar dan bagipang/di kampung namanya terpuji&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;/”.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masyarakat memandang hormat dan bersahabat pada Juhri yang membawa “&lt;b&gt;&lt;i&gt;handayang dan suluh/Riuh bergendang tampah sambil memanggil nama Juhri/”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ciri khas balada dan mantra tampil melalui repetisi seperti ini : “&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sungai semakin mengalir deras Juhri pulang/Juhri pulang/Juhri merasa semakin juga terbawa arus/ ...Juhri pulang/ Kau dimana Juhri/ Cepat pulang”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sosok Kakek Adul dan Nini Aluh ditampilkan sebagai tokoh masyarakat yang mewakili “tuo-tuo tengganai” atau “pemangku adat” yang disegani. Peristiwa tragis yang menimpa Juhri lantaran hanyut di sungai dikemas secara halus, namun tragik. Di sini juga tampak muatan lokal (&lt;i&gt;local colour&lt;/i&gt;) yang disajikan secara arif oleh penyairnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tokoh &lt;b&gt;Kakek Adul&lt;/b&gt; selanjutnya tampil mendominasi pada sajak berjudul “&lt;b&gt;Kakek Adul&lt;/b&gt;”. Siapa Kakek Adul, apa masalahnya, dan bagaimana keberadaannya ? Kakek Adul digambarkan sebagai cermin : &lt;b&gt;“ &lt;i&gt;Kakek cermin&lt;/i&gt; &lt;i&gt;bagi kami&lt;/i&gt;”. &lt;/b&gt;Hal ini disebabkan bahwa Kakek Adul adalah representasi adat-istiadat, sumber petuah, sumber berbagai ajaran tentang kehidupan. Kita simak &lt;b&gt;&lt;i&gt;: Bila tinggi sekolahnya jangan dilupakan juga/adatistiadat dan petuah orang bahari/Hidup ada aturannya tungai/&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Jika terlanggar pamali/Ini dikatakan tahyul/Permisi lewat di hadapan orang tua/Pamali duduk di muka pintu waktu hari senja/Anak beriman ingat dengan waktu/Pelihara sangkar bumi dan sangkar langit/kita di dalamnya di bibir tiada lepas dengan thayyibah/ di ruas jari kita jangan tertinggal tasbih/Bila tidur bantal kita syahadat/ Selimut kita zikir …. “.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Kakek Adul adalah sosok manusia yang arif, disegani, dan penyayang anak-cucu, dan acuan dalam menjalani kehidupan.&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tokoh &lt;b&gt;Nini Aluh&lt;/b&gt;, sebagaimana juga tokoh Kakek Adul, merupakan wakil dari sosok orang tua yang nasihat-nasihatnya pantas diteladani lantaran memiliki kesaktian. Sosok Nini Aluh ini secara lengkap dapat kita tangkap melalui penggambaran : “ &lt;b&gt;&lt;i&gt;Di banua banyak orang berobat pada&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;nenek/Jika kena pulasit parang maya atau termakan racun/ Dan beliau seperti membuangi klimpanan/Cah jika ular saja tidak mempan mematuk beliau/dimasukan beliau dalam tapih”.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Kekuatan balada dan mantra, antara lain tampil melalui deskripsi atau narasi dengan eksplorasi intuisi dan imajinasi, serta melakukan sintesis baik pada lapisan bunyi&lt;b&gt; &lt;/b&gt;(lapisan lambang-lambang bahasa sastra), lapisan arti (sejumlah makna yang terpendar oleh lambang kebahasaan), maupun lapisan dunia metafisis (dunia pengucapan, tujuan,dan efek yang difungsikan).Kita simak sajak &lt;b&gt;“Nama Terpuji&lt;/b&gt;” berikut &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;Harum setanggi pudak melati berenteng di gelung dua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;Bergelang emas berkalung emas bersusun bertingkattiga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;Berwajah cantik berharta banyak apalah artinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;Apalah artinya jika adat budi bahasa tidak dipakai tidak dijaga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Banyak orang berperilaku banyak menanam nyiur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;Padahal handayangnya gugur memperapas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;Peribahasa menyatakan “ Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama”. Manusia mati meninggalkan nama ini dijadikan entry bagi penyair untuk mengekspresikan pemikirannya. Sajak yang mengandung ajaran luhur seperti itu, tampil juga dalam sajak &lt;b&gt;“Sayang Gunung” &lt;/b&gt;seperti ini :&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;Bumi yang dipijak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;Langit yang dijunjung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;Siapalah lagi yang memelihara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;Jika kita juga tidak ikut membangun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;Rusaklah binasa &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;Jauhkan bala&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;Sayang gunung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;Sampai jauh batas suara burung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;Sayang gunung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;Sayangi tanah air hutan belukar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;Seterusnya, sebagai hasil kreasi, sajak-sajak balada dan mantra karya Arsyad Indradi menampakkan adanya keaslian (orisinalitas), kejelasan (lantaran pilihan kata yang tepat, penggunaan metaphor, dan kesatuan imaji), memukau (lantaran permainan bunyi, pemanfaatan gaya bahasa, foreshadowing, dan penggunaan enjambemen), sugestif (dapat merangsang secara asosiatif dan memberikan daya ajuk), asosiatif, dan menampilkan cerita secara runtut. Kita simak beberapa penggalan berikut ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Berdeburan angin beruap panas/Diketinggian gunung hauqalah bau harum/ kembang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;al kautsar semerbak/Kupegangi erat jazim dalam dadaku/Kuiringi kemana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;terbang hinggap kupu-kupu … Jangan sungkan masuklah /Beradab dengan shalawat/Nyalai kamarnya dengan ma’rifatullah/Bukai jendelanya dengan nuruttajali” (“Terbang Burung)”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;Sementara itu, sajak yang kental nuansa mantranya tampak pada sajak &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;“Darah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;” &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;seperti ini : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Adalah langit darah berdarah/Tak habishabis jadi laut berabadabad telah/ tak berpaus di atasnya rajah perahu Nuhmu/tak singgahsinggah pada dermaga darahku/Hu Allah darahku hanyut dalam darahmu/kutubku tenggelam dalam kutubmu/menghempas napas darahku membatubara/dikunci rahasia Alifmu Alif Alif/ darah Adamku yang terdampar di bumi/ yang rapuh berabadabad mencari darah Hawaku/yang rapuh tersesat di belantaramu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meraung/darah laparku/mencakarcakar mencari darahku/ beri aku barang setetes Hu Allah/getar alir napas menyeru darahmu mengalir darah mataku/mengalir darah musafir di sajadahmu/mengalir menuju rumahmu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Kekuatan magis dengan pola ungkap mantra, seperti pernah dilakukan oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri dengan “ O, Amuk, Kapak “nya, dapat kita rasakan dalam larik-larik sajak “Darah” berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                         &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;darah hidupku Hu Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;darah matiku Hu Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;darah hidupmatiku Hu Allah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;darah raungku Hu Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;darah cakarku Hu Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;darah laparku Hu Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;darah hausku Hu Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;darah ngiluku Hu Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;darah rinduku Hu Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                  &lt;/span&gt;……….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;semesta bergoncang Hu Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;arasy pun bergoncang Hu Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;darahku aujubillah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;darahku astagfirullah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;darahku subhanallah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Allah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;Sajak “Darah” yang berdarah-darah ini niscaya memiliki kekuatan magis setara dengan sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri. Arsyad Indradi dalam sajak “Darah” ini berhasil menggali potensi budaya Melayu dengan tradisi mantranya. Ciri-ciri mantra yang memukau (lantaran permainan bunyi, pemanfaatan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; bahasa, &lt;i&gt;foreshadowing&lt;/i&gt; , dan penggunaan enjambemen ), sugestif (dapat merangsang secara asosiatif dan memeberikan daya ajuk), dan membius lantaran ketepatan ungkapan dengan kata-kata kongkret. Tak pelak lagi, sajak “Darah” mewakili keberhasilan Arsyad Indradi sebagai penyair yang pantas diperhitunghkan. Sekian, salam budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 36pt; text-align: justify; text-indent: -90pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                               &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jambi, 23 Januari 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                        &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:green;"   lang="EN-US"&gt;Radar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;,Minggu 28 Januari 2007 )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-6413987449829484341?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/6413987449829484341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=6413987449829484341' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/6413987449829484341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/6413987449829484341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/04/kalalatu-balada-atau-mantra.html' title='&quot; KALALATU &quot; Balada atau Mantra ?'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByWUSTdX7I/AAAAAAAAAk8/GAjNrjOUejA/s72-c/dimas+armi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6733018956709140077.post-7583945240161503884</id><published>2008-04-19T01:19:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T02:14:46.255-08:00</updated><title type='text'>Arsyad Indradi Menyelesaikan 10 Buku dlm 1 tahun 2 bulan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByf_iTdX-I/AAAAAAAAAlU/AlK-Fdgiees/s1600-h/harie.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByf_iTdX-I/AAAAAAAAAlU/AlK-Fdgiees/s200/harie.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196203983967707106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:black;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:green;"   lang="EN-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:green;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                                                             &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Saat &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;RUMAH CERITA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; menemui Arsyad Indradi dirumahnya jl Pramuka no.16 ternyata beliau sedang sibuk melipat kertas. Melihat kami datang, AI langsung menghentikan peker-jaannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Setelah kami masuk, terbentanglah pemandangan buku-buku yang telah tersusun, alat pemotong kertas, bungkusan buku siap kirim, dan lembar-lembar kertas yang belum selesai dilipat. Di rumah sekaligus tempatnya memproduksi buku, AI seperti sedang menyiapkan masa tua yang terencana. Kepada kami ia bilang jika tugasnya sebagai pegawai negeri telah selesai, kepada bukulah ia akan mengabdi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Masih banyak karya-karyanya yang belum terdokumentasi, itu disebabkan pada tahun 1970, AI lebih konsentrasi kepada seni tari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Karena dulu sibuk menari, banyak karya yang tidak sempat diketik dan sekaranglah kesempatan untuk mengumpulkannya kembali dan dijadikan satu ke dalam buku,” tutur AI yang pada tahun 2004 pernah diudang oleh kerajaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dalam acara pesta tari gendang nusantara 7 di Malaka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Setelah dirasa cukup berbasa-basi, RUMAHCERITA langsung menanyakan tentang proses pengerjaan buku antologi puisi nu-santara. Sambil mengusap ram-but, AI mene-rangkan kenapa ia butuh waktu satu tahun dua bulan untuk menyelesaikan antologi nusantara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;“Saya butuh waktu satu tahun dua bulan untuk menyelesaikan buku antologi puisi nusantara karena juga mengerjakan buku yang lain,” ungkapnya. &lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;“Sebenarnya saat ini saya hanya tinggal mencetak ulang saja karena sepuluh buku tersebut sudah habis,” terangnya kemudian. Arsyad Indradi juga mengatakan bahwa kawan-kawan penyair luar daerah menyebutnya sebagai penyair ‘gila’ karena memproses buku sebanyak itu dalam waktu singkat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Sepuluh buku itu tentu bukan karya pribadinya saja tapi beberapa karya komunitas sastra di &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;“Saya salut dengan keberadaan mereka sebagai komunitas sastra. Sewaktu berada di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, saya melihat langsung apa yang mereka kerjakan. Semangat menulis mereka tinggi dan hati saya terpanggil untuk menerbitkan karya puisi mereka yang selama ini belum pernah dibukukan,” ceritanya mengenang setahun yang lalu ketika berkunjung ke &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Sebenarnya ‘gila’ yang dimaksud tidak saja mengarah karena telah menerbitkan sepuluh buku, tetapi juga karena semua penerbitan buku yang sudah ada dibiayai dari isi dompetnya sendiri, termasuk antologi puisi nusantara yang dalam satu bukunya berjumlah 728 halaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Mengenai ini Arsyad tenang-tenang saja, ia tidak ingin meminta bantuan, kalau tidak mampu ia akan memilih untuk diam tapi jika ada yang ingin membantu, barang tentu tanpa harus ia memintanya dulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;“Alhamdulillah selama ini berjalan lancar. Meski demikian kendala pasti ada tapi bisa saya selesaikan,” jawabnya tulus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Selama mengerjakan semua buku, tak sekali dua jari tangannya tersayat pisau &lt;i&gt;cutter. &lt;/i&gt;Utamanya pada saat mata mulai terasa berat karena kurang tidur. Arsyad akan merasa puas jika buku yang diterbitkannya murni hasil kerja tangannya sendiri. Maka tahap demi tahap, mulai dari melayout, menyusun halaman, mencetak, melipat kertas, sampai menjilid dilakukannya sendiri. Arsyad percaya bahwa tidak ada hasil yang cemerlang tanpa diawali dengan kerja keras. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Seandainya ingin dibayangkan, sebagai pegawai negeri, sejak pagi Arsyad harus bekerja seharian. Kembali ke rumah, ia segera membuka layar komputer untuk melanjutkan pekerjaan bukunya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hingga malam. Terus begitu hingga proses penjilidan. Tentu ini sangat melelahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Tapi Arsyad selalu memotivasi dirinya sendiri bahwa pekerjaan apa pun akan selesai apabila segera dimulai. Apalagi banyak yang menyangsikan ketika AI berniat menerbitkan antologi puisi nusantara, kesangsian itu tidak mem-buatnya patah semangat, sebaliknya menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Nyatanya sekarang buku antologi nusantara telah terbit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Setelah cukup panjang lebar, akhirnya RUMAH CERITA undur diri agar beliau bisa melanjutkan pekerjaannya kembali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Selamat bekerja penyair Arsyad Indradi. Lain waktu kami datang kembali.*** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Harie Insani Putra &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:red;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                           &lt;/span&gt;redaktor Mini Magazine Rumag Serita, cerpenis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                          &lt;/span&gt;( Rumah Cerita #01 Mei 2007&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6733018956709140077-7583945240161503884?l=estikaler.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://estikaler.blogspot.com/feeds/7583945240161503884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6733018956709140077&amp;postID=7583945240161503884' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/7583945240161503884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6733018956709140077/posts/default/7583945240161503884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://estikaler.blogspot.com/2008/04/arsyad-indradi-menyelesaikan-10-buku.html' title='Arsyad Indradi Menyelesaikan 10 Buku dlm 1 tahun 2 bulan'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SByf_iTdX-I/AAAAAAAAAlU/AlK-Fdgiees/s72-c/harie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
