Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair GilaRisalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair GilaRisalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair GilaRisalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair GilaRisalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila Risalah Penyair Gila

Salam sastra,

Rencana awal adalah membukukan esai/artikel mengenai Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan sebagai buku pendamping antologi tersebut, namun naskah yang tersedia minim sekali maka timbul pemikiran agar rencana pembukuan tetap dilaksanakan, akhirnya esai yang ada ditambah beberapa esai lainnya yang isinya berhubungan dengan saya lalu saya terbitkan menjadi buku kumpulan esai “ Risalah Penyair Gila “ ini. Esai mengenai Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan saya muat di antologi tersebut sebagai epilog untuk cetakan yang kedua. Saya tak dapat membalas kebaikan dan solidaritas teman – teman atas esai – esai tersebut buat saya, selain mengucapkan terima kasih. Semoga Tuhan yang akan membalaskannya. Amin. Buku kumpulan esai ini adalah sebagai kenang – kenang ultah saya yang ke – 59, 31 Desember 2008.

Banjarbaru, 31 Desember 2008

Arsyad Indradi



Sabtu, 01 Mei 2010

Antologi Puisi Penyair Nusantara : Dari Negeri Bandung Menuju Bulan




Oleh : Bambang Widiatmoko

Perdebatan tentang mazhab romantisme mungkin tak akan pernah berakhir. Terutama relevansi romantisme yang berkembang di kesusastraan Eropa di abad ke-19 dalam kesusastraan Indonesia. Namun banyak yang sepakat mazhab romantisme di Eropamengacu pada suatu gerakan seni-sastra yang bisa ditelusuri sejak akhir abad ke-18 di Eropa Barat, khususnya Jerman dan kemudian Inggris, yang menjadi aliran menonjol di pertengahan abad ke-19 ke seantero Eropa dan belahan dunia lainnya.
Sapardi Djoko Damono dan Saini K.M. menguraikan munculnya romantisme Eropa sebagai suatu reaksi terhadap suatu aliran yang disebut sebagai Klasisisme, yang menitik beratkan pada keseimbangan, aturan dan konvensi dalam seni, mengedepankan intelektualitas dan rasio, objektivitas serta orientasi budaya yang mengacu pada tatanan sosial politik yang didominasi oleh kaum elit bangsawan dan agamawan.
Sementara di Amerika, munculnya romantisme menurut Melani Budiana, bertolak dari kejenuhan terhadap dominasi dogma aliran Kristen Puritan Kalvas, dan cara berpikir pencerahan yang rasional, dan cenderung steril dan emosi. Kembali melihat masa lampau, yang jauh dari hingar bingar peradaban masa kini merupakan salah satu ciri romantisme, seperti yang dipelopori oleh Sir Walter Scott dengan genre sastra sejarahnya. Kecenderungan yang sama juga mengarah pada eksotisme, suatu orientasi kepada yang asing, dan yang jauh, yang digambarkan sebagai dunia yang mempesona dan eksotik.
Seni romantik menggali inspirasi dari seni yang tumbuh dari kehidupan rakyat kecil sehari-hari seperti balada, folklor, dongeng, dan legenda. Dengan aspel-aspek yang diutamakan oleh gerakan romantisme, William Shakespeare, dramawan yang hidup tiga abad sebelumnya (1564-1616) menjadi populer kembali di masa romantik.
Bagaimana dengan romantisme dalam naskah-naskah lama di Nusantara ? Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1814 sampai 1823 dan diprakarsai oleh Adipati Anom Amangkurat III, yang kemudian menjadi raja dengan gelar Sunan Paku Buwana V (1820-1923), mengungkapkan juga erotik romantisme. Serat Centhini merupakan ensiklopedi budaya Jawa yang sangat berharga karena membicarakan banyak perkara dan peristiwa yang mengandung keagungan. Kandungan isinya sangat beragam, meliputi sejara, pendidikan, geografi, arsitektur, pengetahuan alam, falsafah, agama, tasawuf, mistik, ramalan dan sebagainya.Kita juga bisa menemukan masalah sanggama dan romantisme yang terkandung dam Serat Centhini,
Suasana romantik dapat saya temukan kembali ketika membaca Antologi Puisi Penyair Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan, diterbitkan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru Kalimantan Selatan, tahun 2007.
Dalam antologi ini, banyak puisi-puisi yang mengungkapkan erotik romantisme. Kita lihat dalam puisi Aen Trisna Wati berjudul Mimpi Basah : //mengendapkan kerinduan/pada dinding kamar, pada detak hujan, pada dingin/yang menyeka malam menjadi malam/suara batuk tertancap di gemuruh/menjadi sunyi/menyimpan kerinduan/pada sebotol air putih/kemudian kuteguk/menjadi bayang-bayang/menjelma lingkar matamu/hingga masuk ke kantung kemihku/malam kian sunyi/kutitipkan puisi rindu/di atas bantal biru/lalu mengecup bayangmudan bergumam pelan/’selamat malam’/dan lelap resah hingga basah/ (hal.12).
Juga puisi Ahmad Syam’ani berjudul Syair Perempuan ://Lihat, salam hangat perempuan/Lentik matanya/Ketika sedikit kata-kata menari/Sampai jejak pintu pentas pun memanggil/Namanya, dengan tekun// (hal.33).
Atau puisi Ali Wardana berjudul Ronggeng://Menimbang lenggok senyum selendangmu/kembangkan lanskap dukuh kumuh/ di tingakah dayu kembang/disela suit serta tepuk tangan/di buai ketipak kendang (hal.63). Begitu pula dengan puisi Aminuddin Rifai berjudul Makrifat Sungai://amboi/aku kembali memastikan/bahwa syahwatku telah basah/oleh mengintipmu/di sungai// (hal.70). Bisa diperpanjang lagi dengan puisi Aslan Abidin berjudul Polispermigate ://tapi nawang wulang, aku juga suka/membayangkan kau membuka celana/untukku dan mungkin aku terkesiap/menatap kemaluanmu yang mangap//(hal.102).
Masih banyak puisi yang berkisah tentang romantisme ditulis dengan baik oleh penyairnya. Begitu pula beberapa penyair berhasil menuliskan puisi tentang perempuan dengan cukup memikat. Ada satu puisi berhasil mengungkapkan tentang dunia waria ditulis Boufath Shahab berjudul Kau Tahu Sihir Waria : //jika sekali saja kau kerlingkanmata/akan kusihir dunia menjadi semesta canda dan tawa/pernahkah kau berpikir tentang ruh perempuan yang terjebak/di sekujur badan lelaki, karena kesalahan malaikat pengatur jasad ?/maka bermain-mainlah di kedalaman kelaminku/aku akan telanjang bersama kupu-kupu/atau jika kau mau, aku akan menjadi seekor kupu-kupu yang/telanjang bersamamu/mungkin akan kau temukan bekas-bekas air matabahagia ibu/ketika pertama kali aku mampu mengeja namaku/dan ia menghadiahiku sebutir bola yang penuh warna/kudekap perut ibu : ibu, aku tak bahagia/aku merindukan sebuah boneka// (hal.121).
Buku setebal 728 halaman hasil kerja keras Arsyad Indradi selaku editor menunjukkan betapa beragamnya tema-tema yang ditulis penyairnya. Tentu tidak semua penyair yang terlibat di dalamnya, berhasil menampilkan puisinya dengan baik. Beberapa puisi terkesan masih dangkal. Bahkan saya menemukan puisi yang ditulis dengan gaya penulisan puisi mbeling seperti yang pernah dipopulerkan Remy Silado.
Seperti puisi yang ditulis Ahmad S.Rumi berjudul Negeri Bandung ://Di negeri Bandung/Puisi cukup mahal/Jalannya beraspal/Jalurnya ditunggu preman/Redakturnya amat terkenal//(hal.29).Kutipan bait pertama dalam puisi tersebut menunjukkan bahwa penyairnya hanya mencoba bermain-main dengan kata-kata, belum mencoba mengolah secara lebih mendalam tentang Negeri Bandung. Lantas apa manfaatnya bagi bublik sastra jika disajikan puisi-puisi semacam itu ?
Begitu pula bila membaca puisi-puisi yang bertabur huruf kapital, apakah lantas dengan demikian mengubah puisi tersebut menjadi puisi relegius ? Misalnya dalam puisi yang ditulis Kiki Turki berjudul Surat Untuk Kekasih I :// Di malam sunyi ku terbangkan daun-daun doa/sampaikan pesanku pada-Mu?/Kekasih, aku alpa pada-Mu/Tapi tidakjkah Kau ampuni aku//(hal.342). Juga pada : //Kekasih …./Hari ini aku menelpon-Mu kembali/Jawablah walau sekedar veronica! (hal.343).



Tentunya jika yang dimaksud ingin menulis puisi religius, tidak sesederhana atau sekedar menempelkan huruf kapital. Setiap manusia memiliki naluri religiusitas, yaitu naluri untuk berkepercayaan. Naluri itu muncul bersamaan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup dan alam raya yang menjadi lingkungan hidup sendiri. Keberagamaan atau religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Konsep religiusitas adalah rumusan brilian, yang mencoba melihat keberagamaan seseorang bukan hanya dari satu atau dua dimensi, tetapi mencoba memperhatikan segala dimensi.
Keberhasilan menuliskan segala dimensi sebagai suatu konsep religiusitas tampak dalam puisi Ali Syamsuddin Arsi berjudul Bermain Bersama Anak-Aanak ://Tuhan, jarak sepereti apa lagi yang akan engkau paparkan/dariliku-likunya kasih sayang, sementara cinta/haruslah tetap dipertahankan/waktu sampai ke batas kematian/karena keabadian itu merupakan sumber bayangmu/dari zaman ke zaman, dari ruang ke ruang//(hal.55).Tanpa harus bertabur huruf-huruf kapital pun sudah sangat jelas penyairnya berhasil menuliskan sajak religiusnya.
Begitu pula jika membaca puisi yang ditulis Arsyad Indradi berjudul Darah, penyairnya berhasil menyajikan makna religiusitas dalam puisinya ://Adalah langit darah berdarah/Tak habishabis jadi laut berabad-abad telah/tak berpaus di atasnya rajah perahu Nuhmu/tak singgahsinggah pada dermaga darahku/Hu Allah darahku hanyut dalam darahmu/kutubku tenggelam dalam kutubmu/menghempas napas darahku membatubara/ di kunci rahasia Alifmu Alif Alif/darah Adamku yang terdampar di bumi/yang rapuh berabad-abad mencari darah Hawaku/yang rapuh tersesat di belantaramu meraung/darah laparku mencakarcakar mencari darahku/beri aku barang setetes Hu Allah/getar alir napas menyeru darahmu/mengalir darahmataku mengalir dari musafir/di sajadahmu/mengalir menuju rumahmu (hal.88).

-oOo-

Beberapa kelemahan terkesan agak mengganggu dan bisa untuk koreksi dalam penerbitan antologi puisi selanjutnya. Seperti pemuatan puisi yang sama pada halaman 33 dan 35. Pemuatan foto pada halaman 698,699,700,7001,7002 terasa sangat mengganggu, apalagi tanpa ada penjelasan sama sekali dari editor dalam kata pengantarnya. Ada ungkapan yang menyebutkan satu foto mewakili seribu kata-kata. Puisi di halaman tersebut menjadi berkurang maknanya setelah kita melihat foto yang menyertainya. Maaf, tanpa ada penjelasan lebih rinci, judul yang tepat untuk buku ini adalah antologi puisi dan foto.
Sebagai penutup tulisan ini, kita kutip saja penggalan puisi dalam antologi 142 Penyair Menuju Bulan, barangkali bisa merefleksikan isi keseluruhan antologi puisi ini seperti ditulis Ahmadun Yose Herfanda://Ah,apapun yang terjadi padamu/Indonesia, aku tetap mencintaimu (hyal.39).Atau boleh juga puisi Dimas Arika Mihardja ://’kulihat ibu pertiwi/sedang berduka hati…’/Indonesia bau, begitu kita berseru/Indonesia baru, berseteru melulu//(hal.158).
Apa pun wujud dan isi dari antologi puisi : 142 Penyair Menuju Bulan, tetap dapat menjadi rujukan untuk mengkaji perkembangan sastra di Indonesia. Semoga ***


Setia Berkarya Hingga Usia Senja



Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Para sastrawan muda yang hari ini cukup kreatif dan produktif mempublikasikan tulisannya di berbagai media massa, ada baiknya sejenak mempertanyakan pada dirinya: akankah terus berkarya hingga usia tua, bahkan sampai maut menjemput? Ataukah kehadirannya di blantika sastra hanya untuk sesaat, kemudian menghilang tanpa jejak? Sebab, sejarah mencatat tidak sedikit mereka yang dulunya begitu bersemangat berkarya, entah karena faktor apa, kini tak terlihat lagi goresan penanya.
Di sinilah bedanya antara penulis amatir dan penulis profesional. Idealnya ketika seseorang memilih berkecimpung di dunia sastra, sepanjang usia ia dedikasikan untuk berkarya. Meskipun sampai sekarang umumnya dari segi materi karir sebagai penulis lepas (freelance) belum bisa dijadikan sandaran hidup, kecuali buku-bukunya best seller di pasaran. Namun sebenarnya hal itu dapat disiasati, kalau tidak bisa totalitas atau semata mengharapkan sumber nafkah dari menulis, minimal sebagai pekerjaan sampingan. Di Kalsel cukup banyak sastrawan yang menjadikan menulis sebagai profesi sampingan. Ada yang aktivitas utamanya jadi PNS (Micky Hidayat, Tajuddin Noor Ganie, A Bacco), dosen (Setia Budhi, Sainul Hermawan), guru (Ali Syamsuddin Arsi, Jamal T Suryanata, Zulfaisal Putera, Hasbi Salim), wartawan (Aliansyah Jumbawuya, Sandi Firly), dan lain-lain. Yang penting, ia tidak lupa untuk terus berkarya.
Inti persoalannya ialah, apakah kita memang serius atau cuma setengah hati mencintai sastra. Kalau kita sungguh-sungguh kepincut pada bidang sastra, maka kepuasan batin dalam berkarya akan menjadi prioritas utama, sementara imbalan finansial boleh jadi menempati urutan ke-19 dalam pertimbangan. Sekali lagi, kadar cintalah yang menentukan panjang atau pendekya nafas seseorang untuk berkarya. Bukan karena faktor di luar diri (ekternal). Ibarat orang menikah, kalau cintanya sejati maka sampai pasangan hidupnya keriput dan ringkih perasaan dia tetap penuh gelora, tak ada niat untuk berpaling apalagi meninggalkan.
Di Kalsel ada beberapa sosok sastrawan yang hingga memasuki usia senja tetap setia berkarya. Penyair Arsyad Indradi tak hanya menggebu-gebu jika diajak diskusi tentang sastra, juga dibarengi dengan produktivitasnya dalam melahirkan puisi-puisi. Karya-karyanya dapat dilihat dari antologi puisi tunggalnya : Nyanyian Serberibu Burung, Romansa Setangkai Bunga, Narasi Musafir Gila dan Kalalatu puisi Bahasa Banjar dan terjemahan Bahasa Indonesia Kumpulan puisi bersama antara lain : Jejak Berlari, Panorama, Tamu Malam, Jendela Tanah Air, Rumah Hutan Pinus, Gerbang Pemukiman, Bentang Bianglala, Cakrawala, Bahana, Bulan Ditelan Kutu, Anak Zaman, Baturai Sanja, Tiga Kutub Senja dan Dimensi dan lain-lain. Terakhir, ia menerbitkan buku 142 Penyair Menuju Bulan. Bayangkan, dari mengumpulkan bahan dengan menyurati para penyair yang tersebar di Nusantara, mengedit, mencetak -- konon katanya sampai beberapa buah printernya rusak – termasuk pembiayaan ditanggungnya sendiri. Begitu rampung, antologi puisi itu dia bagi-bagikan dan sebar secara gratis. Mungkin tak banyak orang yang mau melakukan hal itu. Karenanya, tak heran jika ia kemudian dijuluki “Penyair Gila”.
Menurut istilah Arsyad Indradi, kalau kita ingin citra penyair Kalsel diperhitungkan di tingkat nasional harus berani ‘berdarah-darah’. Dan itu tak sekadar diucapkannya, tapi dibuktikan dengan tindakan riil. Alhasil, nama Arsyad Indradi memang meroket. Bukan hanya di media lokal, koran-koran nasional pun membicarakan sosok dan kiprahnya.
Gebrakan lain yang dilakukan Arsyad Indradi ialah membuat blog, sehingga pembaca di belahan dunia manapun dapat menikmati karya-karyanya. Bahkan ia punya trik jitu tersendiri, sehingga kalau orang mengetik penyair Nusantara di internet, pastilah namanya yang nongol duluan. Ternyata meskipun sudah tua, Arsyad Indradi tak mau ketinggalan dalam penguasaan teknologi untuk menunjang publikasi karya-karyanya.
Penyair berikut yang walaupun sudah jadi seorang kakek, namun tetap eksis berkarya adalah Hamami Adaby. Pensiunan Kepala Kantor Departemen Penerangan Tabalong (1986-1994) dan Batola (1994-1998) ini gairahnya dalam bersastra sudah tak diragukan. Hal itu tergambar dari kesinambungannya dalam berkarya, sebagaimana bisa dilihat dari buku antologi pribadi: Desah, Senja, Iqra, Nyanyian Seribu Sungai, Kesumba, Bunga Angin, Dermaga Cinta, Uma Bungas Banjarbaru dan Kaduluran. Belum lagi karya-karyanya yang tersebar dalam antologi bersama.
Mampu menerbitkan buku, katanya, merupakan kebahagiaan yang tak ternilai. Karena itu, ia berusaha setiap hari untuk berkarya. “Orang ribut-ribut bagi BLT juga bisa dijadikan puisi,” ujar Hamami Adaby ketika acara selamatan di rumah Sainul. Pernyataan itu menegaskan, betapa ia tak pernah berhenti untuk berkarya.
Begitu pula dengan HM Syamsiar Seman, di usia senjanya terus berkarya. Kalau dulu pria kelahiran Barabai 1 April 1936 ini gencar menulis puisi dan cerpen, belakangan ia lebih konsentrasi mengangkat seni budaya Banjar. Sudah banyak buku yang dihasilkannya, bahkan sebagian dikoleksi di perpustakaan Washington, Amerika Serikat. Katanya, dengan menulis buku dapat memperpanjang usia; walaupun kita sudah meninggal dunia buah karya kita tetap dikenang orang.
Atas dasar pertimbangan itulah semangat berkarya Syamsiar tak pernah surut. Ia menulis tak terikat waktu, bisa kapan dan di mana saja. Kadang sambil mengambil gaji pensiunan, karena menunggu panggilan cukup lama, ia duduk di pojok ruangan untuk menulis. Demikian juga saat di rumah sakit daripada bingung menanti giliran antri ia corat-coret kertas untuk bahan tulisan. Bahkan Syamsiar punya kebiasaan unik, setiap naik taksi dia pasti memilih bangku depan – dengan begitu selama dalam perjalanan ia bisa menulis.
Sungguh semangat dan dedikasi berkarya mereka patut untuk ditiru. Faktor ketuaan bukanlah penghalang dalam berkreasi. Justru, ibarat kelapa makin tua makin bersantan. Dengan beragamnya pengalaman hidup yang direguk, tentu makin banyak pula bahan yang bisa diolah untuk berkarya.
Kondisi kesehatan yang tidak seprima ketika masih muda, bukan alasan buat berhenti berkarya. Sebab menulis lebih dominan menggunakan pikiran ketimbang tenaga. Buktinya, Kuntowijoyo (alm) saat dalam kondisi sakit parahpun tetap mampu menghasilkan karya sastra. Karena kelima jarinya tidak bisa digerakkan, ia mengetik menggunakan satu jari. Bahkan, ketika sudah tak berdaya ia minta bantu pada sang istri dengan mendiktekan isi pikirannya. Ya, hanya kematian yang bisa menghentikan dia untuk berkarya.
Lalu, bagaimana dengan sastrawan-sastrawan muda yang masih energik dan punya masa depan panjang, dapatkah membuktikan diri mereka untuk terus berkarya hingga batas usia? Biarlah waktu yang akan menjadi saksi!
***

Padaringan Sastra, 19 Juli 2008
Aliansyah Jumbawuya, sastrawan tinggal di Banjarmasin.. Terbit di : Banjarmasin Post, minggu 24 Agustus 2008.

Arsyad Indradi Menuju Bulan



Oleh: Syaifuddin Gani*

Bismillah. Pukul 21.00 Wita. Setelah menunggu sekian jam, koran nasional dari Jakarta akhirnya datang juga. Memang untuk mendapatkan koran Jakarta, harus menunggu sampai malam. Aku membeli beberapa, termasuk Harian Republika. Koran Kendari, yang tiga buah itu, tidak menyediakan rubrik sastra dan budaya. Sehingga bisa dibayangkan, seperti apa wajah kebudayaan dan kesusastraan di daerah yang pernah memiliki Kesultanan Buton/Wolio ini. Salah satu warisan Sultan Idrus Kaimoeddin, salah seorang raja, adalah menciptakan kabanti, sastra/puisi tutur yang terkenal itu. Sampai kini, masyarakat terus menyanyikannya, baik pada saat menjelang tidur, dirundung rindu kepada anak, kekasih, dan handai taulan, ataupun acara resmi adat dan pemerintah. Tradisi ini tidak berlanjut kepada penciptaan karya sastra modern. Maksud saya, dalam rentang waktu yang sangat panjang, tidak ada penulis Sulawesi Tenggara yang melanjutkan kerja kepenyairan itu. Baik yang memanfaatkan kabanti sebagai ‘dasar’ penciptaan, maupun menulis puisi modern sebagai hasil dari proses pembacaan dan persentuhan dengan sastra modern lainnya. Kelahiran kembali sastra modern di Kendari, Sulawesi Tenggara, dimulai pada awal 1990-an. Proses ini dimulai saat Achmad Zain mendirikan Teater Sendiri Kendari. Di sanggar tersebut, selain latihan dan pentas teater, juga ada penulisan puisi, cerpen, naskah drama, dan esai. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, sebagian anggota Teater Sendiri kemudian menjadi penyair dan sutradara teater. Saya pun berada dalam lingkaran proses itu.
Usai membaca sajak, cerpen, dan esai Republika, saya membuka lembaran lain dan membaca sebuah permintaan ke seluruh penyair tanah air untuk mengirimkan sajaknya dalam rangka penerbitan Antologi Puisi Nusantara. Kendari memang jauh dari hiruk pikuk kesusastraan Indonesia. Baik dalam hal publikasi di media massa, diskusi, maupun penerbitan buku. Apalagi memang, puisi modern Kendari baru ditulis dalam masa waktu sepuluh tahun itu. Publikasi ke luar merupakan salah satu cara memperkenalkan sekaligus evaluasi atas karya tersebut. Saya lantas menyampaikan rencana penerbitan tersebut kepada beberapa teman, namun ditanggapi kurang serius. Akhirnya lima buah sajak saya kirim ke alamat Bang Arsyad Indradi. Pegumuman di Republika menyampaikan bahwa penerbitan antologi ini dilaksanakan bulan April 2006. Tapi minggu berganti bulan menjelma tahun, informasi mengenai itu tidak juga jelas. Saya menelpon ke Bang Arsyad, ya sementara diedit, terlalu banyak penyair yang mengirimkan karyanya, katanya. Saat itu saya di Taman Budaya Kendari dan beliau di dalam mobil, sementara perjalanan dari Banjarmasin menuju Banjarbaru. Dugaan saya Pak Arsyad adalah seorang muda yang penuh semangat juang tinggi. Perkiraan yang meleset ini, yang di kemudian hari melahirkan kesan simpatik yang dalam atas seorang Arsyad Indradi yang berjuang sendirian melahirkan karya fenomenal dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Suatu saat saya berpikir, mungkin antologi ini sudah terbit, tetapi sajak saya tidak tercantum di dalamnya. Saya memang menduga, bahwa upaya mengupulkan, pengeditan, sampai pada penerbitan akan membutuhkan waktu yang panjang. Apalagi memang, pekerjaan ini sepenuhnya inisiatif, keringat, dan biaya dari seorang penyair senja yang dilakukan untuk kepentingan silaturrahmi penyair dan mempelajari perkembangan perpuisian nusantara mutakhir, sebagaimana yang dinyatakan Jarkasi dalam pengantarnya.
Akhirnya, cita-cita Pak Arsyad Indradi tercapai juga untuk ‘terbang sampai di bulan’. Antologi yang dikerja selama setahun telah tersebar ke berbagai pelosok nusantara. Informasi yang saya peroleh dari Micky Hidayat, sewaktu bersua dalam acara Pesta Penyair Indonesia di Medan 25-28 Mei 2007, bahwa penyair berusia 58 tahun ini, harus mencari dana sendiri untuk merampungkan niatan luhurnya. Bisa jadi, ini adalah ikhtiar mulai untuk melawan hegemoni kapitalis yang menggerogoti penerbitan sastra Indonesia. Beliau harus ke Surabaya untuk membeli alat percetakan, yang kemudian dikerjakan di rumahnya, dengan bantuan beberapa kaum muda. Senin, 23 April 2007, pukul 14.25 Wita, saya menerima paket pos berupa bungkusan berwarna cokelat. Saya menduga bahwa bungkusan itu berisi buku puisi dari Banjarbaru. Setelah kubuka, sebuah buku tebal bergambar tatasurya dan bertulisakan, Antologi Penyair Nusantara, 142 Penyair Menuju Bulan. Diterbitkan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (KSSB) Kalimantan Selatan.Tebalnya 728 halaman. Penyunting dan penata letaknya, Pak Arsyad Indradi. Saya lantas merunut kembali ke belakang, pengiriman naskah puisi yang hanya melalui alamat rumah via pos. Ratusan naskah harus diketik ulang. Barsngkali karena melalui cara inilah, sebagian sajak (termasuk salah satu sajak saya, hilang satu larik). Seandainya, pengirimannya melalui pos-el (email), kemungkinan untuk terjadinya salah cetak, kecil.
Sejenak saya terdiam. Ini sebuah hasil dari pekerjaan besar. Buku tebal 728 halaman. Alhamdulillah, buku ini saya terima. Kucari nama saya, dan termuat pada halaman 641. Inilah antologi puisi pertama yang memuat karya saya di luar Kendari, setelah sebelumnya termuat dalam antologi bersama Sendiri 1, 2, 3, Malam Bulan Puisi, Antologi Tunggal ‘Perjalanan’ (Teater Sendiri), Kendari (Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara), dan terakhir, Medan Puisi, Antologi Puisi Penyair Indonesia, Sempena The 1st Medan International Poetry Gathering. Apa pentingnya bagi saya dan Kendari umumnya atas pemuatan tiga buah sajak saya? Paling tidak, karya puisi saya juga telah menyapa penyair lain dan masyarakat penikmat sastra nusantara.
Bagi saya, 142 Penyair Menuju Bulan, untuk kepentingan tertentu, memiliki nilai dan posisi yang sama dengan Tonggak (Linus Suryadi), Puisi dan Prosa Angkatan 66 dan Kesusastraan Zaman Jepang (HB. Jassin), Angkatan 2000 (Korrie Layun Rampan) maupun dokumentasi sastra lainnya. Perbedaannya adalah, buku yang diterbitkan Pak Arsyad lebih bersifat dokumentasi dan representasi penyair nusantara, sementara HB. Jassin dan Korrie memiliki landasan estetik yang kemudian melahirkan angkatan dalam sastra Indonesia. Perbedaan lain adalah, 142 Penyair Menuju Bulan luput dari pembicaraan dan perbincangan media massa, penyair, dan kritikus sastra. Apakah karena penerbitannya dilakukan di luar ‘pusat’ sastra? Atau karena penggagas sekaligus penyunting karyanya adalah seorang Pak Arsyad Indradi yang tidak tercatat dalam kitab puisi dan ‘tokoh’ sastra Indonesia? Bukankah sebetulnya, sastra Indonesia memiliki tokohnya masing-masing yang berdiam di daerah dan menghidupi kesusastraannya sendiri? Barangkali saya salah dalam memahaminya. Tetapi sesuatu yang pasti adalah pekerjaan tanpa tanda jasa dari penyair tua yang tinggal di Banjarbaru ini adalah karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Mungkin banyak penyair terkini yang tidak terlalu mengenal beliau, tetapi hasil karya nyatanya, berhasil mengukir namanya sebagai tokoh lain dalam pengembangan dan pendokumentasian perjalanan puisi kita.
Menurut cerita Jarkasi, pengamat kebudayaan Banjarmasin, Bapak Arsyad Indradi menemui di rumahnya, siang hari, untuk menjadi pengulas pada antologi ini. Oleh karena rasa kagum tinggi atas kemauan yang keras pria kelahiran Desember 1949 ini, luluh juga hati dosen FKIP Unlam Banjarmasin ini untuk mengamininya. Sebuah keinginan dan proses memang sangat berarti. Justru di sinilah letak nilai yang terkandung dalam buku ini. Proses panjang beserta lika-liku yang melelahkan, melahirkan karya yang bermakna besar. Tidak main-main, 142 dari 186 penyair yang dilesakkan ke bulan. Ia pun menjadi salah satu titik cahaya dalam cakrawala sastra Indonesia. Cahaya yang tidak boleh padam dan dipadamkan oleh siapapun. Oleh karena ia menjadi bagian dari cahaya ‘bintang’ yang lain. Apakah keseluruhan buku yang dikirim ke panyairnya masing-masing lahir dari waktu penerbitan yang sama? Tidak! Menurut Micky, Pak Arsyad harus mengerjakan secara manual beberapa buku saja dulu, untuk dikirim ke wilayah tertentu. Untuk wilayah yang lain, dilakukan dengan proses yang sama pula. Dan Akhirnya, mungkin, saat ini semua penyair telah menerima masing-masing buku yang dilahirkna dengan susah payah. Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara, tempat saya bekerja, sempat meminta kepada Pak Arsyad untuk mengirimnya sebagai dokumentasi perpustakaan, akan tetapi beliau menggandakan dalam jumlah terbatas dan harus mengutamakan penyairnya.
Tentunya, dari segi kualitas estetik dan tematik, mencerminkan keberagaman. Hal ini dapat dipahami oleh karena Pak Arsyad tidak memberikan ‘batasan’ tertentu terhadap penyair dan karyanya yang boleh diikutkan. Meskpun demikian, proses pembukuan ratusan karya ini, tetap lahir dari usaha penyuntingan yang ketat. Sehingga dari 186 penyair yang mengikutkan karyanya, hanya 142 penyair saja yang ikut pada penerbitan pertama ini. 142 Penyair Menuju Bulan, mencerminkan wilayah asal penyair yang beragam. Menurut hasil penghitungan saya yang bisa saja keliru, terdapat 49 kota/daerah asal penyair di antologi tersebut. Adapun hasil penghitungan jumlah penyair dari kota tersebut adalah: Medan 2 penyair, Riau 2 penyair, Bandung 13 penyair, Solo 2 penyair, Yogyakarta 11 penyair, Banten 6 penyair, Jakarta/Depok 17 penyair, Sleman 2 penyair, Banjarbaru 7 penyair, Banyumas 1 penyair, Samarinda 4 penyair, Ngawi 2 penyair, Malang 3 penyair, Jambi 7 penyair, Makassar 3 penyair, Padang 1 penyair, Aceh 4 penyair, Surakarta 1 penyair, Sumbawa 1 penyair, Semarang 2 penyair, Kotabaru 2 penyair, Mataram 6 penyair, Banjarmasin 2 penyair, Pekanbaru 2 penyair, Medan 2 penyair, Bekasi 1 penyair, Tangerang 3 penyair, Bali 2 penyair, Pangkal Pinang 2 penyair, Palembang 3 penyair, Martapura 1 penyair, Lampung 3 penyair, Kudus 4 penyair, Cirebon 1 penyair, Tenggarong 1 penyair, Ambon 2 penyair, Sukabumi 1 penyair, Bogor 1 penyair, Majalengka 1 penyair, Surabaya 2 penyair, Boyolali 1 penyair, Kebumen 2 penyair, Bangka Belitung 1 penyair, Tasikmalaya 1 penyair, Balikpapan 1 penyair, Jember 1 penyair, Kendari 1 penyair, dan Lamongan 1 penyair. Tentunya masih banyak penyair dari kota yang sama ataupun kota lain yang tidak mengikutsertakan puisinya di antologi tersebut. Penyair Jimmy Maruli Alfian saya anggap sebagai penyair asal Lampung dan Sutarjdi Zalcoum Bachri dari Jakarta.
Saya tidak tahu persis, maksud Pak Arsyad menyebut 'Menuju Bulan' sebagai nama antologi ini. Saya menduga-duga diambil dari judul sajak Puput Amiranti N, halaman 459, penyair wanita dari Surabaya. Ataukah 'bulan' yang dimaksud adalah simbol/lambang pencapaian kepuasan batinnya menerbitkan Antologi Puisi Nusantara ini, lantas menyandingkan dengan 'bulan' lain dalam 'tata surya' kesusastraan Indonesia? Saya akan mengutip beberapa larik dari bait kedua sajak Puput tersebut:
mungkin kita saling berciuman
di bawah bulan tak mengenal
tubuh kita terbakar
cahaya-cahaya lalu lalang
menggambar bayangan sendiri

Antologi Pusi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan adalah hasil sebuah obsesi besar dan mulia yang kini mewarnai taman sastra Indonesia. Banjarbaru dan Kalimantan Selatan umumnya, mencatatkan dirinya sebagai wilayah kebudayaan yang memiliki apresiasi tinggi terhadap ekspresi kebudayaan. Arsyad Indradi adalah nama pencatat itu. Selamat Ulang Tahun ke-57 Pak Arsyad. Kerja luhur dan puisi yang lahir, memang kadang lebih abadi dari usia manusia. Alhamdulillah.
Saya akan mengutip bait puisi Pak Arsyad yang berjudul Darah:
semesta bergoncang Hu Allah
arasy pun bergoncang Hu Allah
darahku aujubillah
darahku astagfirullah
darahku subhanallah
Allah
Penulis:Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara dan aktif di Teater Sendiri Kendari




ADA APA DENGAN SENIMAN BANJARBARU ?

Oleh : Harie Insani Putra

Ada yang hilang di Banjarbaru. Dulu kota ini bisa memberikan sebuah kenangan kepada siapapun. Barangkali masih ada yang ingat, bagaimana sebuah taman yang kecil saja menumbuhkan banyak kerinduan ?
Orang – orang selalu ingat dating ke sana. Sebenarnya bukan tempat yang pantas jika seniman ingin menampilkan karyanya ditempat itu. Sebuah taman yang langsung bertemu dengan jalan raya.
Memang selalu ada yang mengeluh. Suara mereka habis dtelan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan. Apa lagi kalau yang lewat sepeda motor yang sudah di modif knalpotnya. Ampun. Tak ada rumusnya pembacaan puisi bersaing dengan knalpot. Tapi percayalah, semua itu cukup bagi seniman untuk menunjukkan karyanya. Setiap sabtu sore, komunitas Godong Kelorselalu memainkan teater kisah kocak ( Tekicak ), tanpa ada yang membayar, tanpa diminta,mereka tetap saja bekarya di taman itu mereka saling menunjukkan hasil karya.
Diam – diam, ada sebuah kerinduan yang hilang ketika orang datang ternyata bukan sekedar tamana saja. Tapi juga kesenian. Tapi sekarang, di sana hanya ada sebuah taman. Tidak ada lagi seniman yang ngumpul sekedar ingin bercengkrama. Satu persatu mulai pergi dan tak ada janji untuk kembali. Taman itu kini seperti sebuah wajah yang diliputi murung dan muram. Kenapa seniman Banjarbaru tak lagi membaringkan tubuhnya ketika lelah, malam hari, saat – saat puisi ingin selalu dibacakan lagi ?
Sebuah zaman tentulah menawarkan perubahan. Tak ada yang tetap kecuali keyakinan. Bahwa Banjarbaru kelak menjadi kota yang sarat dengan aktivitas seni dan bdaya ? Pastilah mereka tetap ada atau memang sudah tidak ada lagi.
Segala kemungkinan bisa terjadi kapan saja tapi bukan tanpa ada sebabnya. Kemandegan komunitas seni di Banjarbaru itu sedang terjadi secara missal. Sangat disayangkan jika sebabnya tak jelas. Tanpa mengetahui masalahnya, bagaimana mungkin dapat memulihkan keadaan.
Tak ada seorang pun patut disalahkan. Zaman telah berubah, demikian juga para seniman. Burukkah akibatnya jika taman itu tak lagi dikunjungi para seniman ? Barangkali tidak. Arsyad Indradi misalnya, ia kurung dirinya di sebuah rumah dengan tumpukan kertas. Melipat, menggunting, mengiris hingga jadilah antologi Puisi Penyair Nusantara. Hasil kerja kerasnya itu membuahkan hasil yang ia sendiri tak menduganya.
Sebuah harian Cina memuat ulasan tentang buku tersebut. Tentu saja dengan bahasa Cina. Sebuah persembahan yanag luar biasa dari Arsyad Indradi untuk Banjarbaru. Dalam benak orang Cina; dimanakah itu Banjarbaru ? Seperti apakah itu Banjarbaru ? Dengan buku itu pastilah orang Cina menganggap Banjarbaru sedemikian asyiknya. Lantas adakah Banjarbaru ingin memberikan sebuah penghargaan kepadanya ? Seperti ketika Sutardji Calzoum Bachri mengadakan ulang tahun. Datang seorang utusan mengucapkan salam dan selamat dari pemerintah provinsi Riau dengan membawa sedikit hadiah untuknya.
Dalam hati kecil berkata, betapa Banjarbaru banyak memiliki orang – orang hebat. Shah Kalana Al Haji di Godong Kelor, Azis Muslim di Tetas, Rifani Djamhari di Forum Taman Hati, Isuur LS di Loeweng Production, Hamami Adaby di Parimata, Eza Thabry di Kilang Sastra Batu Karaha,, dan masih banyak lagi nama yang pantas disebut. Lantas kemana mereka dan ada apa dengan mereka ?
Tanda Tanya ini tidak memiliki jawaban. Barangkali Anda ingin menjawabnya atau tidak usah dijawab saja ?. [ ]

Selasa, 10 Maret 2009

"Kalalatu" Ekspresi Arsyad Indradi Dlm.IntrinsiknPuisi


Oleh : Noor Hana

Bahasa lisan selalu dituntun oleh pengujar atau pembicaranya. Sedangkan sebuah teks tertulis memiliki maknanya sendiri setelah dipublikasikan. Artinya, kalau kita terlibat dalam suatu pembicaraan lisan maka maksud pembicara yang belum jelas dapat dipertegas dengan mengajukan pertanyaan kepada pembicara tersebut. Sebaliknya, sebuah teks, dalam hal ini puisi, tidak lagi sepenuhnya tergantung pada penjelasan yang diberikan oleh penyair tetapi tergantung pada tafsir pembaca atas puisi tersebut.
Antologi Puisi “Kalalatu” karya Arsyad Indradi yang kental dengan nuansa tanah Banjar ini mengajak saya untuk menjelajahinya baik dari situasi bahasa, tema, bahasa puisi mau pun bentuk puisi.
Situasi bahasa “ Kalalatu “, terlihat pada sajak “ Kai Adul “ mengungkapkan pikiran yang didasarkan oleh suatu pengamatan dan ingatan di masa lalu. Subjek lirik sajak ini sulit disifatkan, yang dapat dilakukan hanyalah membuat interpretasi tak langsung berdasarkan penggunaan kata-katanya. Sajak ini memasukkan persona ketiga, yakni Kai Adul yang digambarkan hanya dari sudut pandang pembicara, namun pandangannya sendiripun diungkapkan di dalamnya.
Setelah bacaan terakhir, penulis dapat menentukan secara umum, apa yang dibicarakan dalam sajak: pembicara dalam teks, yaitu subjek lirik terkenang kembali tentang sosok yang menjadi panutan dan sangat dikaguminya. Subjek lirikbercerita tentang masa dulu, ketika masih kecil ia bersama saudara dan anak-anak sebayanya begitu menikmati kebersamaan dengan tokoh yang bernama Kai Adul. Mereka memijat tangan dan kaki Kai Adul, mendengarkan nasehat dan petuah beliau mengenai kehidupan. Bayangan dari masa lalu ini muncul dan sampai pada hari itu ia masih tetap mengingat dan mengamalkan apa yang selalu diajarkan oleh Kai Adul.
Dalam sajak ini tidak dikatakan secara eksplisit apakah subjek lirik ini adalah wanita atau laki-laki, sehingga peneliti tidak dapat mengidentifikasi jenis kelamin dari subjek lirik, akan tetapi dalam teks tentu tetap ada petunjuk. Dalam sajak ini, disebut kata kami, akan tetapi tetap saja itu merupakan narasi dari satu orang saja. Pembicara adalah seorang anak yang telah menjadi dewasa kemudian berbicara mengenai masa kecil bersama anak-anak sebayanya dan Kai Adul, yang paling jelas adalah pada bait terakhir ......Mun kami takumpulan taganang aruah Kai/Sidin tahu nangapa nang handak kami pinta/Sampai wayahini kami pingkuti papadah sidin/Bismillah nitu anakkunci pambuka lawang surga
Hal lain yang mungkin menjadi petunjuk adalah penggambaran mengenai cara bertutur Kai Adul terhadap subjek lirik pada larik keduabelas /hidup ada aturannya tungai/ kata ’tungai’ lazim digunakan untuk anak-anak, meski tidak mutlak memiliki hubungan kekerabatan, namun kata-kata ini menunjukkan hubungan emosional yang kuat antara keduanya.
Dalam sajak tersebut, perasaan subjek lirik menjadi himpunan perhatian, walaupun kadang-kadang menjadi rumit karena dimasukkan orang ketiga sehingga sajak bisa bersifat dialog. Jika subjek lirik tidak berbicara kepada seorang pendengar maka sajak dapat menjadi semacam pendapat yangbersifat umum, dapat dikatakan sajak ini memasukkan unsur kisahan.
Sajak yang memuat unsur kisahan, dimana subjek lirik bercerita, mengungkapkan pikiran dan pengamatannya tentang persona ketiga, juga terdapat pada sajak lain dalam antologi ini seperti sajak “ Nini Aluh “Mun taganang aruah nini barubuian banyumata/Sidin caramin mata wan wadah baungah /Nini landang umur jar urang sidin babustan....Handaklah nyaman mambuka lawang surga/Apikapik mamalihara muntung wan mamalihara rupa/Basuh batistangan wan adat pusaka ....Kemudian pada sajak Imbah itu inya kada tahu lagi wan dirinya/Nang tahu teja mambari sajumlah warna/Jalan“Bagandang Nyiru” ... nang kada tarasa asing dijalani/Hanyar babarapa hari badapat wan Ainun/Rasa saratus tahun bakawanan singrakatan//Kada kawa dikisah lagi bauma tiri/Juhri nang babatis panjang sabalah/Lamun harat bagimpar wan bagipang /Dikampung ngaran tapuji ......
Perkataan pembicara dalam sajak Kai Adul tidak ditujukan kepada seseorang pendengar khusus. Monolog subjek lirik ditujukan kepada dirinya sendiri. Ia mengenang masa lalu, karena situasi dan kondisinya pada saat itu sangat memungkinkan untuk membuka kembali ingatannya tentang tokoh Kai Adul. Dirinya merenungi betapa petuah-petuah yang dulu selalu Kai Adul berikan amat dipegang oleh subjek lirik (dan anak-anak lain yang kemudian disebutnya dengan ’kami’). Sudut pembicara yang tidak ditujukan pada pendengar khusus, atau hanya berupa monolog pada diri sendiri banyak dimunculkan dalam Antologi ini. Sajak “Sarai sarapun” berbicara mengenai subjek lirik yang mengingatkan dirinya sendiri untuk selalu mawas diri. Baik batuakal kugamati sakikihduakikih/matahari nang mantapuk kabumbunan/ maulah pananjak bahindang bahindala/ kaina kada sawat baulah jalan/ manyampati ari/ bursiah sanja bagasut bahantak/ ka sangkar bumi.
Dalam banyak sajak, pendengar yang diajak bicara tetap implisit. Tidak hanya untuk diri sendiri, terdapat pula sajak yang ditujukan untuk alam dalam sajak Bulik Balanting.. .....Baturai wan hujan garimis/Aku tajipah/Dalam rajut lunta rakun/Kukikih carucuk/Nang batabul. Ilungilung maumbakgalahani/Sanja sasain bagalusut sasain mamarah janar dimataku/Kada usah lagiah batakun kamana burung-burung /Maurak halar. Kamana hutan bakau mancari /Humbayang sampai ka muhara/ Mun angin manampur/Kadundangakan parimataku.............
Dengan mengajak bicara sesuatu yang tidak hadir, mati atau tak bernyawa, sesuatu itu dihadirkan, dihidupkan, dimanusiakan. ’langitai’ dan ’bumiai’ menjadi pemantul suara yang walaupun sendirinya diam, namun tanggap terhadap subjek lirik yang justru memerlukan pemantul semacam itu untuk mengungkapkan perasaannya. Kita lihat sajak “ Zikir Madihin “ ....Malam Ramadhan ini aku mambuang supan /Mambuang takutan aku musti badatang kahadapanmu/Galitiran kadua tanganku/Galitiran kadua tanganku/Galitiran manadah ka arasymu/Parau bakiau asmamu dalam sisiganku/Padih mataku dalam cahaya matamu/Ya Rabbi jangan engkau pajahakan /Lampu bashirah di tanganmu nyalaakan/Wan ma’rifatullah dalam batinku ....
Orang kedua diajak bicara, tetapi tidak menjawab. Harus dipahami dari teks siapa orangnya dan apa hubungannya dengan subjek lirik. Di sini hubungannya Khalik dan makhluk. Jelaslah bahwa tidak ada jawaban dari pihak kedua, dari potongan sajak itu terungkap kerinduannya akan Tuhan yang dia dekati dengan deskripsi yang angkuh, namun penuh harap.
Tema Kalaltu adalah subjek lirik serta perasaan dan pikirannya merupakan pusat sajak. Tidak ada perjalanan waktu seperti halnya dalam sebuah kisah. Meski begitu, sajak juga berisi sejumlah keterangan konkret mengenai dunia yang digambarkan. Seperti pada sajak WTC, Kuala Lumpur segala sesuatu terjadi pada saat sekarang (ketika berada di Kuala Lumpur) dan sebenarnya peristiwa yang paling penting adalah bahwa subjek lirik, karena pengaruh pengalaman ’kini’ yakni perjalanannya ke WTC, Kuala Lumpur membandingkan pada kondisi negerinya sendiri.
Dalam gambaran khayalan subjek lirik, ia juga membangkitkan situasi kontras antara Kuala Lumpur dengan segala fasilitas, kemegahan, dan perlindungan keamanan bagi warga sipilnya dengan kondisi yang jika dibandingkan maka tidak ada apa-apanya (bait kedua dan ketiga). Sajak dibangun berdasarkan perbandingan dua keadaaan. Situasi masa kini, atau situasi di Kuala Lumpur dapat dipandang sebagai penyebab timbulnya gambaran perbandingan. Sejak bait awal hal tersebut sudah digambarkan, kemudian dilukiskan lebih luas dalam bait ketiga.
Konstruksi ini menyebabkan terjadinya kisah perjalanan yang seakan-akan menjadi pokok pembicaraan sajak. Yang mencolok dalam ’kisah perjalanan’ ini adalah pada akhirnya subjek lirik menyadari bahwa kemajuan tekhnologi terkadang juga membawa dampak negatif terutama terhadap budaya masyarakat. Kesan ini tercipta pada kuplet terakhir........Mahancap aku turun kawal bakiaw/Kukiranangapa pina musti/Cis inya manyalaakan mancis/Jaharu manukar mancis nang ada gambar lightplaynya/Urang baanuan
Dalam pembacaan penulis, sajak-sajak Arsyad Indradi hadir sebagai perpaduan antara kemurungan dan pemberontakan. Suasana murung itu menjadi nada dasar yang sendu dari sebagian besar sajak dalam “Kalalatu”. Sementara pemberontakan dideklarasikan dalam bentuk perlawanan terhadap perwujudan yang banyak menghilangkan, bahkan menindas budaya lokal, terutama oleh budaya modern yang kontroversial dan membuat banyak manusia menjadi marjinal. Seperti Sajak “ Kahilangan Banua “....Sakilan kadada lagi tanah hagan bakubur/Mambalas kabaikan wayah dipukung/Banyu didih panyulam susu aruah mama/Diganali banyu laang//Tanah mana baganti rupa/Saalaman ragaibacampur cuka/Wayahini siapa aku siapa ikam/Banua tinggalam Dan pada sajak” Dundang Rista Saribhu Burung “...........Yulan ya lalalin/Hutan baratus tahun/Ditabang habis/Batubara dikikis/Hagan kasugihan tuantuan/Kami disipak/Ka padangpadang pangasingan/Tasingkir ka bukitbukit pamburuan
Penyair merasa miris melihat eksploitasi besar-besaran terhadap kekayaan alam secara tidak bertanggung jawab oleh pihak yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi. Dan pada sajak “Tampulu “ ....Ayuha dahulu/Wayah dipawayah kada balalawasan bataring/Mambulangkir banua/Tatah dipatatah kada balawasan bakuasa/
Mun sudah pajah dalam carita/Jangan bahiyau sanakkulawargaTidak selamanya yang miskin akan terus menderita dan yang kaya tak mesti selalu sejahtera. Begitu pula dengan kekuasaan yang menjadi kebanggaan seseorang atau kelompok, tidak selamanya akan bertahan. Dengan keyakinan bahwa roda kehidupan akan terus berputar, maka yang bisa dilakukan hanyalah pasrah. Segala daya upaya untuk menyatakan protes dan kekesalan terhadap keadaan itu hanya akan sia-sia karena hanya dianggap ’daun luruh’, atau sesuatu yang tidak diperdulikan keberadaannya. “ Daun Luruh “ Daun luruh/Di jalanan/Tajajak talincai urang lalulalang/Jaka hingkat bakuriak lawan siapa maminta tulung/Tapi inya daun/Sahibar daun/Daun
Bagaimana Kalalatu pada penggunaan Bahasa ? Bila dibandingkan dengan teks prosa atau drama, pada puisi cara pengungkapanlah yang jauh lebih penting. Kesepian dalam hening malam, rindu pada Tuhan, bunga yang cantik, semuanya itu pada sendirinya adalah pernyataan yang usang dan klise. Meskipun demikian, para penyair selalu berusaha menyajikan pernyataan yang usang itu dengan cara selalu baru, isi dan ungkapan terjalin erat.
Penggunaan bahasa ditandai oleh adanya kiasan dan berbagai gaya. Memang dapat disimpulkan bahwa pada umumnya dalam puisi, kiasan dan bentuk gaya terdapat jumlah yang lebih besar daripada dalam penggunaan bahasa yang lain. Namun demikian, tidak mutlak itu harus merupakan bagian dari bahasa; ada penyair yang berusaha menjauhkan cara pengungkapan bahasa yang rumit. Hal ini pula yang tergambar dari puisi dalam antologi “Kalalatu” karya Arsyad Indradi.
Pada tataran bahasa puisi, Arsyad Indradi menjadikan puisinya begitu melodius, punya kekuatan ekspresif pada sajak, karena pengaruh pengulangan bunyi. Kita lihat sajak Mambangkit Batan Tarandam : Tarandam batang tarandam/Timbul tinggalam diarus banyu/Hilang jua di mata/Hilang jua di hati/Ingat kada jua diingat//Tarandam lawas tarandam/Tarandam lawas diarus banyu/Bangkitakanlah jua batang tarandam lawas/
Pusaka paninggalan urang bahari//Mambangkit batang tarandam lawas tarandam/Pusaka bahari nang lawas pang tarandam/Tabangkit jua batang tarandam tabangkit/Barakat kita gawi sabumi
Sajak ini menggunakan sederetan kata yang berawal dengan t, “Tarandam batang tarandam/ timbul tinggalam”. Banyak t dalam sajak ini memberi kesan berat yang menunjang makna kedua larik terakhir. Tabangkit jua batang tarandam tabangkit/ barakat kita gawi sabumi. Bukan tidak sengaja penyair memilih “Mambangkit Batang Tarandam” sebagai judul. Kata ’batang tarandam’ muncul berulang sebanyak sembilan kali pada keseluruhan sajak ini. Kenyataan bahwa “Batang Tarandam” ini memiliki makna simbolik serta sifat-sifat yang dihubungkan kepadanya. ’batang’ ini dimanfaatkan untuk mendukung kesan berat. Diperlukan usaha keras untuk bisa membangkit dan mengangkat ’batang’ yang disatukan dengan kata ’tarandam’ membuat eksplisit makna yang ingin disampaikan.
Dalam bahasa puisi selalu terjadi interaksi terus-menerus antara keterikatan dan kebebasan, antara ketentuan dan pembaharuan, antara tata bahasa dan praktik bahasa.
Akan kita lihat bahwa seorang penyair bisa saja membebaskan ikatan antara kata dan apa yang hendak ditandai oleh kata tersebut. Hal ini dilakukan untuk menerobos makna yang lama dan menciptakan makna yang baru. Cara yang ditempuh adalah melalui penggunaan metafor. Metafor tercipta karena sebuah kata yang secara konvensional tak dapat dihubungkan dengan perkataan lainnya, justru dihubungkan untuk melakukan penyimpangan yang disengaja. Sebagai contoh, kata ’pandir’ secara konvensional merupakan atribut untuk menunjukkan yang kita dengar berupa ucapan. Akan tetapi, Arsyad Indradi dalam sebuah sajaknya dengan kreatif menunjukkan bahwa kata ’pandir’ menjadi atribut yang tidak hanya dari apa yang bisa didengar tetapi juga apa yang kita makan/ masukkan. Seperti puisinya Miang : Miang kajijingah/Miang tahayut kulipak paring/Miang tapalit jalatang/Miang takana hulat bulu/Masih kada sabarapa/Tapi mun miang/Tamakan pandir/Bakiruh tipang sabukuan awak
Penyair, berbeda dengan pemakai bahasa lainnya, menghadapi bahasa dan kata-kata tidak pertama-tama sebagai alat yang siap pakai, tetapi sebagai bahan atau material yang masih harus dikerjakan dan diolah.
Penyair membicarakan kegelisahan. Tema yang abstrak ini dikonkretkan dengan kata ’miang’. ’Miang’ yang secara harfiah berarti gatal, digunakan berulang-ulang. Citra yang digunakan untuk ’miang’ ini sangat cocok dalam sajak tersebut, terutama sehubungan dengan tema yang begitu penting bagi sajak, yaitu kondisi dan situasi yang tidak mengenakkan. Dampak pencitraan terutama diperoleh karena perincian keempat pembanding yang memiliki makna serupa (makna sebenarnya, seperti kajijingahan, tahayut kulipak paring, tapalit jalatang, takana hulat bulu). Dengan demikian warna motif yang negatif ditekankan. Akan tetapi, larik berikutnya berbunyi Masih kada sabarapa/Tapi mun miang /Tamakan pandir/Bakiruh tipang sabukuan awak
Larik tersebut memasukkan kata ’tetapi’ membangkitkan suatu penekanan lebih pada larik berikutnya, mun miang/ tamakan pandir/ bakiruh tipang sabukuan awak. Kata ’miang’ disandingkan dengan kata ’tamakan pandir’ (termakan omongan) dua acuan yang sama sekali tidak ada hubungannya secara logis. Akan tetapi kata ’miang’ (gatal) tepat untuk menggambarkan kondisi yang tidak mengenakkan yang jika seseorang mengalami maka akan menyebabkan gelisah dan tidak bisa tidur.
Terlihat di sini bagaimana metafor dipergunakan untuk memainkan pengertian pandir. ’Pandir’ yang berarti kata-kata atau lebih tepatnya omongan, disandingkan dengan kata ’termakan’. Tentu saja ini tidak bisa dimaknai secara harfiah, karena kata-kata bukan sesuatu yang bisa dimakan. Namun, berdasarkan konteksnya, ’tamakan pandir’ atau termakan omongan dapat diterjemahkan. ’Tamakan’ (termakan) menjadi kata singkat yang bisa mengungkap penjelasan panjang. Pemilihan kata ’tamakan’ terkait dengan pengertian bahwa makan memerlukan suatu proses. Menggigit, mengunyah, lalu menelan. Sedangkan kata ’tamakan’ menyatakan perbuatan yang tidak diinginkan, mengandung unsur ketidaksengajaan, tidak melalui proses, atau secara langsung dilakukan. Bahwa omongan atau kata-kata tidak hanya sekedar informasi yang lewat, didengarkan kemudian ditelan. Informasi itu harus diklarifikasi kebenarannya agar tidak hanya menjadi sekedar desas-desus ataupun gosip yang meresahkan.
Struktur kalimat juga mendukung oposisi makna keseluruhan sajak. Mula-mula kita baca pada larik pertama hingga larik keempat ’miang’ menjadi pembuka kalimat. Tekanan pada kata ’miang’ penyair mencoba menunjukkan tekanan perasaan gelisah dengan mengubah penempatan kata ’miang’ di akhir kalimat. Kemudian diakhiri dengan “bakiruh tipang sabukuan awak” . “Tamakan pandir” (termakan omongan) yang menyebabkan desas desus tanpa klarifikasi kebenaran dikatakan jauh lebih tidak mengenakkan.
Kebebasan penyair atau licentia poetica adalah semacam lisensi khusus yang memberikan hak kepada para penyair untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam bahasa untuk memperbarui bahasa. Penyimpangan tersebut dapat dilakukan dalam bunyi bahasa untuk menciptakan efek fonetik bagi irama atau rima yang dikehendaki. Penyimpangan dapat pula dilakukan dalam makna bahasa, khususnya melalui teknik metafor, dimana dua kata dengan makna yang tidak bisa dipertautkan, digabungkan untuk menelurkan makna baru. Usaha pemaknaan baru ini dapat dilakukan juga dengan mengubah status sebuah kata sebagai kata benda menjadi kata kerja, atau kata sifat, dan sebaliknya. Selain itu, penyimpangan dapat dilakukan dengan mengubah bentuk kata, dengan menerapkan cara penulisan yang tidak sesuai dengan ejaan yang baku.
Penyimpangan bentuk kata berupa pemberontakan terhadap ejaan ini juga dilakukan dengan konsisten oleh Arsyad Indradi. Sekalipun secara semantik dan secara fonetik dia tetap konvensional, dalam arti tidak memasukkan bunyi-bunyi atau kata-kata yang tidak dikenal ke dalam sajak-sajaknya.
Ada beberapa penyimpangan yang dilakukannya. Diantaranya adalah menuliskan kata ulang tanpa tanda sambung. Dalam sajak “Di Pancung Lanting” peneliti menemukan bentuk-bentuk seperti: sahamahama, saricihricih, kilirkiliran, taruhuiruhui, ilungilung, dan baapikapik. Penyair juga menggabungkan dua kata yang seharusnya ditulis terpisah. Dalam sajak “Zikir Balarut” dapat ditemui bentuk-bentuk seperti: likatbaburih, manapungtawari, baraskuning, tanahbanyu, duitpacah, dan bauntungbatuah. Dalam sajak “Sarai Sarapun” peneliti menemukan bentuk seperti: sakikihduakikih, dan ampatpuluhsatu, yang semestinya ditulis: sakikih dua kikih, dan ampat puluh satu.
Penyimpangan ejaan yang demikian, tentulah bukan ketidaksengajaan, atau kebetulan. Patut diingat bahwa huruf dan kata-kata tertulis adalah tanda untuk bunyi bahasa. Seorang penyair dapat memilih untuk melakukan manipulasi komponen tersebut.
Dalam sajak “Membangkit Batang Tarandam” tampak bentuknya yakni sajak terbagi menjadi menjadi tiga bait. Dapat dilihat bahwa pembagian ini ada kaitannya dengan kisah dan usaha untuk melestarikan Budaya Banjar atau yang diumpamakan sebagai “Mambangkit batang tarandam”. Prosesnya digambarkan sejak bait pertama hingga yang terakhir. Bait pertama memaparkan bahwa Budaya Banjar telah hampir dilupakan. Bait kedua, timbul semangat untuk menghimbau masyarakat untuk mempertahankan kekayaan peninggalan orang tua terdahulu. Bait terakhir, patut dirayakan karena berkat kerjasama seluruh elemen masyarakat budaya ini tentu bisa dibangkitkan kembali.
Bentuk sajak dalam antologi ini tidak terlalu menonjol. Akan tetapi dapat dikatakan penyair memastikan bahwa jumlah bait atau bentuk paragraf dalam sajak-sajaknya mendukung isi atau makna keseluruhan sajak. Seperti dalam sajak berikut ini
Marasa Maka Tahu : .... Asa ganting paparutan napangai panurihan sunyi/Gatah tiis kada bagatah paluh nang diparah/Napang marasa maka tahu/Batis kulipak tungkulan baambah di padang banta/Marajah pahumaan lawas pang taung/Lawas marajah pagat janji basambung pagat pulang/Marajah di hati napang/Manunjul jukung, jukung tapahalang
Manajak kupiah, kupiah tapahalang/Marasa maka tahu/Kikicaktu wadai gayam mata picak dipatuk hayam//Ari kalayang ari/Cagat mata tunduktingadah/Balangsar mahalimpaur/Sakalinya tahadangi buah bungur
Sajak “Marasa Maka Tahu” hanya terdiri dari dua bait. Bait pertama sebanyak 32 larik yang secara visual lebih panjang jika dibandingkan dengan bait kedua yang hanya 4 baris. Pembagian bait ini juga ada kaitannya untuk mendukung makna atau apa yang diceritakan dalam sajak. Bait yang panjang bercerita tentang penantian panjang seseorang akan perubahan nasibnya yang boleh dikatakan tidak beruntung. Bahkan harapannya agar orang yang kondisinya lebih baik tidak menutup mata akan keadaan itupun sia-sia. Penantian panjangnya itu diakhiri singkat oleh bait kedua puisi terutama larik terakhir sakalinya tahadangi buah bungur merupakan ungkapan yang berarti sesuatu yang percuma saja ditunggu. Salam sastra *****

Banjarbaru, 17 Desember 2008

( Esai ini telah saya angkat dalam bentuk skripsi saya untuk menyelesaikan S 1 FKIP Bahasa Indonesia dan Sastra UNLAM, 2008 )

Kamis, 15 Mei 2008

Matinya Dewan Kesenian Daerah


Oleh : Setia Budhi

Minggu terakhir Januari 2007, secara bertubi-tubi beberapa SMS merajam HP yang datang dari seseorang dengan inisial A.Ind. Beberapa kali pula SMS itu saya balas dan pada akhirnya beliau memperkenalkan diri sebagai Arsyad Indradi yang katanya lagi gundah terhadap berkesenian di kota Banjarbaru.

Tetapi apa yang disampaikan oleh Arsyad Indradi tidaklah semata berkesenian dan khususnya bersastra di Banjarbaru, dunia sastra dan kesenian nampaknya dalam keadaan yang sudah sampai pada titik jenuh, menghawatirkan, payah, parsah, luka, ngilu, pucat tak berdarah, dan menjurus pada sebuah kematian. Dapatkah tudingan kepayahan bersastra ini disampaikan pada Dewan Kesenian Daerah ? Dimanakah ruang pertapaan Dewan Kesenian Daerah ?

Menarik untuk mendiskusikan kegundahan berkesenian dengan fokus kesusastraan. Saya mengontak Ali “julak Asa” Syamsuddin dan Sandi Firly di Radar Banjarmasin, mengenai keluhan dunia sastra ini dan pada awalnya mau mengunci dengan kalimat “kalau tiada berguna bubarkan Dewan Kesenian Daerah”. Tetapi menggunakan “bubarkan” atau “pembubaran” seakan lembaga berkesenian di daerah itu sudah tiada berguna dan tidak dapat diharapkan lagi keberadaannya. Kalau sudah dibubarkan maka itu akan sama maknanya bahwa DKD sudah tidak diperlukan karena sudah mati. Benarkah ?

Dewan Kesenian Daerah, apanya yang mati. Apakah kegiatan ? program ? kelembagaan ? seniman ? kreatifitas ? keuangan ? gedung ? motivasi ? semangat berkesenian ? Penghargaan sastra ? penerbitan buku sastra ? politik sastra ? Ataukah masyarakat sastra ?

Kalau soalnya menyangkut sastra, lalu sastra apanyakah, isi, sejarah, karya, mode, sastra klasik, sastra modern ? Pengajaran sastra, buku sastra ?

Saya kira sudah sejak lama para sastrawan di Kalimantan Selatan memendam kesumat mengenai keterpasungan institusi. Keterpasungan itu bukanlah pada masalah kreativitas bersastra atau berkarya, sebab karya-karya sastra mereka berseleweran baik yang sudah dipublikasikan maupun yang masih tersimpan di bawah tumpukan kertas, meja kerja maupun yang masih berupa coretan di atas daun, di lembar bungkusan rokok. Kegelisahan itu diam-diam mengalir sunyi.

Kalau kegelisahan itu ialah soal kreativitas berkesenian yang bukan dilahirkan karena dukungan sebuah institusi yang bernama Dewan Kesenian Daerah, kalu mau dikemanakan lembaga DKD ini ?

Sastrawan besar tidak pernah akan lahir dari menista dirinya dalam menara Dewan Kesenian, tetapi ia akan menjulang tinggi karena kreativitasnya sendiri. Karya sastra seorang Pramoedya yang mendunia lahir justru dari jeruji penjara dan tekanan rezim penguasa.

Sejarah pun mencatat bahwa sebagian besar sastrawan tiada pernah lahir dari rahim birokrasi dan tiada pernah lahir dari rahim pejabat-pejabat. Sastrawan itu ataupun mereka yang memiliki karya kesenian yang besar akan lahir dari petualangan menggarap dunia, menggarap epos sosial, kemiskinan, ketertindasan, penguasa korup. Seharusnyakah sastra berpihak kepada penguasa ataukah berpihak pada ibu kandungnya sendiri yang mernama masyarakat.

Wahai, berhentilah sejenak mengunyah permen kisah cinta-cinta mistik, sebab kenapa tiada yang pernah memihak kepada racun kekuasaan yang membunuh anak-anak busung lapar, tiada yang berpihak para petani miskin dan tak ada yang peduli terhadap kerentaan hidup peminta-minta di bawah kemewahan konsumerisme. Kemewahan anggota legislatif dengan gaji dan rapelan harian dan bulanan yang menggelembung dari uang rakyat. Pun tiada yang suka dengan kemerosotan moral yang melanda tiada batas usia dan agama.

Fokus masalahnya adalah bagaimana mengharapkan produksi sastra dari sebuah duplikasi proyek kesenian dan kebudayaan di antara Dewan Kesenian kerja Dinas Pariwisata.

Dunia kesenian kemudian terguncang hebat manakala kepedulian terhadap sastra ataupun kesenian lahir hanya ketika ada sebuah “upacara” mau digelar, sekali lagi sastra baru ada ketika sebuah upacara mau diadakan. Kita lalu sibuk mematut diri, sibuk mematut jadwal dan sibuk mengatur konsumsi “dalam rangka” menyambut upacara tahun baru. Upacara Tujuh Belasan, upacara Muharram, upacara hari pendidikan, upacara Mlam Seribu Malam dan yang lain-lainnya.

Kabarnya Aruh Sastra pun telah masukdalam isu-isu politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah-Pilkada ? Tetapi apakah ini akan lebih baik dari pada tiada sama sekali ? Tetapi ya, akan lebih baik kalau berkesenian tidak dalam belenggu kegelisahan ? Kenapa mereka peduli kalau ada maunya ? Demi uang, kekuasaan atau kah proyek.

Gedung Dewan Kesenian Daerah tiba-tiba menjaedi ramai, orang-orang mulai berdatangan dan orang-orang yang tadinya tak dikenal lalu memperkenalkan diri sebagai seniman dan sibuk berjabat tangan sebagai sebuah tanda kepedulian, mengisi absen dan seterusnya. Tetapi alangkah terkejutnya ketika upacara selesai, orang-orang kembali pulang dan tak menampakkan muka bahkan membuang muka seperti tak kenal, seperti tak terjadi apa-apa pada upacara yang baru digelar itu.

Baru sekali menulis puisi, kemudian memproklamirkan diri sebagai sastrawan besar. Baru dua kali menulis cerpen, lalu menyatakan diri cerpenis besar. Sayangnya pada sebuah kabar angin, ada orang yang yang tak pernah menulis puisi tiba-tiba lancar membuat antologi puisi. Ya, tak ada sebab menulis puisi bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Tetapi kalau beberapa sajak yang ditulis orang lain lalu diakui sebagai karya sendiri. Ngiiing … telinga ini tiba-tiba mendenging.

Gedung Kesenian Daerah yang entah menempati ruang olah raga milik pemerintah daerah atau punya gedung sendiri kembali diam membisu. Aktivitas DKD seperti menemui kematiannya, kalau hanya bergantung kepada seseorang. Kasihan betul kalau nasib berkesenian menggantungkan diri pada seseorang yang “ kuncang kirap” mencari tambahan biaya untuk berkesenian ataupun kegiatan sastra.

Selama ini saya seperti termakan oleh bayang-bayang kegiatan DKD yang penuh dalam aktivitas satu tahun bahkan aktivitas bulanan dan harian. DKD dalam bayangan saya sebagai sebuah “rumah produksi kesenian”. DKD dalam benak saya adalah Rumah Budi Bahasa yang akan mengajar bahasa-bahasa manusia yang tiada berbudi budaya. Siapakah yang mengajarkan kata-kata kotor kepada anak-anak atau media masa di lembaran kriminal yang mengumbar kalimat-kalimat “Pangkung”,”Timpas”,”Bantai” ,”Leher dikampak””,”Tangan dicencang”,”Mulut ditombak”. Dan kata-kata “mutiara” itu dengan enteng digunakan pula oleh anak-anak yang sudah makan sekolahan sekalipun. Rupa-rupanya manusia sudah tak mengenal keindahan bahasa. Padahal budi bahasa budaya kita. Dapatkah hal itu dibenarkan ?

Dalam satu tahun orang-orang di Gedung DKD akan menghasilkan lusinan karya sastra seperti puisi, cerpen dan novel. Dalam setahun Gedung DKD akan memproduksi jutaan bait syair, puisi dan pantun. Dalan setahun Gedung DKD akan mencetak minimal dua belas buah Jurnal sastra karena Jurnal sastra itu terbit tiap bulan.Dalam setahun Gedung DKD akan melahirkan tarian-tarian, teater, musik-musik, lakon sandiwara dan pentas seni Dalam satu tahun DKD akan emproduksi film sejara, drama pendek atau sinetron.

Di Gedung DKD kita dapat menyaksikan pemutaran film, bermain drama dan menulis sastra. Di Gedung DKD kita dapat berdialog, diskusi dan membagi mengalaman batin kesenian dan membangun gerakan rakyat untuk menentang pengumbaran kata-kata kotor dan jorok di ruang kriminal karena hawatir meracuni budi bahasa anak-anak kita dikemudian hari.

Di Gedung DKD kita boleh membangun gerakan rakyat untuk jiwa anti korupsi, karena korupsi penyebab kemiskinan.

Karena dalam setahun Gedung DKD itu penuh kegiatan, maka di sanalah akan dilahirkan seniman besar, penulis besar dan sastrawan besar. Tetapi apakah sastrawan besar itu dilahirkan atau dibentuk oleh lingkungan yang membesarkannya ? Sudahlah, yang penting berkarya.

Suatu hari menjelang petang, saya silaturrahmi ke rumah Arsyad Indradi. Di rumah sederhana itu rupanya beliau sedang mempersiapkan antologi puisi dan kumpulan penyair Nusantara. Betapa terkaget-kaget melihat tumpukan kertas, tinta printer dan buku-buku sastra berantakan di ruang tamu beliau. Dalam pikir saya, apakah ini kantor DKD atau rumah tinggal ?

Seorang Arsyad Indradi benar-benar aneh, antologi puisi dan kumpulan puisi Nusantara itu rupanya diproduksi sendiri, antologi itu cetak sendiri dengan kertas beli sendiri dan tinta printer beli sendiri. Dan semua karya itu mau disebarluaskan sendiri. Dimanakah keluarbiasaan seniman ini ? Berkarya dalam kesunyian.

Mungkin beliau mengatakan dalam hati “jauhi sponsor, sebab karya sastra tak pantas disandingkan dengan logo produk semen “. Mungkin beliau percaya karya puisi sangat mustahil disandingkan dengan produk jamu. Sepatutnyakah kita bersedih bahwa antologi puisi kita dibiayai oleh bapak-bapak di bengkel pembuat gypsum. Bapak-bapak di bengkel sepeda motor yang tiap hari bersimbah keringat, berlumur oli dan genderang mesin rusak, lalu pada pemilik bengkel itulah kita meminta sponsor untuk membiayai cetak karya sastra.

Pemilik bengkel tersenyumkecut, sambil mengurut dada mulutnya kumat-kamit “Syukurlah aku masih hidup sebagai tukang bengkel dan sungguh mati aku tak mau jadi sastrawan.”

Maka janganlah kau samakan semangat bersastra pemilik bengkel sepeda motor yang berlumur oli atau sang penjual Gypsum dengan kiprah lembaga semacam DKD. Kau akan pernah sampai pada sejarah pendirian DKD yang dibengkokkan oleh rezim kecuali pada akhirnya hanya sebait kata-kata penuh penyesalan.

Gedung DKD terus menyimpan misteri kematian, tersebab ketika upacara mau digelar darah berkesenian mengalir dari tubuhnya. Sesudah itu, kematian akan menimpanya lagi dan lagi. Tetapi katanya, bahwa ketika upacara pun mau digelar, itu bukanlah sebuah ritual kesenian tetapi bagian dari kerja dinas-dinas kebudayaan. Apakah seniman adalah pekerja proyek ? Biarkan kalian diskusi terus sampai lupa berkarya, mungkin begitulah kata Syamsiar Seman, sebab karya-karyanya terus lahir dari penanya.

Walau aku tertikam belati, karyaku lahir dari diriku sendiri, selamat tinggal kotaku, kata Arsyad Indradi menutup SMS-nya. Dua orang itu sedang Amuk dengan karya sastra, cerita rakyat, puisi dan antologi. O, Amuk Kapak, kata Sutardji. Demikianlah.***

Kuala Lumpr, 25 Januari 2007

*) Penulis Kumpulan Cerpen Gadis Dayak 2006

( Radar Banjarmasin, Cakrawala Sastra & Budaya, Minggu 28 Januari 2007 )

Sabtu, 03 Mei 2008

Buku Arsyad


Dunia kepenyairan punya banyak ‘orang gila’. Salah satunya, Arsyad Indradi Salah satu kegilaan penyair senior Banjarbaru, Kalimantan Selatan, ini adalah rela menjual tanahnya untuk membiayai penerbitan buku antologi puisi. “ Dia sampai harus menjual tanahnya untuk buku itu, “ kata penyair Banjarmasin, Micky Hidayat.
Antologi puisi yang dibiayai Arsyad dengan sebidang tanahnya itu memang bukan buku sembarangan. Buku bertajuk 142 Penyair Menuju Bulan yang diterbitkan melalui Kelompok Studi Sastra Banjarbaru ( KSSB ) yang didirikannya itu berisi 426 puisi karya 142 penyair Nusantara sejak yang baru muncul sampai yang paling senior. Termasuk, sajak – sajak presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri.
Di tengah tebaran ratusan buku antologi sajak di Tanah Air, kehadiran buku 142 Penyair Menuju Bulan itu tentu menjadi sangat penting, karena merangkum hampir semua penyair Indonesia dari semua generasi. Buku tersebut tidak hanya telah mendokumentasikan karya – karya mereka untuk diabadikan, tetapi juga untuk dapat menjadi rujukan penting penulisan sejarah perkembangan perpuisian di Nusantara. Karena itu, pengorbanan dan dedikasi Arsyad (semoga) tidaklah sia – sia.
Selain Arsyad, dunia kepenyairan Indonesia banyak memiliki penyair yang sering menunjukkan pengorbanan dan dedikasi yang luar biasa pada sastra Indonesia. Di Mataram, NTB, misalnya, ada penyair senior Dinullah Rayes, yang sering harus menjual kudanya untuk biaya kegiatan sastra dan mengikuti acara di luar kota. Luar biasanya, meskipun rumahnya belum lama ini ludes terbakar, Dinullah masih saja dengan penuh semangat menghadiri acara – acara sastra di Jawa secara swadaya.

***

Jika inti kepahlawanan adalah kerelaan berkorban untuk bangsanya, maka Arsyad Indradi dan Dinullah Rayes adalah pahlawan sastra. Keduanya rela mengorbankan apa saja untuk ikut memajukan kesastraan bangsanya, tanpa peduli waktu, jarak, dan usia. Apa lagi sekadar berkorban harta, mereka akan rela – rela saja.
Karena itulah, ketika menjadi pembicara pada The Ist International Poetry Gathering di Medan tahun lalu, saya sempat mengusulkan agar pemerintah dapat memberikan penghargaan khusus untuk penyair – penyair seperti Arsyad dan Dinullah. Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film, Mukhlis Pa’Eni, yang saat itu tampil sebagai keynote speaker, menyambut baik ide tersebut. Namun, realisasinya memang masih harus kita tunggu.

***

Sejak tradisi penulisan puisi tumbuh subur di Indonesia, sejak akhir dasawarsa 1980-an, khasanah sastra Indonesia sudah disemaraki buku – buku antologi puisi ( bersama ) dan kumpulan puisi ( tunggal ) yang diterbitkan secara swadaya, sejak edisi stensilan sampai cetak mewah.
Buku – buku semacam itu makin marak saja ketika kantong – kantong dan komunitas – komunitas sastra bertumbuhan di Tanah Air, sejak awal dasawarsa 1990-an. Tiap kantong dan komunitas sastra seakan berlomba –lomba menerbitkan buku antologi puisi secara swadaya, baik secara patungan maupun atas bantuan sejumlah donatur. Tidak kurang pula jumlah penyair yang menerbitkan karya – karya sendiri dengan biaya sendiri.
Jika dihitung secara cermat, jumlah buku semacam itu mungkin sudah mencapai ribuan. Pada periode antara 1992 sampai 1994 ( dua tahun ) saya pernah mencoba mengumpulkan buku – buku puisi swadaya semacam itu untuk bahan kajian. Tapi, karena jumlahnya membludak, saya kewalahan. Akhirnya, banyak yang terpaksa saya relakan untuk pemulung, dibawa siapa saja yang tertarik, dan sisanya hanya teronggok bisu di dalam sejumlah kardus.
Sebenarnya sangat menarik untuk meneliti dan mengkaji sajak – sajak yang terkumpul dalam buku – buku swadaya semacam itu. Saya yakin, di dalamnya tersimpan kanon – kanon yang potensial untuk menjadi tonggak perkembangan perpuisian Indonesia. Tetapi, memang dibutuhkan kerja berat yang pasti sangat melelahkan.
Mungkin karena itu, hingga kini belum ada peneliti maupun akademisi sastra yang mengkaji sajak – sajak dalam buku – buku puisi swadaya itu secara sungguh – sungguhdan komprehensif. Ada yang sempat membicarakan kesemarakan buku – buku puisi itu, memang, semisal Budi Darma. Tetapi, mungkin karena hanya berdasar pembacaan sepintas dan kurang menyeluruh, hasil analisisnya kurang memuaskan.

***

Di dunia penerbitan komersial, buku kumpulan sajak mendapat stigma sebagai buku yang tidak laku. Karena itu, buku kumpulan sajak dari penerbit komersial jumlahnya sangat terbatas. Karena itu pula, justru buku – buku antologi dan kumpulan puisi swadayalah yang sebenarnya lebih mewakili realitas perkembangan perpuisian Indonesia.
Namun, sayangnya, buku – buku puisi swadaya justru cendrung terlewat dari perhatian pengamat, akademisi, dan lembaga pemberi penghargaan sastra. Karena itu, sejarah perpuisian Indonesia yang disusun oleh akademisi sastra bisa jadi hanya ‘ sejarah semu ‘. Sebab, fakta sejarah yang paling mendekati kebenaran justru tersimpan dalam buku – buku puisi swadaya yang terlewat dari perhatian para penyusun sejarah sastra kita. *


( Ahmadun Yosi Herfanda )

Dari : Harian Republika, minggu, 24 Februari 2008 dan http://www.republika.co.id